Theseus, Manusia Athena

Orang Yunani memang mirip dengan orang Indonesia dalam satu hal, mereka seringkali memiliki sebuah cerita epic tentang asal muasal suatu nama atau daerah. Sebut saja Helespontus, Pelopponesus, dan Laut Aegea. Ya, laut Aegea, konon nama itu diambil dari Aegeus sang raja Athena, ayah dari Theseus sang pahlawan. Namun agak berbeda dari pahlawan lain di angkatannya, kisah Theseus ini punya cukup banyak sisi lain yang dapat kita petik hikmahnya.

Theseus, adalah putra Aegeus, raja Athena. Namun ada juga yang menyebutnya sebagai putra Poseidon (Neptune) sang penguasa laut. Dia adalah bagian dari generasi pahlawan Yunani, generasi ke-empat dari konsep lima generasi umat manusia di sana. Generasi pahlawan sendiri memiliki banyak angkatan, Theseus sendiri adalah teman satu angkatan (meskipun beda usia) Hercules, Telamon, Idas, Laertes dari Ithaca, Jason, dkk. Dia merupakan senior dari angkatan Odysseus (putra Laertes), Achilles, Diomedes, Ajax (putra Telamon), dkk. Dia dibesarkan jauh dari Athena, dan ketika sudah cukup umur, dia melakukan perjalanan ke timur menuju Athena. Perjalanan ini menandai awal karirnya sebagai Pahlawan.

Awal karirnya dimulai dengan mulus, dia berhasil membersihkan jalanan sepanjang Troezen menuju Athena dari bandit-bandit terkenal yang meresahkan masyarakat. Berbekal pedang yang pernah diberikan ayahnya pada ibunya dulu, tidak ada kesulitan berarti baginya untuk meyakinkan ayahnya tentang jati dirinya. Tanpa melalui proses pemilihan dan pengajuan sengketa, Segera dia dilantik menjadi putra mahkota.

Keberhasilan yang menjadi puncak karirnya sekaligus melambungkan namanya adalah membunuh Minotaur, si manusia kepala banteng penghuni labirin milik Minos, putra Zeus, sang raja Kreta. Bagi pahlawan sekaliber Theseus, membunuh Minotaur bukanlah hal yang sesulit mendesain sebuah masterplan. Namun untuk keluar dari labirin yang sangat menyesatkan seperti senyummu manisku tersebut adalah sebuah tantangan yang terlalu berat, bahkan bagi sang pahlawan. Untunglah dia mendapat bantuan cara untuk keluar dari sana dari Daedalus, sang konsultan arsitek dari labirin tersebut dengan perantara Ariadne, putri Minos sendiri yang telah tersesat ke dalam hati sang pangeran Athena.

Singkat cerita Theseus dan rombongannya pulang ke Athena. Daedalus yang ketahuan membantu Theseus akhirnya dihukum dijebloskan ke dalam labirin rancangannya sendiri. Ariadne? Sayang sekali cintanya tak sempat terbalas, dia ditinggalkan sendirian di sebuah pulau oleh Theseus, konon atas perintah Dionysus, sang dewa anggur dan kegembiraan yang juga jatuh cinta pada sang putri. Usia yang masih muda, sebuah sense of accomplishment yang tinggi, dan larut oleh pujian sesaat membuat Theseus muda lengah. Kelengahan yang harus dibayar dengan nyawa ayahnya.

Sebelum berangkat, mereka sudah bersepakat, apabila misi berhasil, mereka akan mengembangkan layar putih. Sebaliknya bila gagal, mereka akan tetap memakai layar hitam yang sama dengan waktu berangkat. Dan bisa ditebak, mereka lupa mengganti layar. Aegeus yang melihat kapal tersebut datang dari puncak tebing seketika hancur hatinya. Tak sanggup lagi menahan kegalauan hati, dia terjun ke laut dan menemui ajalnya, dari sanalah konon nama laut Aegea berasal. Dan Theseus, dengan hati yang tidak kalah hancur, naik tahta menggantikan sang ayah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Theseus tidak berhenti sampai di sana. Dia juga telah menuntaskan sejumlah program kepahlawanan lain. Meskipun diperdebatkan, ada yang mengisahkan dia bergabung dengan Jason sebagai Argonot dalam misi menjemput bulu domba emas di Colchis yang saat itu dipimpin oleh raja Aetes, putra Helios, sang Dewa Matahari, misi yang dilakoninya bersama Castor dan Pollux yang kelak menjadi musuhnya. Theseus juga mengikuti misi Hercules ke Amazon dalam mencari sabuk Hippolyta, sang ratu amazon, atas perintah Eristeus raja Mikena sebagai tugas ke-9 dari 12 tugas besarnya. Misinya ke Amazon membuatnya berhasil menawan Antiope, adik Hippolyta, yang kemudian balas menawan hatinya dan menjadi ratu Athena. Layak diingat pula Pertarungannya dengan Perithous, raja kaum Lampit, yang berubah menjadi persahabatan dan berujung sumpah setia untuk saling membantu mencari istri, sumpah yang kelak membawanya menuju kehancuran.

