Pengalaman Sebagai Guru Terbaik

Pengalaman adalah guru yang paling baik

Kalimat di atas sudah menjadi petuah bijak yang diberikan turun temurun. Artinya jelas, bahwa sebaik baik cara belajar adalah dengan langsung mengalaminya. Kita bisa bertahun tahun belajar teori tentang suatu hal, dan kemudian kalah dengan sukses di tangan orang yang baru beberapa bulan menjalaninya.

Continue reading
Posted in Uncategorized | Tagged ,

Antara Risiko dan Mahalnya Kejujuran

Ucapan Duka Cita

Sumber Gambar di Sini

Di tengah situasi pandemi atau perang, kabar duka mungkin bukan sesuatu yang asing lagi. Mulai orang di belahan dunia lain sampai yang begitu dekat dengan kita, bahkan mungkin diri kita sendiri, sama-sama bisa mengalaminya. Namun membaca berita ini tetap saja membuat ada rasa gimanaaaaaa gitu. “Kematian akibat orang lain tidak jujur” terdengar begitu menyedihkan. Jauh lebih menyedihkan lagi ketika korban tersebut adalah orang yang ada di sekitar kita atau bahkan kita kenal. Salah dua hal yang perlu diperhatikan dari kejadian ini adalah Masalah Risiko Pekerjaan dan masalah Kejujuran.

Continue reading

Posted in Celoteh | Tagged , | 2 Comments

Fokus, Godaan Memang Mahal

Hidup itu tidak mahal, Yang Mahal Gaya Hidup.

-Nasehat bijak yang bisa ditemui di banyak tempat dari banyak orang-

Kalimat di atas akan sering kita temui baik di media sosial maupun keluar dari mulut berbagai macam orang. Meskipun begitu, kenapa masih banyak yang tidak percaya? Kenapa masih banyak yang menuruti “gaya hidup” dan akhirnya berujung masalah finansial? Salah satunya karena jangkauan gaya hidup itu sendiri begitu luas sehingga terkadang sulit dibedakan.

Continue reading

Posted in Celoteh, sehari-hari | Leave a comment

Selera Humor dan Ruang Publik

“Heran, kenapa selera humor kita makin lama makin menipis ya?”
“Ya enggak, emang kayak gitu gak pantes dibuat guyonan!”

Itu cuma sepotong dialog dengan seseorang tadi siang. Tanpa perlu mengelaborazi konteks yang kami bahas, pada akhirnya Saya menyadari bahwa selalu ada pilihan ke-tiga, yaitu kami berdua sama-sama salah. Kami sama sekali tidak memahami hakikat struktur maupun syarat sahnya sebuah guyonan.

Continue reading
Posted in Celoteh, Uncategorized | Tagged

Kalau Sekolah Cuma Main-main Keluar Saja?

Seperti dulu sekali pernah saya tulis, kriteria memilih sekolah salah satunya adalah tujuan dari bersekolah itu sendiri. Tujuan ini juga terpecah menjadi dua, tujuan dari orangtua memasukkan anaknya ke sekolah, dan tujuan dari sang anak sendiri saat hendak melakukan ritual penyematan lambang OSIS di dadanya. Syukurlah jika tujuan kedua pihak ini sama, namun jika berbeda juga tidak masalah asalkan bisa saling memahami. Bagaimana jika tujuan dari bersekolah ini hanya main-main?

Continue reading
Posted in Celoteh, sehari-hari | Tagged | Leave a comment

Juru Cicip dan Penasihat Raja

Dalam suatu perjalanan rombongan raja dari antah berantah, tersebutlah sesosok juru cicip makanan kerajaan yang sedang berkontemplasi. Mulutnya bergumam sambil memandang sosok sang penasehat raja di atas tandunya. “Huh, enak sekali penasihat raja itu, kenapa dia mendapat perlakuan yang istimewa, padahal kita semua kan sama-sama abdi raja. Pekerjaanku juga tidak kalah penting dengannya, bayangkan saja kalau aku lalai atau berniat buruk, tentu raja akan tewas”. Entah karena terlalu konsentrasi atau terlalu menghayati, gumamannya tersebut terdengar ke telinga sang raja.

Continue reading

Posted in Celoteh, Cerita | Tagged , | Leave a comment

5 Tahunan di Samsat Manyar Makin Joss

Suatu pagi saya mendapat pesan singkat melalui SMS (hari gini masih SMS :D), setelah dibuka ternyata isinya mengingatkan bahwa STNK kendaraan saya sudah berakhir. Kalau pengirimnya memang dari SAMSAT/DIRLANTAS/Dispenda Jatim maka ini suatu kemajuan luar biasa dari 5 tahun yang lalu saat saya terakhir mengurus Penul 5 Tahunan. Tidak hanya kemajuan berupa pesan SMS atau adanya gerai roti baru, ternyata proses secara keseluruhan juga menjadi jauh lebih mudah dan cepat.

Continue reading

Posted in Celoteh, sehari-hari | Tagged , , , | 2 Comments

Meresize Banyak File Sekaligus Dengan Imagemagick

Disclaimer: Ini post dari, oleh, dan untuk Nubi, jadi mohon jangan dikomentari dengan “gitu aja gak tahu”, “baru tahu ta?”, dan sejenisnya 😀

Seringkali dalam bekerja atau menyalurkan hasrat hobby kita dihadapkan pada situasi yang membutuhkan untuk meng-upload atau mengunggah file maupun gambar (foto). Kalau hanya satu atau dua gambar mungkin tidak masalah, tapi kalau sudah melibatkan puluhan bahkan ratusan gambar, foto yang terlalu bagus seringkali menjadi masalah.

