Troilus, Kebanggaan yang Dikorbankan

Troy, kota sentral dalam epik Ilias karya Homer. Perang 10 tahun antara Troy melawan begitu banyak negara yang disulut oleh perebutan Helen, yang konon adalah wanita tercantik. Ada begitu banyak karakter dan side arc dalam kisah ini yang bisa menjadi pelajaran. Salah satunya adalah tentang Troilus, putra raja Priam dari Troy.

Salah satu faktor epik dari perang Troya adalah waktunya yang memakan sepuluh tahun. Waktu yang cukup lama mengingat perbandingan kekuatan kedua pihak yang sebetulnya tidak seimbang, hanya dinding yang konon dibangun oleh Apollo dan Poseidon lah yang menutup sebagian besar kekurangan kekuatan itu.

Ada begitu banyak ramalan orakel tentang syarat syarat kehancuran Troy, salah satunya adalah Troilus, yang saat itu berusia 18 tahun, tidak boleh mencapai umur 20. Sang pangeran tampan memang di usia belianya saja sudah menjadi seorang prajurit yang sangat tangguh, bahkan Hector pun kewalahan menghadapinya. Kelihaiannya memanah selalu disambut dengan sorak sorai para prajurit setiap kali desing panahnya terdengar diikuti suara kesakitan sasarannya. Dia telah menjadi simbol kebanggan orang Troy setelah Hector.

Meskipun mengetahui ramalan tersebut, alih-alih melindungi Troilus yang meskipun tangguh namun belum cukup matang, orang-orang Troy malah dengan sengaja mendorongnya bertempur tanpa perlindungan khusus. Bahkan dengan pedenya mereka membiarkan Troilus setiap kali pemuda itu keluar dari dinding kota untuk mengantar adiknya berdoa ke kuil Apollo tanpa pengawalan. Kecerobohan yang berakibat fatal, akhirnya sang pangeran harus lebih cepat bertemu Charon sang tukang perahu Hades saat Achilles membunuhnya di tengah jalan.

Kisah Troilus mengajarkan bahwa sebagus apapun bakat yang kita miliki, kalau alih-alih mengasahnya dengan pendidikan yang benar, kita justru terburu-buru mengeluarkannya ke dunia nyata tanpa pengawasan yang cukup, hanya kehancuran yang akan menanti.

Mungkin kita bisa bangga saat ada teman kita yang hebat, pandai bertempur, mahir berpidato, dan lugas menulis di usia yang begitu muda. Tidak jarang karena begitu bangganya, kita mendesaknya ke dalam posisi dia harus bertempur di garis depan untuk menggantikan kita yang lemah dan tidak mampu ini. Kita dengan gegap gempita bersorak setiap dia mengangkat senjata atau pena, tapi kita tak pernah benar-benar peduli dengan kondisi mentalnya. Dan ketika akhirnya dia benar-benar breakdown, kita tinggal mencari pahlawan lain sambil setor air mata sesaat.

Dont ask people to fight your battle, especially if you don’t want to pay the “price”

Selamat menjalankan ibadah Puasa 😀

Advertisements
This entry was posted in Celoteh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s