
Suatu hari di Madgar, mendadak Rafus Shanro, Wakil Direktur Utama Shanro mengadakan rapat direksi. Hampir seluruh tokoh penting perusahaan pembangkit listrik yang menguasai Madgar tersebut hadir, bahkan orang-orang yang hanya namanya yang pernah diketahui publik Seperti Lojo sang Direktur Riset, Metekker pemimpin Divisi Keamanan Publik, sampai Taseti si otak di balik rencana-rencana strategis Shanro. “Ayahku meminta kita semua berkumpul untuk sebuah agenda penting, yaitu pengintegrasian sistem kita”, sambut Rafus membuka rapat tersebut. Sontak seluruh direksi saling berpandangan mata mendengar kabar gembira tersebut, bukan karena kulit manggis kini ada ekstraknya, tetapi lebih terpancar aura kebingungan di antara mereka. Masing-masing dari mereka ternyata memiliki alasan kenapa mereka enggan bahkan cenderung takut melaksanakan integrasi tersebut.
Continue reading

