Mengikuti Pesan Ibu

Dia teman sekelas saya waktu SMA, sebut saja namanya Anton. Baru-baru ini saya bertemu dengannya karena dia ingin membuang uang untuk mentraktir saya makan siang. Sambil makan siang, kita mengobrol, seperti biasa adat saya kalau ketemu teman lama, saya lebih banyak diam. Diam saya bukan karena bergaya berempati, tapi karena memang tidak ada yang bisa saya bicarakan, semuanya lenyap tertelan gemerlap suksesnya teman-teman saya sekarang. Kembali ke si Anton, sambil makan, dia bercerita tentang “perjalanan bisnis”-nya. Continue reading

Posted in Cerita | Tagged , | Leave a comment

Dongeng, Fabel, dan Hoax

Anak saya suka bercerita, dia juga suka mendengar cerita. Kalau giliran istri yang ditodong bercerita, istri saya yang Sholihah itu tidak pernah kehabisan bahan cerita dari kisah-kisah nabi dan rasul maupun sahabat yang dulu sering diceritakan oleh guru ngaji dan para kyai. Kalau giliran saya tiba, saya akan membongkar memori untuk menceritakan kisah kisah ala RA Kosasih, Dongeng Hans Cristian Andersen, Dongeng Perault, Fabel Aesop, dan cerita-cerita lain yang pernah saya baca atau dengar. Setiap mendengarnya bertanya dengan antusias dan kemudian menceritakan kembali kisah yang baru dia dengar itu ke orang lain, rasanya hati ini sejuk sekali πŸ˜€
Continue reading

Posted in Celoteh | Tagged | Leave a comment

Naga Menelan Matahari

image

Matahari dan Awan

Kepercayaan kuno mengatakan bahwa gerhana matahari terjadi karena ada naga yang menelan matahari. Kurang lebih ilustrasinya mungkin sama dengan foto di atas, anda bisa lihat moncong sang naga sudah “menelan” sang matahari. Pendapat seperti itu memang tidak salah, sama seperti tidak salahnya orang menebak-nebak bayangan apakah yang ada di bulan purnama. Ini semua sebenarnya cuma masalah sudut pandang. Continue reading

Posted in Celoteh | Leave a comment

Tidak Selalu Sia-sia

image

Pinggir Jalan

Sambil nongkrong menunggu laki-laki yang akan membebaskan saya dari tepian jalan ini, teringat akan pengalaman dulu waktu juga sedang menunggu di pinggir jalan. Kalau Rika Akana menunggu Kanji Nagao yang tak kunjung datang di pinggir jalan sampai tengah malam karena dihadang Sekiguchi di apartemennya, saya malah menunggu sampai subuh dan senasib, yang ditunggu tidak kunjung datang.
Continue reading

Posted in Celoteh | Leave a comment

Belajar Adil dari Anak

image

Mainan Angry Bird

Beberapa waktu yang lalu beliin mainan seperti gambar di atas buat krucil. Begitu sampai di rumah dia langsung bekerja dengan penuh semangat untuk merakit potongan potongan Angry Bird yang ada. Karena petunjuk merakitnya mudah dipahami, tidak seruwet petunjuk pemakaian aplikasi yang tidak jelas kegunaannya, maka tidak sampai satu jam dia sudah tertawa puas melihat hasil kerjanya. Kemudian dia menunjukkan hasilnya ke saya dan mulai bertanya tanya, dari sini saya justru belajar dari dia.
Continue reading

Posted in Celoteh | Tagged , | Leave a comment

Menempatkan Mindset Pada Tempatnya

Mindset adalah istilah kerennya, ada yang menyebutnya pola pikir, tapi saya lebih suka menyebutnya SINA (Sistem, Nilai, dan Asumsi).  Dia adalah seperangkat alat sholat dibayar tunai jargon, nilai-nilai, satu set sikap jika begini harusnya begitu dan seterusnya. Namun untuk menghormati bahasa langit ala kekinian, biarlah kita tetap menyebutnya mindset, seterusnya akan saya tulis tidak cetak miring karena melelahkan :D. Mindset ini juga memiliki posisi, kalau ditempatkan di tempat yang salah justru akan mengacau permainan. Bayangkan apa yang terjadi kalau dalam permainan bola seorang bek ditaruh di posisi striker dan sebaliknya, itu hanya akan berhasil kalau main winning eleven memakai tim brazil saja (iya, anda, yang hobi pake Roberto Carlos jadi striker :p ).
Continue reading

