
Tenes, walikota Tenesagakure, negara kota berpenduduk 1 juta jiwa dan 250 ribu Keluarga, sedang rapat bersama Lumina, penasehat kesejahteraan umat, dan Figaro, Koordinator Serikat Kepala Desa. “Langsung saja Lum, Gar, saya ini kan jarang buka medsos ya, kemarin sekalinya saya buka kok warga kita pada ribut bahas desil-desilan, itu barang apa toh?” Tenes memulai sambil menghisap coklat batangannya. Lumina, yang merasakan tajamnya lirikan Tenes ke arahnya langsung memperbaiki posisi duduknya. “Sebentar Pak, perlu diperjelas dulu, Bapak ingin penjelasan soal yang mananya dulu, karena perdebatan yang ramai sekarang itu kalau saya lihat sebagian besarnya berdebat untuk sesuatu yang tidak ada.” “Maksudnya gimana Lum?” “Ya coba saja dilihat, mereka itu banyak yang ribut membahas tabel yang beredar luas yang konon Bapak terbitkan bahwa desil mereka dikelompokkan berdasarkan berapa penghasilan mereka dan mereka digolongkan menjadi sangat miskin sampai super kaya,” urai Lumina sambil memainkan rambut birunya.
“Lho kapan saya pernah bikin tabel macam itu?” “Nahhhh, tepat sekali Pak, kadang miris kan melihat bagaimana sebuah kabar bohong bin hoax begitu justru diperdebatkan sampai ribut.” “Oke oke, tapi kan gak mungkin ada asap kalau tidak ada api, desil yang diributkan sendiri itu sebenarnya apa?” Figaro langsung memotong dan mengeluarkan surat yang dia tunjukkan ke Tenes, “Nah ini Pak, kemarin itu ada surat edaran bantuan dari Sinra Corporation, nilainya lumayan gede Pak, 10 juta Disena untuk setiap keluarga, tapi yang boleh dapat cuma keluarga yang ada di desil 1 dan 2, konon katanya itu sudah hasil diskusi sama Lumina.” Tenes membaca surat itu, mengalihkan kembali pandangannya ke Lumina, “Gini Pak, saya jelaskan dulu ya, desil itu barang netral Pak, dia hanya menjadi pagar pembatas yang mengelompokkan penduduk kita menjadi 10 bagian, dalam konteks Tenesagakure, 1 desil itu berisi 25 ribu keluarga,” urai si rambut biru itu. “Oke, saya paham, tapi atas dasar apa kamu mengelompokkan mereka?” Tanya Tenes. “Berdasarkan kesejahteraan dong Pak.” Figaro langsung menyahut, “NAHHH, Itulah masalahnya Pak Tenes, warga kita ini kan manusia, masa kemiskinan atau kesejahteraannya diranking kaya klasemen liga sepakbola, ini yang rasanya sulit kami terima.”
“Sebentar Gar, saya tahu maksudmu, tapi coba dengarkan dulu ceritanya Lumina gimana,” Tenes menenangkan Figaro yang sudah mulai emosi. Lumina dengan tenang memperbaiki posisi duduknya untuk lebih nyaman bercerita panjang, lalu memulai penjelasannya, “Begini Pak Ten, Gar, saya memahami keberatannya, tapi kenyataan yang harus kita terima, sehalus apapun bahasa yang kita gunakan, setiap kali ada demand yang lebih tinggi dari supply kita pasti akan melakukan pemeringkatan, apapun istilahnya, mau disebut prioritas kek, ranking kek, atau istilah lain, intinya kita akan membuat urutan dengan kriteria tertentu sebagai patokannya. Tidak usah jauh-jauh, ketika mau makan saja, kita kan pasti sudah ada pilihan dari semua makanan yang kita inginkan, apa yang mau kita makan. Kalau kemampuan membeli jadi pertimbangan, bisa jadi pilihan itu akan semakin sedikit. Tapi ketika harga makanan tidak jadi persoalan pun, kita tetap tidak akan bisa memakan semua makanan yang kita mau karena akan dibatasi oleh kapasitas perut kita. Akhirnya kita akan memilih dengan kriteria yang kita buat, entah dari rasa yang paling enak, tempat yang paling dekat, penjual yang paling ramah, atau kriteria apapun. Nah untuk bantuan ini juga begitu, Sinra Corporation hanya punya kemampuan untuk memberi bantuan kepada 50 ribu keluarga, lalu bagaimana kita harus menentukan siapa yang akan mendapatkan bantuan itu kalau tidak dilakukan pemeringkatan?”
“Tapi kesejahteraan itu kan kompleks Lum, mana bisa diperingkat begitu saja,” potong Figaro. “Justru itu, sekarang coba Gar, kamu kalau melihat warga di desamu, sebut saja si X, yang tidak punya pekerjaan, rumahnya mau roboh, dan anaknya 3 masih sekolah semua, kamu akan dengan mudah mengiyakan bahwa si X ini miskin kan?” Figaro mengangguk pelan. “Nah, tapi bagaimana kalau ada 9 orang lagi, sebut saja si A sampai si I, dengan kondisi yang mirip-mirip, lalu kamu hanya bisa memberikan bantuan untuk 5 orang dari 10 orang itu?” “Ya harus dipilih dong,” sahut Figaro. “Tepat sekali, untuk jumlah yang sedikit mungkin kamu masih bisa memilih dalam kepalamu, tapi kalau jumlahnya sudah banyak, lets say ratusan atau ribuan orang, kan akhirnya kamu akan membuat apa yang disebut sebagai data yang berisi nama masing-masing orang dan kolom-kolom kriteria yang akan kamu gunakan untuk menentukan siapa yang paling miskin kan, baru kamu akan mengurutkan lalu memilih 5 yang termiskin untuk mendapat bantuannya.”
