Desil, Peringkat, dan Digitalisasi

Image by Google Gemini

“Brak,” Tenes menutup pintu ruang rapat sambil berjalan menuju kursinya. Di sana sudah menunggu sejumlah tokoh penting di Tenesagakure menunggu kehadirannya. Tampak hadir Lumina, Penasehat Kesejahteraan Umat duduk berbincang santai dengan Mirtani, Ketua Dewan Pencacah Kota (Wancakot). Di seberang mereka berdua duduk Hilfar, kepala Badan Perencanaan dan Penganggaran (Baperan) bersama Joneler, ketua Komisi Publikasi dan Komunikasi (Komplikasi). Di sisi lain duduk berjejer Galatea, Direktur Perusahaan Listrik (Pelik), Kafka, Ketua Asosiasi Pengusaha Muda (Apesmu), Raestlin, Kepala Badan Teknologi Siber (Banter), Mistra, Kepala Badan Sertifikasi, Regulasi, dan Standarisasi (Beresi), dan Gojoru, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Kepegawaian (Dikekep). “Okeee, semua sudah berkumpul kan? Mari kita mulai rapatnya,” Tenes memulai dan membuat perhatian semua orang fokus ke arahnya. Dia melanjutkan, “Jadi rapat ini, sesuai permintaan Lumina, adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang keresahan masyarakat soal desil mendesil.”

“Seperti kalian semua tahu, masyarakat lagi resah, dan dengan sedikit provokasi muncul riak-riak keributan secara sporadis gara-gara desil. Saya sudah diskusi panjang lebar kemarin dengan Lumina dan Figaro, yang kebetulan hari ini tidak hadir karena sedang menemui antrian demonstran kepala desa yang timbul sebab balai desa mereka didemo masyarakat.” Tenes melihat sekeliling, lalu melanjutkan, “Intinya, Lumina sudah menjelaskan kenapa kita butuh desil, tapi dia juga mengakui kalau cara-cara menghasilkan peringkat kesejahteraan sebagai dasar memeringkat menjadi desil itu perlu didiskusikan dengan lebih banyak kepala. Itulah sebabnya, kalian saya undang, jadi lupakan dan batalkan agenda main golf, main padel, atau memancing hari ini, karena kita akan diskusi efektif untuk mendapat hasil nyata, bukan hanya menghasilkan jadwal rapat selanjutnya.” Joneler membetulkan kerahnya, Gojoru menggaruk-garuk rambutnya, dan para peserta rapat kecuali Tenes dan Lumina mengeluarkan Handphonenya untuk menelepon ajudan masing-masing untuk mengosongkan agenda.

“Memangnya masih ada apa lagi yang perlu diperbaiki dari cara kita menentukan kesejahteraan selama ini? Itu kan metode yang sudah berlaku di seluruh sebagian besar multiverse?” Mirtani sebagai orkestrator utama dari para pencacah di lapangan dan pemegang kunci misteri cara menghitung hasil cacahan tersebut mengawali diskusi. “Saya kurang pahan ya kalau teknisnya, tapi kalau dari pantauan kami di media sosial, hampir semuanya mengeluhkan kalau desil itu tidak sesuai kenyataan, crazy rich yang naik mobil mewah masuk desil 4, sementara tukang becak yang harga becaknya lebih murah dari harga bensin mobil mewah itu masuk desil 10,” sahut Joneler. Tenes berkomentar, “Kira-kira kenapa kok itu bisa terjadi, katanya metodenya sudah meyakinkan?”. “Ya sebetulnya sederhana Pak, garbage in, garbage out, di dunia per-data-an ini sudah pakem, kalau data yang masuk tidak benar, hasil pemrosesannya juga akan lebih tidak benar, bukan pemrosesnya yang keliru,” Raestlin menimpali. Raestlin melanjutkan, “Meskipunnn, karena saya bukan orang statistik atau pakar kemiskinan, bisa jadi ada metode dalam menentukan kesejahteraan tersebut yang perlu dievaluasi.”

“Okay, supaya fokus, agenda rapat kali ini kita akan berfokus dulu pada kemungkinan pertama, sebesar apa peluang bahwa data yang dikumpulkan memang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan?” Tenes menegaskan. “Ada dua kemungkinan Pak, yang pertama bisa jadi datanya bukan keliru, tapi sudah usang, karena kita kan harus mencacah seluruh penduduk Tenesagakure dan itu membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan, bisa jadi saat data itu selesai diproses kondisinya sudah berubah. Yang ke-dua, seluruh data itu kan didapat dari pengakuan orang yang disurvey, bisa jadi mereka salah memberi jawaban karena kurang memahami pertanyaannya atau entah dengan motif apa sengaja berbohong,” jelas Mirtani. “Atau bisa juga ada petugas dari Wancakot yang keliru atau sengaja memanipulasi datanya kan?” Cecar Tenes. Mirtani menjawab dengan diplomatis, “Ya kemungkinan itu selalu ada Pak, tapi kita sudah menerapkan prosedur seketat mungkin dan berjenjang dalam pencacahan ini.”

