Dongeng, Fabel, dan Hoax

Anak saya suka bercerita, dia juga suka mendengar cerita. Kalau giliran istri yang ditodong bercerita, istri saya yang Sholihah itu tidak pernah kehabisan bahan cerita dari kisah-kisah nabi dan rasul maupun sahabat yang dulu sering diceritakan oleh guru ngaji dan para kyai. Kalau giliran saya tiba, saya akan membongkar memori untuk menceritakan kisah kisah ala RA Kosasih, Dongeng Hans Cristian Andersen, Dongeng Perault, Fabel Aesop, dan cerita-cerita lain yang pernah saya baca atau dengar. Setiap mendengarnya bertanya dengan antusias dan kemudian menceritakan kembali kisah yang baru dia dengar itu ke orang lain, rasanya hati ini sejuk sekali 😀

Sesungguhnya saya selalu meyakini shahihnya nasehat bahwa mendongeng kepada anak akan sangat membantu proses perkembangannya. Selain mengajari dan memperkaya vocabulary perbendaharaan katanya, banyak pula hikmah yang bisa kita ambil dan ajarkan dari sana. Namun sayangnya, kini banyak yang justru menodai nikmatnya mendongeng ini dengan membuka aliran baru bernama aliran Hoax. Daripada mengarang cerita dan mengakuinya sebagai karangan, sebagian orang lebih suka menulis sesuatu seolah-olah itu nyata dan ilmiah padahal bukan alias hoax, perilaku yang menyesatkan.

Lantas apa bedanya hoax dengan dongeng atau fabel? Kan sama-sama hasil rekaan? Memang di dunia ini banyak hal yang kalau dilihat dari permukaan terlihat mirip padahal bagi yang memahami secara substansi sangat berbeda. Contohnya Rugby dan American Football, softball dengan kasti dan baseball, orang berteman baik dengan orang pacaran, Jurusan Teknik Informatika dengan Sistem Informasi, dan masih banyak lagi. Sama seperti hoax dengan dongeng atau fabel, kalau hanya berpijak pada statusnya sebagai hasil karangan atau setengah karangan memang sama saja, tetapi substansi dan akibat yang ditimbulkan pada penikmat (pendengar atau pembaca) jelas berbeda.

Ini sebenarnya trik komunikasi kuno, bahwa orang umumnya akan lebih fokus pada yang pertama didengar daripada yang belakangan. Ini sebabnya sebagian orang akan lebih mudah bersimpati kepada wanita yang baik meskipun pembohong daripada kepada wanita pembohong meskipun baik. Pernah mengikuti presentasi program atau promosi produk? Biasanya tentu yang dipaparkan di awal-awal adalah kelebihan dan keuntungan, kerugian biasanya tidak disampaikan kalau tidak ditanya, atau disampaikan tapi belakangan dengan nada yang tidak sebersemangat saat menyampaikan kelebihannya. Namun bagi mereka yang mengerti cara berkomunikasi, mereka tentunya tidak akan terjebak trik semacam ini dan tetap berusaha memahami isi sebuah pesan secara menyeluruh.

Dongeng dan Fabel, sedari awal sudah diakui sebagai sebuah hasil rekaan atau karangan. Pengakuan ini membuat penikmatnya lebih bisa fokus menikmati cerita ataupun hikmah di dalamnya. Mereka juga tidak akan menerapkan hikmah yang didapat dengan sembarangan karena tahu bahwa pijakannya adalah sebuah karangan atau impian. Seperti pada dongeng cinderella misalnya, orang akan lebih mudah menerima hikmah pentingnya bersabar dan tentunya tidak akan berharap akan kemunculan ibu peri karena tahu kalau itu hanya dongeng. Seperti halnya orang bermain super mario bros akan tahu kalau memakan bunga tidak akan membuatmu bisa menembakkan bola api :D.

Cerita tersebut akan lain ceritanya kalau labelnya bukan dongeng melainkan “kisah nyata” atau “berdasarkan kisah nyata”. Apalagi kalau penulisannya dibuat seolah olah ilmiah. Misalnya cerita tentang seorang anak yang drop out kuliah kemudian menjadi sukses atau tentang anak sekolah yang sering bolos, tidak ikut les, cuma bermain-main selama di sekolah tetapi lulus ujian masuk PTN ke jurusan yang favorit atau bahkan cerita wanita yang tidak terkena masalah prostat karena kencingnya sambil jongkok :p. Karena dianggap sebagai kisah nyata, orang akan mendengarkan dengan semangat “ini nyata, aku juga bisa”. Pola pikir ini bagus, tapi akan berbahaya kalau kisahnya tidak utuh atau ada bagian yang sengaja dikurangi. Orang awam bisa terjebak untuk lebih menangkap bagian “tidak apa apa drop out, tetap bisa sukses” dan “tidak apa sekolah cuma main-main, tetap bisa lulus ujian masuk PTN” daripada bagian usaha dan kerja kerasnya yang tidak diberi porsi cukup banyak dalam cerita. Atau bahwa si anak sekolah ini rupanya kalau malam hari di rumah selalu belajar tapi sengaja tidak diceritakan :p. Dan lebih berbahayanya lagi kalau seperti awal tulisan ini, objek penikmatnya adalah anak-anak, bayangkan saja akibatnya hehehe :D.

Saya akui, memang banyak hoax yang diawali dengan pengantar “true story” atau sejenisnya yang memang hikmahnya sangat bagus. Tapi menyebarkan kebaikan dengan kebohongan itu………. Ya tetap berbohong namanya. Kenapa sih harus malu-malu mengakui kalau cerita kita itu hanya rekaan saja, toh kalau memang niatnya berbagi kebaikan, InsyaAllah tetap akan tersampaikan meskipun gelarnya bukan “kisah nyata”. Ingatlah bahwa Cerita Khayal yang sukses dengan kisah nyata maupun yang diakui sebagai kisah nyata yang sukses menempati rak best seller yang sama, harganya juga tidak jauh beda, tetapi substansi kejujurannya jelas berbeda :D.

Advertisements
This entry was posted in Celoteh and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s