Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini 😀
“Arif, tolong selesaikan surat ini dulu, jangan pulang sebelum selesai,” perintah bosku. Celaka, pikirku, aku sudah berencana pulang cepat untuk menemui Rina karena dia masuk shift pagi. Harapan tinggal harapan, indikator keberhasilanku menemui Rina ternyata tidak mengikuti kaidah SMART, alias tidak attainable. Benar saja, sampai di supermarket dia tidak ada. Kucari siapa tahu dia masih di ruang karyawan di lantai dua juga tidak ada. Ah kenapa surat satu lembar itu bisa menggagalkan satu rencana yang besar? Tapi itulah dinamika sebuah perencanaan.