“Jadi dalam lima menit yang produktif ini kita sudah ada identifikasi dua masalah utama yang perlu dipecahkan Pak. Yang pertama adalah bagaimana mengatasi human error baik sengaja ataupun tidak, dan yang ke-dua adalah bagaimana agar proses pengambilan data tidak ketinggalan zaman sehingga membutuhkan waktu yang lama,” Hilfar mencoba menyimpulkan sebagai pejabat yang seharusnya paling punya helicopter view. “Bhapp, gitu dong Hil, gak rugi ente jadi bosnya perencana,” kata Lumina. Tenes kembali bertanya, “Jadi, apa yang harus dilakukan supaya masalah ini bisa diatasi?” Raestlin, yang sebelumnya juga pernah menjabat komisaris utama perusahaan teknologi terkemuka Majere Corporation mengangkat tangannya, “Kita harus bisa memaksa orang jujur tanpa menuduh mereka berbohong Pak, di sanalah waktunya teknologi mengambil perannya sebagai enabler.” Dia melanjutkan, “Daripada kita harus mendatangi orang satu persatu, kenapa tidak data seluruh penduduk dari Wancakot yang sudah ada itu kita cek saja ke seluruh data yang dimiliki Tenesagakure, misalnya data pemakaian listrik dari Pelik, data upah dari Dikekep, data kepemilikan usaha dari Apesmu, dan data-data lainnya. Data-data itulah yang kita gunakan untuk pemutakhiran, minim human error, dan tidak butuh waktu lama. Seluruh data tersebut akan diolah oleh sistem Wancakot, dengan demikian keputusan penentuan kesejahteraan akan ada dalam sistem, bukan ditentukan oleh pribadi-pribadi atau pejabat-pejabat tertentu, ini akan mengurangi beban mental para petugas di lapangan dan para kepala desa.”

“Bhapp, ide bagus itu, tapi kita punya Undang-undang privasi, meskipun kita Pemerintah, kita tetap tidak boleh melakukan pengecekan menyeluruh semasif itu terhadap seseorang tanpa persetujuan yang bersangkutan,” Mistra mengingatkan. Gojoru yang sudah selesai menggaruk rambut menyahut, “Tidak masalah, kita akan minta mereka memberi persetujuan, persetujuan itu akan diminta jika mereka ingin mendaftarkan diri untuk meminta bantuan, kalau mereka tidak ingin meminta bantuan ya tidak masalah untuk saat ini, prioritas kita kan masih kepada mereka yang membutuhkan. Saya yakin Banter akan bisa memfasilitasi proses itu melalui aplikasi handphone yang dimiliki oleh setiap penduduk.” “Kalau pakai aplikasi, bagaimana memastikan kalau tidak ada orang lain yang menyalahgunakan atau mengaku-ngaku memberi persetujuan?” Tanya Tenes. Raestlin ganti menjawab, “Ya teknologi juga Pak, otorisasi atau persetujuan proses itu akan dilakukan melalui proses pencocokan biometrik, bisa dengan wajah yang hidup, bukan foto atau video, atau dengan sidik jari, teknologi kita sudah sangat mampu untuk itu.” “Kalau untuk orang yang tidak punya handphone bagaimana?” Celetuk Lumina. “Berarti kita perlu memberikan fasilitas bagi semua orang untuk membantu mendaftarkan orang lain melalui handphonenya, toh akan tetap ada proses validasi melalui biometrik tadi, jadi bisa dipastikan orang yang mau didaftarkan memang memberikan persetujuan,” Hilfar si Perencana kembali ngoceh dengan gaya bijaknya.

