Menempatkan Mindset Pada Tempatnya

Mindset adalah istilah kerennya, ada yang menyebutnya pola pikir, tapi saya lebih suka menyebutnya SINA (Sistem, Nilai, dan Asumsi).  Dia adalah seperangkat alat sholat dibayar tunai jargon, nilai-nilai, satu set sikap jika begini harusnya begitu dan seterusnya. Namun untuk menghormati bahasa langit ala kekinian, biarlah kita tetap menyebutnya mindset, seterusnya akan saya tulis tidak cetak miring karena melelahkan :D. Mindset ini juga memiliki posisi, kalau ditempatkan di tempat yang salah justru akan mengacau permainan. Bayangkan apa yang terjadi kalau dalam permainan bola seorang bek ditaruh di posisi striker dan sebaliknya, itu hanya akan berhasil kalau main winning eleven memakai tim brazil saja (iya, anda, yang hobi pake Roberto Carlos jadi striker :p ).

Mindset ini penting, karena mindset ini akan menentukan sikap kita terhadap maupun dalam melakukan sesuatu. Misalnya:

1. Dalam pertandingan, suporter tuan rumah memiliki mindset “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” sementara tim tamu justru menganut “wajib menjamu tamu”. Bisa ditebak hasilnya, ya bakal ribut. Seandainya kedua mindset itu ditukar posisinya, mungkin mereka akan damai damai saja.

2. Sebagian Anak-anak muda yang kurang menghormati orang tua (bukan orangtua) karena menganut prinsip “orang dilihat kemampuannya, bukan usianya”, sebaliknya justru ada sebagian orang-orang tua yang memperbodoh diri di depan anak-anak muda karena menjunjung tinggi prinsip “orang tua harus dihormati”.

3. Bawahan yang menganut prinsip “pimpinan harus mengayomi bawahan” dengan pimpinan yang memiliki mindset “pimpinan harus dihormati” jelas akan sering berkonflik, padahal hal ini bisa dihindari dengan mudah kalau saja mindset mereka tidak tertukar.

Dari contoh-contoh di atas bisa terlihat pentingnya menata mindset pada tempatnya. Tuan rumah yang ingin memuliakan tamu dengan tamu yang ingin menghormati tuan runah tentunya akan jauh lebih damai daripada tuan rumah yang ingin dihormati dengan tamu yang ingin dimuliakan :D. Sesederhana itu? Iya. Semudah itu? Memang tidak :D.

Untuk bisa meletakkan mindset pada tempatnya, tentu kita harus terlebih dahulu mengetahui posisi kita. Kalau sulit melakukannya sendiri, tidak ada salahnya minta tolong orang lain yang tepat untuk menunjukkan pada kita. Setelah mengetahui posisi, saatnya menyapa mr. Ego, terkadang perlu sebuah leap of faith dan kerendahan hati untuk mau menerima posisi kita sebagaimana adanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kalau hanya satu pihak yang mindsetnya tertukar dan kebetulan itu adalah orang yang kita hadapi? Anda sebagai pimpinan merasa sudah mengayomi bawahan tapi mereka masih ngelunjak saja? Atau kasus lain?. Yang pertama perlu dilakukan adalah ulangi paragraf persis di atas dan pastikan semuanya sudah benar dan anda sudah jujur pada diri sendiri.

Kalau itu sudah dilakukan, baru kita bisa mulai mengevaluasi orang lain apakah mindsetnya sudah sesuai dengan posisinya. Tidak ada yang salah, dalam berpikir kita memang bisa bebas, beda lagi kalau bertindak, total freedom only bring total chaos :D. Tapi tentang bagaimana tindakan yang harus diambil, tentunya tidak akan saya bahas di sini, saya hanya ingin menyampaikan pentingnya memiliki mindset yang benar, ini masalah intrapersonal, saya bukan mau membahas masalah interpersonal :D.

Advertisements
This entry was posted in Celoteh and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s