Aku, Kau, dan Kue Gandum (5)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini đŸ˜€

“Arif, tolong selesaikan surat ini dulu, jangan pulang sebelum selesai,” perintah bosku. Celaka, pikirku, aku sudah berencana pulang cepat untuk menemui Rina karena dia masuk shift pagi. Harapan tinggal harapan, indikator keberhasilanku menemui Rina ternyata tidak mengikuti kaidah SMART, alias tidak attainable. Benar saja, sampai di supermarket dia tidak ada. Kucari siapa tahu dia masih di ruang karyawan di lantai dua juga tidak ada. Ah kenapa surat satu lembar itu bisa menggagalkan satu rencana yang besar? Tapi itulah dinamika sebuah perencanaan.

Sebelum membayar parkir, karena tidak mau rugi, aku menyeberang ke es campur. Di sana ada Lisa juga sedang minum es sendirian. Tidak ambil pusing, aku duduk saja di hadapannya. “Di sini kosong kan?” tanyaku cuek sembari duduk. Di luar dugaan, dia mengangguk tersenyum, pertama kalinya aku melihatnya, seperti melihat bunga tulip hitam yang mekar. “Kamu dari toko ya?” tanyanya. Aku mengangguk. “Nyari Rina ya?” Aku mengangguk lagi. “Dia sudah pulang, baru saja dijemput.” “Dijemput siapa?” tanyaku tiba-tiba. Lisa seperti tersadar sesuatu. “Eh enggak, dijemput tetangganya,” jawabnya buru-buru. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu, tapi sudahlah, aku tak bisa memaksanya bicara, hidupnya tak memerlukan satu tambahan paksaan lagi.

“Mas, boleh tanya?” rupanya si judes yang tersenyum ini agak suka bercengkerama juga. “Kamu sama Rina pacaran?” Aku menggeleng, gelengan yang sangat berat. Dia tersenyum lagi. “Kenapa memangnya?” Dia balas menggeleng, “Gak papa, tanya aja.” “Kamu belum pernah main ke rumahnya ya?” Aku menggeleng lagi, dia tersenyum lagi, aku sudah kehabisan alasan untuk tidak curiga. “Kenapa sih emangnya?” “Ya, nanti kan kamu bakal tahu sendiri. Sudah ya, aku pulang duluan,” pungkasnya. Dan dia dengan santainya meninggalkanku yang masih dihantui keserbatidakpastian.

“Kamu kapan libur manisku?”, kukirim pesan itu malam harinya. “Apaan sih manisku manisku, jangan aneh-aneh deh.” “Iya iya, maaf, kamu kapan libur?” “Jumat” jawabnya singkat, aduh, kelihatannya dia marah. Sesaat aku bimbang apakah harus melanjutkan pembicaraan ini. Tapi persetanlah, kalau dia sudah tidak mau menjawab ya sudahlah, aku teruskan saja. “Abis jumatan ketemu di es campur ya?”. “Mau ngapain?”. “Ya makan es campur lah, sambil ngobrol”. “Oke”, jawaban terakhirnya cukup memuaskan.

Es campur belum habis separuh ketika Rina terlihat menyeberang jalan ke arahku. Kugelar pemungutan suara di jiwaku, haruskah aku marah atau bersikap biasa saja, berbagai metode quick count berputar di otakku, sampai hasil hitung akhir diputuskan tanpa sengketa, aku tidak akan memilih marah. “Hai mani…” Sapaku sambil tersenyum tapi tidak kuselesaikan karena kulihat Rina sudah ambil posisi mencubit. Diamku membuatnya membatalkan cubitannya dan makhluk manis ini kemudian duduk di hadapanku.

“Sudah lama mas?”, tanyanya. “Belum kok, ini es campurnya aja masih separuh”. “Bukan porsi ke-tiga kan itu?” Lega hatiku mendengar dia masih punya selera humor, memang secanggih canggihnya sms tetap tak tertandingkan oleh bertemu langsung. Setelah basa-basi sejenak aku melompat ke menu utama. “Senin depan kamu shift pagi ndak?” “Kenapa memangnya?” “Kemarin temen kantor mbagiin tiket buat acara pensi sekolah anaknya di gedung Go Skate, bintang tamunya lumayan, aku udah ngerayu rayu akhirnya dapat dua tiket, kamu mau ikut kan?”. Raut wajahnya datar, “Senin depan aku training 4 hari di Salatiga”. “Yaaaaaah, sudah susah payah dapetin 2 tiket”, protesku.

“Ajak Tika aja Mas, dia kan suka musik”, sergahnya. “Ya dia pasti mau sih, dia kan hobinya cuma dua, kalau gak makan ya musik, tapi aku kan pinginnya ngajak kamu” “Kamu sepertinya tahu banyak tentang Tika mas”, nadanya tetap datar, tapi matanya seperti membongkar mataku lapis demi lapis. Aduh, salah lagi, kenapa aku tidak pernah bisa menata kata-kata dengan baik sebelum bicara. “Ya sudah Mas, sudah sore, aku pulang dulu ya”, pamitnya. Dia kemudian berdiri, membayar es campurnya, dan berjalan ke arah toko, kali ini tanpa menoleh dan mengucapkan terima kasih.

This entry was posted in Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s