
Bukan karena kami istimewa, tetapi karena kami diberi kesempatan
Kata-kata di atas diucapkan salah seorang siswi sekolah rakyat mewakili teman-temannya di atas panggung dalam acara “Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat & Sumpah Pemuda” di Makassar. Dari judulnya saja sepertinya sudah tidak perlu dijelaskan kapan acara tersebut berlangsung 😁. Kalimat itu disampaikannya tanpa teks ketika bercerita tentang sederet prestasi dan perubahan lebih baik dari teman-temannya yang baru satu tahun bahkan kurang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat. Tentang teman-temannya dari berbagai latar belakang mulai pemulung, pengamen, sampai Asisten Rumah Tangga (ART) yang berubah kehidupannya dan sederet prestasi nasional bahkan internasional yang telah mereka torehkan. Acara yang singkat di Gedung Olahraga (GOR) Sudiang tersebut sebetulnya diisi beragam sesi refleksi dan unjuk kebolehan para siswa, namun bagian ini cukup pantas mendapat porsi lebih untuk sedikit menyegarkan pemahaman tentang pendidikan, bahkan kehidupan.
Kita mungkin pernah tahu dan menyadari, namun sudah teralihkan oleh pahit getir kehidupan tentang pemahaman bahwa semua manusia itu unik alias istimewa. Karena istimewa itu adalah fitrah, maka mengapa ada keistimewaan yang bisa muncul, bersinar, bahkan meroket, namun ada yang tidak pernah muncul bahkan tenggelam seperti kekaguman saya pada Mariana Renata dan Huo Yuanjia? Pernyataan sang siswi itulah salah satu jawabannya, “kesempatan”, betapa banyak keistimewaan yang tidak mendapat kesempatan. Ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikan, dalam hidup yang lucu ini kita-kita yang nirprivilege ini terindikasi pernah bahkan sering merasakannya. Dalam mencari kerja, dalam mendapatkan promosi pekerjaan, sampai mencari pasangan hidup seringkali kesempatanlah yang menjadi key success factor sekaligus key failure factor. Doktrin ala motivator modern mengajarkan untuk tidak menyalahkan keadaan dan terus berjuang mencari kesempatan, namun selalu ada saja orang-orang yang oleh Kang Da-wit disebut sebagai orang-orang yang selalu kalah tak peduli seberapa keras mereka berusaha. Kenyataan pahit ini memang harus kita akui, karena secara matematis kenikmatan hidup material memang lebih sedikit dari para pembutuhnya.
Terhadap orang-orang yang penderitaannya di ambang terlihat dan tak terlihat inilah, yang disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “The Invisible People“, negara harus hadir. Kenapa negara? Kenapa tidak swasta atau perorangan lain? Ya bukan berarti kalau negara harus hadir yang lain tidak boleh kan? 😁. Tapi titik berat pada negara wabil khusus Pemerintah sebagai sebuah entitas adalah karena adanya sebuah kemewahan yang hanya dimiliki sebagian kecil pihak, salah satunya Pemerintah. Kalau Datuk Tan Malaka mengatakan bahwa,
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda
Maka memberikan kesempatan seluas-luasnya adalah kemewahan yang dimiliki oleh Pemerintah. Pemerintah memiliki keunggulan karena kewajibannya sebagai pemberi layanan kepada Masyarakat menuntut untuk menjangkau seluas-luasnya tanpa diskriminasi, dan tidak hanya untuk urusan pendidikan saja.
Dalam seleksi pekerjaan misalnya, seluruh pelamar formasi calon pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat administratif diperbolehkan untuk berkompetisi dan mengikuti tes/ujian, berbeda dengan (sebagian) lembaga swasta yang harus melakukan shortlist dan hanya menguji sekian pelamar kerja dari seluruh pelamar kerja yang memenuhi syarat karena berbagai pertimbangan termasuk biaya penyelenggaraan ujian. Sekolah Rakyat juga begitu, mereka yang memenuhi syarat administratif akan diterima tanpa ujian akademik. Ya, kita tahu bahwa tetap ada yang namanya daya tampung, entah itu formasi CPNS, rombel sekolah, ataupun hal-hal lain, namun setidaknya, kesempatan untuk mencoba itu telah diberikan karena sesakit-sakitnya gagal berkompetisi, masih lebih menyakitkan gagal diberi kesempatan ikut berkompetisi.
Dengan dibukanya kesempatan seluas-luasnya, meskipun tidak memberi kepastian, tapi kini mereka punya wadah untuk berjuang memperbaiki kehidupannya dan keluarganya. Selama ini karena berbagai kondisi, para siswa Sekolah Rakyat tidak pernah punya kesempatan untuk bersekolah di sekolah lain, yang sempat bersekolah pun merasakan bagaimana sulitnya bersekolah ketika semua terbatas terutama dari aspek finansial. Dengan Sekolah Rakyat, yang tidak hanya berfokus pada siswa, namun juga kesejahteraan keluarganya, mereka bisa merasakan kesempatan untuk berjuang, menjadi cerdas bersama-sama, dan tumbuh dalam kesetaraan, dengan keistimewaan masing-masing tentunya. Di Sekolah Rakyat juga Pemerintah diuji untuk mengenalkan konsep keadilan/kesetaraan sesungguhnya. Keadilan di mana setiap orang mendapatkan perlakuan sesuai kondisi dan kebutuhannya, tidak sekedar sama rata, karena memang kondisi serta latar belakang setiap orang berbeda-beda baik dari segi ekonomi, kesehatan, sampai perkembangan intelektualnya.
Yang menarik, apakah kesempatan seperti ini hanya bisa dilakukan di sekolah milik Pemerintah atau Sekolah Rakyat saja? Tentunya tidak, anggaplah pola Sekolah Rakyat ini sebagai perintis, sekolah negeri lain maupun swasta tentunya bisa mengamati, meniru, dan memodifikasinya selama memang ada niat dan kemauan yang memang diwujudkan. Toh, Sekolah Rakyat as a concept juga masih jauh dari sempurna, dan masih banyak potensi perbaikan dan perubahan yang bisa dilakukan, dan di sanalah peran seluruh pihak untuk mengawasi dan memberikan masukan, kritik, maupun sarannya.