Posted in Celoteh | Tagged | 2 Comments

Aku, Kau, dan Kue Gandum (3)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dariΒ post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini πŸ˜€

“Sudah lama kerja di sana?”, tanyaku. “Baru 2 tahun,” jawabnya. Dan pembicaraan kami mulai mengalir, hanya disela abang es campur yang mengantarkan pesanan kami. Aku lebih banyak bertanya tentang dia, toh memang tidak banyak dari diriku yang bisa kuceritakan. Tidak terasa hari makin gelap, es campur kami juga sudah lama habis. “Kayaknya kita harus pulang dulu deh,” kataku sambil melirik jam tangan. “Sudah jam 18.05, aku belum sholat maghrib,” sambungku sambil nyengir. “Oh maaf, aku lagi gak sholat soalnya, lupa,” dia menyahut dengan tersenyum lebar.
Continue reading

Posted in Cerita | Tagged , | 4 Comments

Menggunakan Inner Join, Left Join, dan Right Join

Disclaimer, ini posting dari, oleh dan untuk nubi, jadi mohon jangan dikomentari β€œbaru tahu ta?” Atau sejenisnya.Β πŸ˜€

Query, yang pernah berurusan sama database mulai SQLite sampai Oracle tentu paham dengan istilah ini. Dia adalah salah satu pilar dalam mengolah sebuah database. Selain query paling dasar seperti sesederhana

SELECT * FROM tabelgue

Ada juga query agak dasar yang menggunakan fasilitas JOIN. Terdiri dari LEFT JOIN, INNER JOIN, dan RIGHT JOIN. Meskipun terlihat sederhana, pengaplikasiannya yang ngeri-ngeri sedap bisa sangat membantu dalam mengolah database.
Continue reading

Posted in Komputer | Tagged , , | 2 Comments

Aku, Kau, dan Kue Gandum (2)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini πŸ˜€

“Maaf Bu, sebelah sini hanya untuk yang bayar tunai,” Kata Tika pada seorang ibu-ibu yang berbelanja cukup banyak di depannya. “Masa gak bisa sih mbak, kan tinggal gesek ke sebelah saja,” omelnya. Dia menunjuk ke papan petunjuk yang tergantung di atas kasirnya, “Maaf Bu, ini lorong cepat, khusus untuk yang bayar tunai dan tidak pakai troli. Kalau mau, ibu bisa antri di kasir sebelah.” Ibu-ibu tersebut mengomel dan akhirnya tidak jadi belanja kemudian ngeloyor pergi begitu saja. Tika tampak menghela nafas, “Mas Dennn,” panggilnya, “tolong ini, batal.” Kuperhatikan wajahnya, dia tidak terlihat sedih meskipun diomeli Ibu-ibu tadi, mungkin memang orangnya dasarnya ramah.

Continue reading

Posted in Cerita | Tagged , | 2 Comments

Aku, Kau, dan Kue Gandum (1)

Disclaimer: kisah ini fiktif belaka, kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya imajinasi anda saja πŸ˜€

Disclaimer 2: sebagian besar dialog adalah dialog suroboyoan yang sudah diterjemahkan secara serampangan πŸ˜€

“Selamat malam, ada tambahan apa lagi?”, suara ramah kasir itu memecah lamunanku. Orang di depanku yang belanja segudang rupanya sudah selesai. Kuserahkan kue kering gandum favoritku, membayar, dan beranjak pulang, tidak sebanding dengan antri yang begitu lama. “Terima kasih, datang kembali”, ujar kasir bernama Rina itu. Meskipun itu playback standar, karena diucapkan dengan senyum yang (semoga) tulus, tetap terdengar renyah di telinga. Naik ke jok motor, nyalakan mesin, dan pritttttt, tiba-tiba ada jukir yang datang mendekat. Dengan gondok aku bayar juga itu parkir, waktu datang tadi ke mana aja ini orang, giliran pergi enak aja prat prit prat prit.
Continue reading

Posted in Cerita | Tagged , | 1 Comment