Tenes kemudian ganti bertanya, “Tapi kan tidak mungkin keputusan untuk menilai kesejahteraan seseorang diserahkan pada 1 orang saja, standar miskin setiap orang kan berbeda.” “Betul Pak, dalam hal ini Figaro karena tidak mau memikul beban itu sendirian, maka dia mengajak warga desanya untuk berembuk bersama, mereka membahas dan menyepakati satu per satu untuk memilih 5 orang warga desa mereka yang disepakati sebagai yang paling tidak sejahtera untuk kemudian mendapatkan bantuan, ini adalah bentuk delegasi tanggung jawab supaya keputusan tidak hanya di tangan 1 orang saja.” Lumina kemudian menghentikan sejenak penjelasannya untuk memberi waktu Tenes dan Figaro mencerna kata-katanya.
“Tapi…” dia melanjutkan, “Negara Tenesagakure ini besar, ada 50 desa di sini, dan standar kemiskinan di setiap desa berbeda. Di satu desa, rumah yang berdinding kayu dianggap miskin, tapi di desa lain justru dinding kayu adalah simbol kekayaan. Di suatu desa memasak dengan kayu bakar dianggap miskin karena tidak bisa beli tabung gas, tapi di desa lain makanan dengan kayu bakar justru dihargai mahal.” Tenes mulai mengernyitkan dahinya, Figaro mulai menyulut rokoknya. “Karena bantuan dari Sinra Corporation ini tidak menyasar satu desa tertentu, maka suka tidak suka, harus ada standar yang sama yang berlaku di seluruh Tenesagakure untuk melakukan pemeringkatan. Untuk itulah kita membuat sebuah data terpadu yang digunakan secara bersama-sama di seluruh Tenesagakure, dan melakukan pengukuran tingkat kesejahteraan dengan kriteria yang bisa dianggap cukup akurat seperti bangunan rumah, kepemilikan kendaraan, kepemilikan aset lain, dan kriteria kriteria lain. Baru setelah semuanya dihitung, kita mengelompokkannya berdasarkan desil,” Jelas Lumina panjang lebar.
“Tapi apakah kamu yakin kriteria yang kamu susun sudah bisa mewakili tingkat kesejahteraan seseorang atau keluarga?” Tanya Tenes. “Nah tepat sekali Pak, saya hanya satu orang, tim saya hanya satu tim, justru saya akan jauh lebih senang dan merasa tepat ketika warga Tenesagakure yang budiman mencurahkan kepalanya untuk meributkan dan berdebat soal kriteria yang diperlukan untuk mengukur kesejahteraan ini di media sosial atau langsung disampaikan pada kita. Kalau energi pikirannya disalurkan ke arah yang benar seperti itu, akan jauh lebih konstruktif dan menjadi masukan kita untuk melakukan perbaikan, bukannya justru menghabiskan energi untuk berdebat dan meributkan sesuatu yang hoax dan tidak benar.”
Figaro tampak mau berkomentar, Lumina lebih sigap melanjutkan, “Permasalahan berikutnya Pak Tenes yang juga jauh tidak kalah penting adalah, anggaplah kriteria yang kita susun itu sudah cukup akurat menggambarkan tingkat kesejahteraan, bagaimana kemudian kita memastikan data-data itu bisa dikumpulkan dalam waktu singkat, karena kalau mengejar keakuratan kemudian kriterianya menumpuk dan butuh satu tahun untuk mengumpulkan dan mengupdate datanya, ya akan percuma juga, karena datanya sudah usang, kesejahteraan orang itu bergerak dalam hitungan bulan bahkan hitungan hari,” Tukas Lumina. “Benar juga ya,” sahut Tenes manggut-manggut. “Jadi memang harus ada keseimbangan antara ketepatan penilaiannya dengan kemudahan pengumpulannya.”
“Trus, bagaimana caranya juga memastikan data yang dikumpulkan itu benar, kan bisa saja respondennya salah menjawab, bahkan ada saja oknum yang mungkin sengaja berbohong, petugas yang salah input data, dan oknum petugas yang sengaja mengisi data yang keliru?” Tenes makin bersemangat bertanya. “Nah, kalau soal itu Pak, saya kira itu topik yang sangat penting dan mending kita bahas lain hari saja, karena itu melibatkan banyak pihak dan perlu pembahasan panjang juga, kita sudah cukup lelah membahas soal desil mendesil ini. Jangan sampai topik sepenting dan seserius ini hanya dibahas oleh 3 orang yang sudah sama-sama lelah,” sahut Lumina. Akhirnya mereka menutup rapat itu dengan makan bersama sambil diskusi-diskusi ringan.