Transportasi Umum Surabaya, Serius?

Suroboyo Bus

Surabaya, Ibukota Provinsi Jawa Timur, adalah kota terbesar di Indonesia (karena DKI Jakarta itu provinsi, bukan kota). Sebagai kota terbesar, banyak sekali keunggulan dari Kota Pahlawan tersebut. Namun di balik semua keunggulan tersebut, salah satu kritik yang sering dialamatkan adalah ketiadaan transportasi massal yang memadai. Sebenarnya transportasi umum di Surabaya bukan tidak pernah dipikirkan, Pemerintah Kota Surabaya sudah pernah menggagas rencana pembangunan monorel, trem, sampai BRT (Bus) sejak lama namun selalu ada kendala yang membuatnya kandas di tengah jalan.

Baru pada tahun 2018, milestone besar pertama dimulai oleh Walikota Tri Rismaharini ketika beliau meluncurkan Suroboyo Bus. Awalnya bus ini hanya tersedia dalam jumlah armada yang terbatas dan melayani rute yang sangat terbatas pula. Untuk menaikinya tidak dikenakan biaya namun harus menukarkan botol plastik sebagai pengganti biaya. Alhasil, pada tahap awal bus ini lebih terasa seperti bus wisata daripada transportasi sungguhan yang bisa diandalkan. Masyarakat lebih sering menaikinya di hari-hari libur bersama keluarga untuk merasakan pengalaman naik busnya dibanding benar-benar menggunakannya untuk transportasi sehari-hari. Ketiadaan feeder atau kendaraan penumpang yang memadai juga menjadi alasan kenapa orang enggan mengandalkan moda transportasi ini. Armada angkot eksisting (lyn) juga semakin dirasa tidak nyaman karena armadanya sudah lanjut usia dan pelayanannya juga tidak terjamin.Kini, setelah 8 tahun berlalu, situasi itu sudah berubah. Perlahan tapi pasti Surabaya mulai menapak dan melangkah menuju penyediaan transportasi umum yang bisa diandalkan. Armada Suroboyo Bus semakin bertambah, rute juga semakin banyak.

Untuk jalur utama bus sudah melayani koridor dengan tujuan ke ujung utara (Pelabuhan Tj Perak), selatan (Terminal Bungurasih), timur (Kampus ITS), dan barat (Benowo). Feeder Wara Wiri juga sudah disediakan dengan melayani rute-rute sekunder dengan sejumlah titik untuk transit dan berganti moda baik pindah koridor maupun pindah ke bus. Salah satu kelebihannya dibanding transportasi umum di Jakarta atau Singapura misalnya, adalah keberadaan petugas di dalam setiap armada yang akan membantu proses pembayarannya. Alih-alih melakukan tap kartu secara mandiri, penumpang cukup naik, duduk manis (atau berdiri) dan petugas yang akan mendatangi untuk proses pembayaran baik menggunakan uang elektronik ataupun QRIS.

Memang, di usia yang belum ada 1 dekade, jangan berharap halte-haltenya seperti halte Transjakarta misalnya yang dilengkapi gerbang otomatis sebagai single access ke dalam bis yang pintunya tinggi (high deck). Penataan yang lebih detil seperti itu tentunya membutuhkan investasi tersendiri, di mana untuk Surabaya investasi tersebut lebih baik diarahkan untuk menambah jumlah armada. Transjakarta juga tidak seluruhnya menggunakan gerbang otomatis, masih ada rute-rute yang tidak menggunakan gerbang otomatis dan menggunakan bus dengan pintu rendah (low deck) sehingga hal ini tidak menjadi persoalan, di sebagian bus lusr negeri pun sama saja. Perbedaan lain adalah tidak seperti angkot di Jakarta atau sejumlah negara lain, Suroboyo Bus ini hanya menggunakan satu kali tap kartu karena saat ini tarifnya masih flat (sama), tidak ada tap in dan tap out. Memang tidak penting-penting amat sih, tapi sebetulnya sistem dua kali tap itu bisa digunakan untuk mengumpulkan data asal dan tujuan (origin-destination) yang bisa digunakan untuk evaluasi dan pengembangan. Saat ini, penumpang yang naik akan langsung ditanya oleh petugas sebelum membayar tentang halte tujuannya, mungkin data itu dikumpulkan dari sana, namun ini akan sedikit memakan waktu bagi penumpang yang bukan orang asli Surabaya karena mereka kurang tahu juga halte tujuannya dan butuh dijelaskan.

Secara singkat, berikut hal-hal yang sudah sangat baik dari transportasi umum Surabaya, dan hal-hal yang bisa dibuat lebih baik lagi:

Pembatasan Kapasitas

Yang sudah baik:

  • Waktu tunggu (headway) untuk bus cukup singkat, dari titik keberangkatan waktu tunggunya hanya 10 menit, kalau dari tengah jalan kira kira antara 15-30 menit.
  • Ada pembatasan kapasitas duduk dan berdiri, namun konsistensi penerapannya kira-kira akan bagaimana jika animo penggunanya sudah semakin meningkat
  • Ada petugas yang melayani baik dalam bus maupun Wara Wiri
  • Sistem pembayaran fleksibel, bisa menggunakan QRIS maupun kartu uang elektronik
  • Pembayaran bisa dilakukan untuk banyak orang sekaligus, ini sangat berguna kalau pergi satu keluarga sehingga tidak perlu memiliki banyak-banyak kartu, berbeda dengan Bus di Singapura atau Kereta Komuter.

Yang masih bisa lebih baik:

  • Armada, khususnya Wara Wiri bisa lebih ditingkatkan, berbanding terbalik dengan Bus, waktu tunggu Wara Wiri yang merupakan feeder justru jauh lebih lama daripada waktu tunggu bus.
  • Belum ada koridor yang menghubungkan langsung antara timur dan barat, misalnya dari ITS ke Gelora Bung Tomo.
  • Tidak ada daftar rute dan/atau jadwal yang up to date dan bisa diakses dengan mudah, pengguna harus mengunduh aplikasi di playstore dan registrasi untuk mengakses. Ini akan menyulitkan pengguna yang merupakan pendatang baru atau wisatawan di Surabaya.
  • Yang terakhir, entah ini memang SOP nya atau inisiatif pengemudi, kalau melewati halte yang tidak ada penumpang menyatakan mau turun atau tidak terlihat penumpang mau naik, bus tidak menepi dan berhenti. Memang ada plus minusnya sih, tapi kadang ada saja orang yang keliru menyebut halte dan berubah pikiran saat melihat dan mendekati halte tertentu.

Mungkin itu saja sementara yang bisa di-notice, secara prinsip, angkutan umum di Surabaya ini sudah ciamik soro dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Semoga Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Dinas Perhubungan bisa semakin meningkatkan layanannya dan benar-benar bisa menggugah para pemilik kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan angkot. MuantaB Rek!!!

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a comment