
Tenes, walikota Tenesagakure, negara kota berpenduduk 1 juta jiwa dan 250 ribu Keluarga, sedang rapat bersama Lumina, penasehat kesejahteraan umat, dan Figaro, Koordinator Serikat Kepala Desa. “Langsung saja Lum, Gar, saya ini kan jarang buka medsos ya, kemarin sekalinya saya buka kok warga kita pada ribut bahas desil-desilan, itu barang apa toh?” Tenes memulai sambil menghisap coklat batangannya. Lumina, yang merasakan tajamnya lirikan Tenes ke arahnya langsung memperbaiki posisi duduknya. “Sebentar Pak, perlu diperjelas dulu, Bapak ingin penjelasan soal yang mananya dulu, karena perdebatan yang ramai sekarang itu kalau saya lihat sebagian besarnya berdebat untuk sesuatu yang tidak ada.” “Maksudnya gimana Lum?” “Ya coba saja dilihat, mereka itu banyak yang ribut membahas tabel yang beredar luas yang konon Bapak terbitkan bahwa desil mereka dikelompokkan berdasarkan berapa penghasilan mereka dan mereka digolongkan menjadi sangat miskin sampai super kaya,” urai Lumina sambil memainkan rambut birunya.
Continue reading







