
Pahlawan itu biasanya tidak pernah menyebut dirinya pahlawan
Dalam diskusi bersama sejumlah keturunan Pahlawan Nasional di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta pada 2 November 2026 dalam bagian rangkaian acara menyambut peringatan Hari Pahlawan yang akan jatuh pada 10 November 2026, kalimat itu (meskipun mungkin tidak verbatim) meluncur dari RM Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirta, cicit dari pahlawan nasional RM Tirto Adi Soerjo. Dijelaskannya pula bahwa pada masa aktifnya, justru biasanya mereka yang disebut pahlawan itu disebut oleh sistem dan struktur yang ada sebagai pemberontak. Gelar pahlawan itu umumnya baru akan diberikan oleh orang lain dan/atau negara ketika manfaat dan/atau hasil kerja mereka telah dirasakan. Itulah sebabnya, jika saat ini ada orang-orang yang punya pemikiran yang berbeda, janganlah keburu dicap sebagai pemberontak. Bisa jadi jika pemikiran yang berbeda itu bisa dipahami, justru akan membawa perubahan yang lebih baik.
Pahlawan, terlepas label berbeda atau pemberontak tadi, memang umumnya akan terlihat berbeda dari sebagian besar penghuni kolam tempat mereka hidup. Kalaupun ada lebih dari satu, tetap saja mereka umumnya menjadi minoritas. Lantas jika kita diajarkan untuk meneladani pahlawan, apakah kita harus menjadi minoritas? Jawabannya tentu akan bergantung kepada pemaknaan teknis tentang “menjadi minoritas” itu sendiri. Bukan berarti asal menjadi minoritas itu pertanda bahwa kita pasti sedang meniti jalan menjadi pahlawan, ingat teori distribusi normal, pencilan yang minoritas itu ada yang pencilan kanan, tapi juga ada pencilan kiri 😁. Maka daripada terjebak pada dikotomi mayoritas dan minoritas, lebih baik kita coba memahami seorang pahlawan dari sesuatu yang memang dia lakukan dalam kehidupannya.
Oke, kalau kita melihat sebaran para pahlawan kita, banyak hal yang mereka lakukan selain perjuangan bersenjata yang nyata seperti Jenderal Sudirman. Ada Agus Salim, yang berjuang lewat jalur diplomasinya. Ada juga Tirto Adi Soerjo yang berjuang lewat tulisan dan media pers sampai dijuluki Bapak Pers Indonesia. Ada juga yang berjuang lewat proses pengorganisasian masyarakat secara langsung seperti HOS Tjokroaminoto yang membentuk organisasi-organisasi masyarakat. Topik perjuangan juga berbeda-beda dan tidak melulu soal kedaulatan negara saja. Ada yang memperjuangkan hak kaum wanita seperti RA Kartini, ada yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh seperti Marsinah, dan ada yang berjuang di jalur agama maupun sastra sampai menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia seperti Buya HAMKA.
Oke, jalur bermacam-macam, topik juga bermacam-macam, lalu apa yang membedakan pahlawan dan bukan? Satu benang merah yang bisa ditarik adalah seberapa keras effort atau daya upaya yang mereka kerahkan di sana. Para pahlawan, dalam memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan, melakukannya dengan serius pangkat lima. Mereka bahkan tidak segan-segan mengorbankan hal-hal yang tidak sembarang orang mau korbankan baik itu waktu, harta benda, bahkan keluarga. Dalam perjuangannya, bahkan tidak sedikit dari mereka harus menghadapi konsekuensi mulai intimidasi, pengasingan, dipenjara, sampai kehilangan nyawa. Kalau memakai istilah kekinian, KOMITMEN mereka yang tidak kaleng-kaleng terhadap cause apapun yang mereka perjuangkan itulah salah satu pembeda utama yang sangat bisa kita teladani. Banyak orang mungkin bisa berpidato seperti Bung Tomo, tapi berapa orang yang mau mengeluarkan keahlian berpidatonya ketika nyawa taruhannya? Banyak orang bisa menjadi walikota seperti Bagindo Azizchan, tapi berapa banyak yang mau melakukan pekerjaan itu di masa ketika seorang walikota pun bisa terbunuh di tengah perjalanan ketika bekerja? Orang bisa menulis tajam kepada penjajah atau pihak yang mereka lawan, tapi berapa banyak yang mau melakukannya dengan ancaman pengasingan seperti Ilyas Yacoub?