Foto yang bagus dari kamera bagus umumnya berukuran besar. Mengunggah foto ukuran besar menuntut adanya kecepatan transfer rate (umumnya disalah kaprahi sebagai bandwidth) yang besar.  Masalah ke-dua adalah situs/server tempat mengunggah terkadang juga memberikan syarat ukuran  maksimum file/foto yang dapat diunggah. Kedua masalah tersebut seringkali Saya alami sehingga cukup membuat jengkel. Salah satu solusi untuk mengatasi hal ini adalah melakukan resize pada foto yang akan diunggah. Bila foto yang akan diunggah banyak, melakukan resize satu-per-satu adalah cara yang sangat menjengkelkan. Agar tidak perlu melakukan resize satu-persatu, salah satu opsi yang bisa diambil adalah menggunakan Imagemagick.

Continue reading

Posted in Gadget, Komputer, sehari-hari | Tagged , , , , | Leave a comment

Selamat Jalan Kum

Alm Kumara

Sebaik baik pengingat adalah kematian, dan kali ini datang dari seorang teman. Baru 3 atau 4 hari yang lalu saya makan pecel di seberang rumahnya, sekarang dia sudah tiada. Dan ini adalah Eulogi saya untukmu.

Tidak seperti orang yang ketika ada seorang tokoh meninggal lalu mendadak berubah bicara seolah-olah menjadi orang terdekatnya, saya katakan terus terang bahwa saya sama sekali tidak dekat dengan beliau, bahkan saya mungkin bagian dari segelintir orang yang tidak terlalu suka padanya.

Sependek ingatan saya, sepak terjangnya sudah dimulai sejak SMP dimana dia menjadi ketua OSIS di sana, kemudian ketika SMA dia kembali berada di jajaran pengurus OSIS juga. Namun bukan itu yang membawa saya kenal dengannya, kami berinteraksi, bergumul, bermandi keringat bersama lewat media yang jauh lebih sederhana yaitu bola plastik. Dari obrolan di sela dan sebelum sesudah bermain bola itulah saya lebih mengenalnya, sesekali dia juga mengajak saya untuk berpartisipasi jadi panitia acara di sekolah, aktivitas yang tidak saya sukai dan pernah membentuk prasangka saya pada orang-orang sejenis.

Terakhir kali bekerjasama dengannya adalah sewaktu LDKS, setelah itu selama kuliah praktis kami tidak pernah berinteraksi kecuali saat ada momen-momen reuni kecil-kecilan yang tidak hingar bingar. Selama mengenal beliau di masa mudanya, kesan jujur saya, memang dia suka sekali ngobrol dan berdiskusi, hal inilah yang mungkin bagi orang yang tidak paham kemudian menjadi kesan seperti “banyak omong”, tapi saya yakin, itu hanyalah prasangka karena kinerjanya sangat sebanding dengan bicaranya.

Setelah sekian lama dan sama-sama bekerja, ternyata garis nasib masih mempertemukan kita, sepak terjangnya sebagai seorang dosen di bidang kreativitas diabdikan untuk membantu sebagian masyarakat di Kota tempat kami tumbuh melalui kerjasamanya dengan beberapa lembaga pemerintah. Dia juga sangat aktif di grup alumni untuk menyampaikan dan mengumpulkan informasi dan berusaha sesering mungkin mencari alasan untuk “reuni”. Interaksi terakhir dengannya adalah lewat telepon malam malam beberapa bulan yang lalu saat ada teman kantor yang membutuhkan bantuan, tanpa ragu langsung saya rekomendasikan namanya.

Mungkin itu saja, kalau mau ditulis semua bakal habis duluan batere henpon saya sebelum selesai, yang jelas saya bersaksi bahwa kamu adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarmu dan luar sekitarmu, dalam agama saya ini adalah salah satu kategori sebaik baik manusia. Semoga semua amalmu menjadi pencerah yang melapangkan kuburmu dan menghapus dosamu, selamat jalan duluan Kawan, doaku menyertaimu beserta doa sekian banyak orang yang telah merasakan manfaat kehidupan dan kehadiranmu. Au Revoir Kumara Sadana Putra

Posted in Celoteh | 2 Comments

Aku, Kau, dan Kue Gandum (5)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini 😀

“Arif, tolong selesaikan surat ini dulu, jangan pulang sebelum selesai,” perintah bosku. Celaka, pikirku, aku sudah berencana pulang cepat untuk menemui Rina karena dia masuk shift pagi. Harapan tinggal harapan, indikator keberhasilanku menemui Rina ternyata tidak mengikuti kaidah SMART, alias tidak attainable. Benar saja, sampai di supermarket dia tidak ada. Kucari siapa tahu dia masih di ruang karyawan di lantai dua juga tidak ada. Ah kenapa surat satu lembar itu bisa menggagalkan satu rencana yang besar? Tapi itulah dinamika sebuah perencanaan.

Continue reading

Posted in Cerita | Tagged , | Leave a comment