Galatea yang dari tadi diam mengacungkan tangannya, “Sebentar, bagaimana kalau ternyata data itu tidak benar? Misal dalam data Pelik seseorang tercatat memiliki meteran listrik berdaya besar, padahal namanya cuma dipinjam orang lain untuk mengajukan pemasangan listrik, atau ternyata dia sudah pindah dan rumahnya ditempati orang lain.” Lumina tidak mau kalah terdengar solutif dari Hilfar, dia menyahut, “Berarti sistem harus menyediakan metode untuk membantah data yang sudah tercatat itu, ini seperti yang dikatakan Raestlin tadi, kita akan memaksa orang untuk jujur tanpa menuduh mereka berbohong.” Para peserta rapat terlihat sumringah, mereka mengira rapat akan segera selesai karena sudah terpampang solusi di depan mata. “Lalu, bagaimana kita memastikan siapa yang benar antara data yang tercatat atau orang yang menyanggah data itu? Kan bisa saja yang menyanggah juga berbohong?” Tenes bertanya. Senyum pergi meninggalkan wajah-wajah peserta rapat, berganti dengan kerut di dahi. Empat belas detik kemudian Lumina memecah keheningan, “berarti, kita memang harus berjiwa besar untuk mengakui bahwa data kita mungkin saja memang salah. Kalau ada orang menyanggah data yang sudah ada, misalnya data listrik atau kepemilikan usaha, ya akan kita konfirmasi kembali untuk dia menghapus data tersebut, dengan segala konsekuensinya, misalnya perusahaan tersebut akan dibekukan, atau listriknya akan dicabut. Toh, kalau dia memang tidak merasa memilikinya, dia tidak akan kehilangan apa-apa.” “Bagaimana kalau identitasnya dipinjam dan ternyata listrik atau perusahaan tersebut masih digunakan orang lain?” Sergah Mistra. Hilfar menjawab, “Ya silahkan orang lain itu datang ke masing-masing kantor pemilik data, misalnya Pelik untuk data listrik atau ke Apesmu untuk data kepemilikan usaha, dia harus mendaftarkan lagi dengan identitas yang benar. Ini sekaligus edukasi masif untuk masyarakat agar jangan sembarangan meminjamkan identitas dan jangan sembarangan meminjam identitas orang lain. Ini juga akan berdampak sistemik terhadap peningkatan kualitas data kita sebagai Pemerintah karena akan dikoreksi secara crowdsourcing.”

“Tapiii, bagaimana dengan biaya yang dibutuhkan untuk menghapus data itu? Misalnya di Apesmu, karena perusahaan itu memakai akta notaris, maka untuk menghapus nama dari akta juga membutuhkan biaya notaris,” Kafka yang berpengalaman mendampingi kaum marjinal untuk mengurus perizinan usaha kali ini bertanya. Mistra menghela nafas, kemudian bicara dengan pelan, namun suaranya terdengar begitu tegas, “Mau tidak mau, untuk kasus data yang memang setiap perubahannya membutuhkan biaya, kita sebagai Pemerintah harus memberikan afirmasi dan menanggung biayanya, Beresi akan siapkan regulasi untuk perlakuan khusus itu, baik biaya ditanggung Pemerintah maupun dibebaskan sama sekali dari biaya, kita harus berpihak kepada rakyat, khususnya rakyat kecil dan rentan yang membutuhkan bantuan, bukan cuma lewat iklan di televisi, tapi lewat kebijakan yang berdampak nyata bagi mereka. Tapi ini hanya usul saya, tetap keputusannya ada di Pak Tenes.” Semua diam, pandangan mata tertuju pada Tenes, walikota yang sudah terpilih tiga periode itu tampak berpikir, lalu dia mendekatkan mikrofon meja ke bibirnya, “Yah, saya sudah tiga periode, kalau dengan berpihak pada masyarakat terpinggirkan saya harus melepaskan jabatan saya karena gelombang protes, so be it.”

Joneler yang pertama merespon, “Baik Pak, kami akan siapkan bahan-bahan edukasi publik sembari menunggu Banter menyelesaikan Aplikasinya. Kami juga akan undang pihak-pihak yang memiliki pasukan manusia seperti Wancakot, Apesmu, Dikekep, dan pihak lainnya untuk mengkoordinasikan sosialisasi dan menyiapkan para petugas mereka dalam penggunaan aplikasi ini sebagai pionir yang diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menyebarkan kebijakan ini.” “Bagus, saya bersyukur didukung oleh orang-orang seperti kalian, rapat kita kali ini cukup efektif dan bisa kita akhiri. Tapi jangan lupa, masih ada satu agenda lagi untuk membahas ketepatan metode yang digunakan oleh Wancakot untuk menghitung kesejahteraan, akan segera kita bahas dalam waktu dekat, jadi silahkan setelah ini kalian cari inspirasi, berbelanja masalah ke tengah-tengah masyarakat, dan gunakan daya pikir kalian untuk menyambut rapat selanjutnya,” Tenes memungkasi sekaligus menutup rapat tersebut.

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari, TIK/IT and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a comment