Fiber Optik: Sebuah Pengantar

Ilustrasi Kabel Fiber Optic

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang dengan sangat pesat. Sejak ditemukannya ethernet hampir 50 tahun yang lalu, kini jaringan komputer sudah menjadi bagian utama dari pemanfaatan TIK. 2 Aliran besar untuk koneksi jaringan menggunakan kabel saat ini masih terpecah menjadi kubu ethernet over copper (Kabel Tembaga) dan Fiber Optik (FO), tentunya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya sama-sama dapat menjangkau jarak yang jauh, instalasinya cukup mudah, dan menjawab kebutuhan untuk koneksi menggunakan kabel twisted pair yang hanya terbatas dalam hitungan ratusan meter. Dari segi kemudahan instalasi, kabel tembaga tentunya unggul karena relatif lebih mudah handling-nya dibanding kabel FO. Meskipun lebih sulit instalasinya, kabel FO unggul dalam kelebaran data berbanding dimensi fisiknya (bisa sampai 100 Gbps tergantung perangkat pendukung yang digunakan) sehingga tidak sedikit jasa koneksi internet maupun jaringan lokal yang menggunakan teknologi ini.

Kabel Fiber Optik, seperti namanya, merupakan sekumpulan serat berbahan kaca atau plastik yang menggunakan cahaya sebagai media lalu lintas datanya. Serat-serat ini, yang disebut core, berukuran sangat kecil seperti sehelai rambut, dan umumnya masing-masing atau sekumpulan jumlah tertentu dibungkus dalam satu tube. Dalam sebuah kabel, umumnya tube dan core diberi warna tertentu yang juga menjadi penanda urutan. Yang umum digunakan adalah urutan warna Biru, Oranye, Hijau, Coklat, Abu-abu, Putih, Merah, Hitam, Kuning, Ungu (Violet), Merah Muda (Pink), dan Toska. Dalam 1 kabel berdiameter 24 milimeter bisa menampung mulai 12 sampai dengan 288 core.

Contoh kabel FO yang belum diterminasi dalam Joint Closure

Penggunaan cahaya sebagai media dan serat optik yang begitu kecil merupakan faktor utama mengapa handling kabel FO menuntut kehati-hatian kalau tidak mau repot belakangan. Serat ini begitu rapuh, apabila mendapatkan tekanan atau ditekuk melebihi radius tertentu dia bisa patah atau kualitas sinyal yang dikirimkan menurun. Kondisi tertekuk melebihi batas ini umumnya disebut bending. Produsen-produsen kabel FO umumnya sudah menyertakan batas bending radius terhadap kabel mereka dalam katalognya. Kondisi ini perlu dihindari, karena proses penyambungan akibat kabel bending atau putus (menggunakan Joint Closure) tidak sesederhana menyambung kabel listrik biasa, baik dari segi biaya maupun tenaga dan waktu.

Tidak cukup dengan menggelar, agar dapat digunakan untuk media jaringan intranet maupun internet masih ada beberapa proses lain yang harus dilakukan. Yang pertama adalah melakukan terminasi, yaitu menyambungkan ujung  serat yang hendak digunakan dengan konektor agar dapat dihubungkan dengan perangkat lain. Proses menyambungkan serat dengan konektor ini tidak mudah untuk dilakukan sendiri. Bagi yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, di pasaran juga tersedia konektor yang sudah dibuat secara pabrikan yang tersambung dengan satu serat optik yang biasa disebut pigtail.

Pigtail Single Mode dengan konektor tipe SC

Serat-serat dari kabel FO yang telah disambung dengan konektor/pigtail ini kemudian harus diamankan. Tidak mungkin 24 atau 96 bahkan 288 sambungan dibiarkan menggantung dari atap rumah atau menempel di tembok karena risiko kerusakannya sangat besar disamping nilai estetikanya yang minus. Demi melindungi hasil terminasi dan mendongkrak nilai estetika inilah umumnya kabel dan pigtail disambungkan di dalam sebuah wadah. Wadah ini bermacam-macam tergantung ukuran dan kebutuhan instalasinya, bisa menggunakan Optical Distribution Pole (ODP), Optical Termination Box (OTB), Optical Distribution Cabinet (ODC), dan lain-lain. Wadah ini kemudian bisa diletakkan dalam box panel, wallmount, atau diklem ke tiang sesuai kebutuhan dan selera estetika masing-masing.

Setelah proses instalasi dan terminasi selesai, tibalah saatnya menghubungkan perangkat dengan konektor yang telah tersedia. Cara kerjanya cukup sederhana, yang perlu secara awam dipahami adalah terdapat dua aliran data/sinyal, Tx (Transmission/transmisi) dan Rx (Receive/menerima). Perangkat jaringan (Switch/Router) yang terhubung dengan konektor ini harus memiliki kemampuan untuk dapat mengolah sinyal optik tersebut. Apabila perangkat tidak memiliki kemampuan secara langsung untuk mengolah sinyal tersebut (misalnya tidak terdapat port sesuai dengan konektor FO yang ada) maka diperlukan perantara. Perantara ini bermacam-macam, bisa berupa converter (yang juga bermacam-maca tipenya), Small Form factor Pluggable (SFP), atau lainnya.

Secara umum demikianlah hal-hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan dalam membangun sebuah koneksi menggunakan FO serta piranti-piranti lain yang dibutuhkan selain kabel. Untuk menggelar sebuah jaringan FO minimalis, secara umum yang dibutuhkan adalah kabel/serat optik, konektor, dan perangkat jaringan dan perangkat perantara jika dibutuhkan. Sekali lagi, secara umum, sedangkan untuk lebih detil tentang bagaimana sebetulnya suka duka dan tantangan dalam menggelar kabel FO, kabel jenis apa yang digunakan, bagaimana tips dan trik dalam terminasi, topologi perangkat, dan yang terutama adalah perlukah sebenarnya menggelar kabel FO dibanding menggunakan alternatif koneksi lain akan dibahas pada pembahasan lain.

This entry was posted in Komputer, TIK/IT and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s