
“Brak,” Tenes menutup pintu ruang rapat sambil berjalan menuju kursinya. Di sana sudah menunggu sejumlah tokoh penting di Tenesagakure menunggu kehadirannya. Tampak hadir Lumina, Penasehat Kesejahteraan Umat duduk berbincang santai dengan Mirtani, Ketua Dewan Pencacah Kota (Wancakot). Di seberang mereka berdua duduk Hilfar, kepala Badan Perencanaan dan Penganggaran (Baperan) bersama Joneler, ketua Komisi Publikasi dan Komunikasi (Komplikasi). Di sisi lain duduk berjejer Galatea, Direktur Perusahaan Listrik (Pelik), Kafka, Ketua Asosiasi Pengusaha Muda (Apesmu), Raestlin, Kepala Badan Teknologi Siber (Banter), Mistra, Kepala Badan Sertifikasi, Regulasi, dan Standarisasi (Beresi), dan Gojoru, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Kepegawaian (Dikekep). “Okeee, semua sudah berkumpul kan? Mari kita mulai rapatnya,” Tenes memulai dan membuat perhatian semua orang fokus ke arahnya. Dia melanjutkan, “Jadi rapat ini, sesuai permintaan Lumina, adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang keresahan masyarakat soal desil mendesil.”
Continue reading