Kebahagiannya dengan Antiope tidak berlangsung lama. Tak lama setelah buah cintanya Hippolytus lahir, Antiope harus gugur di medan perang di tangan saudara-saudaranya sendiri dari Amazon. Pasukan wanita tersebut menyerang Athena untuk membebaskan Antiope yang mereka kira ditawan dan diperbudak sebagaimana layaknya tahanan di masa itu. Alih-alih duduk diam dan main perintah layaknya Ratu, darah Ares dalam tubuhnya justru memanggilnya ke medan perang di sisi suaminya layaknya seorang Ratu dalam permainan catur. Balutan pakaian perang membuatnya begitu gagah sehingga saudara-saudaranya tidak mengenalinya dan justru menganggapnya sebagai panglima musuh yang harus dihabisi, dan demikianlah yang terjadi.

Sepeninggalan Antiope, Theseus menikah kembali dengan Phaedra putri Minos, yang kemudian juga menjadi malapetaka. Phaedra jatuh cinta pada Hippolytus, anak tirinya sendiri, dan tentu saja cintanya bertepuk sebelah tangan. Penuh dendam, dia menghasut suaminya sehingga keluarlah kutukan yang menyebabkan darah dagingnya itu meninggal. Apa lacur, penyesalannya kemudian setelah mengetahui kebenaran sudah tidak berguna. Anaknya telah tewas, istrinya pun gantung diri karena malu, kembalilah dia tenggelam dalam kesedihan.

Seolah nasib belum cukup bermain dengannya, dia kembali dirasuki pikiran yang membawanya tenggelam lebih jauh dalam kemalangan. Dia datang pada Perithous dan menagih janji mereka dulu untuk saling membantu mencari istri. Gadis yang menjadi pilihannya adalah Helen, putri Tyndareus, raja Sparta, yang juga dikenal sebagai putri Zeus. Wanita yang disebut paling cantik di dunia itu masih lepas remaja, jauh lebih pantas menjadi anak bahkan cucunya. Tanpa banyak cingcong Perithous menyetujui, merekapun menculik Helen dari Sparta.

Tiba giliran Perithous menagih janjinya. Dia ternyata jauh lebih liar imajinasinya. Perithous ingin mengawini Persephone, ratu Dunia Bawah, Istri Hades. Terikat sumpah dan hutang budi, Theseus melakukan hal yang sama dengan Resi Bhisma dan Karna, dia menyanggupi. Hades, tentu saja tidak tinggal diam, mereka pun terjebak di dunia bawah tanah akibat kelancangan tersebut. Untunglah Hercules kemudian datang membebaskan Theseus dalam misi terakhirnya yaitu mengambil Cerberus.

Kembali ke Athena, situasi makin runyam. Castor dan Pollux, yang marah mengetahui adik mereka diculik, datang dengan pasukan Sparta untuk membebaskan adik mereka ketika Theseus sedang berada di dunia bawah tanah. Tanpa sang raja, Athena tidak memberi banyak perlawanan. Setelah membebaskan Helen, mereka mengangkat raja baru di Athena. Sang pahlawan, bukan saja kehilangan tahtanya, namun juga hati rakyatnya, akhirnya dia pergi hidup menyendiri. Seolah hukuman itu belum cukup, dia kemudian menemui ajalnya setelah dibunuh secara licik oleh Lycomedes karena sengketa tanah. Dia baru mendapatkan penghormatan yang semestinya setelah Cimon dari Athena menemukan makamnya dan membawanya kembali ke Athena.

Kisah Theseus memang penuh suka duka dan hikmah untuk diteladani maupun dihindari. Tidak seperti Hercules yang tanpa cela dan happy ending, kisahnya justru bisa dibilang tragis. Namun itulah yang membuatnya lebih tampak seperti manusia. Seorang pahlawan besar pun bisa terpeleset karena hal-hal yang sepele. Pelajaran berharga juga untuk jangan membuat janji sebelum memikirkan baik-baik akibatnya. Dan pilihlah pasangan hidup anda baik-baik :p

Advertisements
This entry was posted in Cerita and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s