
Zamannya sudah beda, perjuangannya juga beda
Masih di acara yang sama bertajuk “Pahlawan Bertutur” sebelumnya, closing remarks di atas dissampaikan (meski mungkin tidak verbatim) oleh Alfita Asmoro, cucu pahlawan nasional RM Suryopranoto. Garis bawahnya adalah kepahlawanan bukanlah pada bentuk tindakannya, tapi nilai-nilai yang dibawa dan dijaga. Meneruskan nilai-nilai dan semangat kepahlawanan dengan komitmen yang kuat, membela kepentingan yang tidak egois, dan moralitas yang baik tidak harus diwujudkan dalam sebuah perbuatan yang berujung pemberontakan bersenjata. Di masa ini, untuk menjadi pahlawan, tidak harus melakukan perbuatan sebesar itu dan membawa dampak seluas itu. Akan berbeda tentunya kalau pengakuan itu ingin didapat dari entitas sebesar negara, maka akan wajar perbuatan dan dampak yang dirasakan juga harus besar, atau kalau dalam bahasa kekinian skalanya epic.
Sebenarnya, berbicara tentang pahlawan ini menarik. Mau dibuat sederhana sekali bisa, mau dibuat rumit juga bisa 😁. Tapi yang pertama kita perlu bedakan adalah pahlawan sebagai seseorang dengan pahlawan sebagai gelar resmi. Kalau kita bicara yang ke-dua, pahlawan sebagai gelar resmi yang diberikan oleh negara, para penyandangnya disebut sebagai “Pahlawan Nasional”, dan penetapan itu dilakukan oleh presiden atas pertimbangan dari tim khusus yang bertugas mengkaji hal tersebut. Bagi kita yang masih menghirup oksigen di dunia ini, biasanya sih akan agak jauh dari sana, karena umumya gelar itu akan diberikan pada mereka yang telah gugur alias sudah almarhum bin anumerta. Bagi kita yang belum mencapai alam itu, akan jauh lebih bermakna untuk membicarakan kepahlawanan dan meneladani nilai-nilainya untuk bisa menjadi nilai tambah dalam hidup sehari-hari.
Kembali ke pertanyaan awal, kita sudah tahu sosok-sosok pahlawan yang mendahului kita, kita sudah tahu apa yang membuat mereka jadi pahlawan, lantas apakah kita harus melakukan perbuatan sebesar itu? Ya kalau mau sih tidak ada yang melarang, tapi dengan segala berbedanya situasi saat ini, dengan berbedanya tantangan yang kita hadapi, maka kita harus lebih realistis tentang bagaimana relasi perbuatan dan dampaknya pada orang lain sehingga bisa menjadi pahlawan atau penjahat. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, pahlawan itu kadang relatif, pahlawan bagi satu pihak belum tentu pahlawan bagi pihak lain, bahkan kadang bagi pihak lain dia justru bisa jadi penjahat besar, dan selera melabeli pahlawan itu bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan menjadi permufakatan.
Seorang penarik perahu tambang, bagi anak-anak sekolah dan pekerja yang setiap hari menggunakan jasanya bisa jadi adalah seorang pahlawan. Seorang Supeltas, jika melakukan pekerjaannya dengan baik juga adalah pahlawan lalu lintas. Bahkan seorang Ibu yang bekerja membanting tulang membesarkan anak-anaknya, dalam skala terkecil adalah pahlawan bagi para buah hatinya. Dan jangan lupakan juga para pahlawan tanpa tanda jasa kita yaitu para guru yang benar-benar melakukan tugasnya sebagai pendidik. Bagaimana, mudah kan menjadi pahlawan?
Menjadi pahlawan memang mudah, cukup punya komitmen, belalah kepentingan yang tidak berfokus ke diri sendiri, dan lakukanlah dengan baik. Pengorbanan, tanpa pamrih, pengabdian, dan istilah-istilah lainnya itu hanya bumbu penyedapnya saja. Tunggu dulu, tapi guru, penarik perahu, dan contoh lain itu kan ada yang mendapat penghasilan dari apa yang mereka lakukan, apakah tetap bisa disebut pahlawan? Kenapa tidak, bedakan rela berkorban dengan harus dikorbankan. Jika perbuatan atau pekerjaan seseorang yang bermanfaat bagi orang lain kemudian menghasilkan keuntungan untuknya, apakah menegasikan manfaat tersebut? Toh, kalau kita mau jujur, dalam profesi, pekerjaan, dan perbuatan yang sama, dengan berbagai motif di baliknya, ada yang melakukannya dengan meletakkan hatinya dan pikirannya untuk sebesar besar manfaat yang diberikan, dan ada juga yang meletakkan segala daya upayanya untuk sebesar-besar manfaat yang diterima. Inilah yang membedakan pahlawan dan bukan, meskipun akan berbeda cerita lagi kalau konteksnya adalah dunia bisnis atau dunia niaga😁.
Kalau mengerjakan kewajiban atau pekerjaan dengan sungguh-sungguh secara baik dan etis cukup bisa mencerminkan nilai kepahlawanan atau menjadi pahlawan “kecil”, lantas apa pentingnya menjadi pahlawan? Ya tidak ada pentingnya juga sebetulnya, dengan catatan memang sebagian besar sudah melakukannya. Tapi kalau memang misalnya orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaannya untuk kepentingan orang lain dengan sebaik-baiknya itu mulai menunjukkan tanda-tanda kelangkaan, maka pengingat untuk kembali meneladani pahlawan ini menjadi penting. Definisi “dengan baik” itu sendiri sebenarnya juga masih luas dan akan menarik jika bisa diurai, itulah sebabnya ada juga istilah-istilah seperti anti hero dan anti villain 😁. Tapi untuk saat ini, dalam menyambut hari pahlawan, marilah cukup kalau bisa kita ingat kembali untuk meneladani nilai-nilai kepahlawanan dalam hidup sehari-hari, itu sudah awal yang bagus, syukur-syukur bisa jadi pahlawan beneran, apalagi meninggalkan warisan yang kelak menjadi gelar pahlawan nasional.
I believe there’s a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams.
-Aunt May, Spiderman-