Sebenarnya tentu tidak hanya komitmen kuat yang membuat orang jadi pahlawan, penjahat kosmik selevel Thanos pun juga punya komitmen yang luar biasa. Karena itu selain komitmen, hal berikutnya yang membedakan adalah untuk kepentingan siapa perjuangan itu dilakukan. Jika perjuangan dilakukan untuk kepentingan sendiri, sekuat apapun komitmennya, ya tetap saja itu adalah perjuangan dengan motif individual. Namun ketika perjuangan dilakukan untuk kepentingan banyak orang alias demi kemaslahatan umat maka langkah menuju hall of heroes semakin dekat. Meskipun lagi, seberapa banyak sebenarnya “banyak orang” ini juga akan selalu menjadi topik perdebatan. Bukan hal yang aneh bahwa dalam sebuah perjuangan akan ada pihak lain yang menjadi korban secara langsung maupun tak langsung. Ini juga yang kadang membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi suatu kelompok, tapi justru menjadi musuh utama bagi kelompok lain. Bagi Shinra, Sephiroth adalah pahlawan perang, namun bagi para korbannya, Sephiroth adalah penjahat besar pelaku genosida, di sinilah kemudian peran dari aspek kepahlawanan berikutnya, moralitas.
Terjemahan paling mudah dari moralitas ini sebetulnya bisa tercermin dari aksinya. Apakah dalam mencapai tujuan, cara-cara yang ditempuh menggunakan metode yang baik atau tidak. Yang membedakan seorang raja yang baik dengan seorang tiran, yang meskipun sama-sama bekerja untuk kemajuan negaranya, adalah caranya mencapai tujuan tersebut. Apakah dalam mencapai tujuannya dilakukan dengan cara yang sesedikit mungkin menyakiti orang, atau justru sebaliknya, segala cara dilakukan demi tercapainya tujuan. Kalau seorang pahlawan memiliki moralitas yang baik, meskipun ada pihak yang berada pada sisi tidak diuntungkan oleh tindakannya, tapi mereka tetap tidak akan bisa menuduhnya sepenuhnya sebagai penjahat (meskipun “kesalahan”-nya akan tetap diingat) selama semua itu dilakukan secara konsisten, baik, mengikuti prinsip kebaikan, dan memang bukan dilakukan untuk kepentingan pribadi atau dengan sengaja merugikan orang lain. Dalam hal ini, kesalahan tetaplah kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan, namun bukan dilakukan karena niat dan tujuan jahat. Tapi sebaliknya, jika keberhasilan yang tampak dicapai dengan menghalalkan segala cara, tentunya akan ada banyak suara-suara di belakang tentang sisi gelap pencapaian tersebut. Meskipun yahhhh, terkadang ada juga istilah necessary evil, tapi itu topik lain, bukan soal kepahlawanan.
Jadi secara singkat, ada 3 hal penting yang bisa kita teladani dari seorang pahlawan. Yang pertama adalah komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan. Berikutnya adalah tujuan akhir atau kepentingan banyak orang sebagai target perjuangan, bukan kepentingan pribadi semata. Yang terakhir adalah bagaimana cara mewujudkan tujuan tersebut alias bagaimana cara kita berjuang. Kalau kemudian dalam menjalankannya kita harus menjadi berbeda atau minoritas, ya itu risiko yang sulit dihindari. Pun halnya dengan hambatan serta tekanan, sekecil apapun, meski tidak sampai mengancam atau hanya sebatas rasa lelah atau cibiran rekan kerja, hambatan dan tekanan akan selalu ada. Kalau memang kita belum siap menghadapinya, ya tidak masalah, tidak semua orang memang harus jadi pahlawan kan😁. Dan yang paling penting, janganlah mengaku-ngaku atau mencari pengakuan, lakukan saja dan biarkan dunia yang menyaksikan.
“Courage need not be remembered, for it is never forgotten”, Princess Zelda