Keluarga dan Pekerjaan, Pilih Mana?

Setiap manusia memiliki kebutuhan hidupnya masing-masing. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya umumnya orang akan mencari penghasilan dengan bekerja. Penghasilan inilah yang kemudian akan digunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Herannya, kenapa justru bagi sebagian orang antara keluarga dan pekerjaan ini dijadikan kambing hitam atau alasan untuk saling menegasikan. Keluarga yang menjadi alasan untuk menelantarkan pekerjaan, maupun pekerjaan yang menjadi alasan untuk menelantarkan keluarga. Bahkan tidak jarang pula beredar pesan berantai kata-kata bijak yang seolah-olah menganjurkan kita untuk menomorsatukan keluarga di atas pekerjaan. Tidak salah juga sih sebetulnya, hanya implementasinya saja yang sering bikin makan hati bin dongkol 😀 .

Karena soal internal keluarga masing-masing adalah urusan keluarga masing-masing, jadi mari kita bicarakan saja persoalan pertama, yaitu pekerjaan. Kita mungkin pernah mengalami atau melihat ketika ada rekan kerja di sekitar kita mengabaikan pekerjaannya dengan alasan keluarga. Ketika ditegur justru kita yang kemudian diceramahi dengan kata-kata bijak ala motivator yang mempertentangkan keluarga dan pekerjaan bahkan sampai ajaran agama bahwa keluarga itu amanah yang harus dijaga.

Saya sepakat 300%, keluarga adalah amanah yang harus dijaga, tapi jangan lupa bahwa agama (dalam hal ini agama saya Islam) juga mengajarkan untuk menepati janji. Dan bagian mana dari “Perjanjian Kerja” ini yang bukan merupakan janji?. Mungkin kita perlu kilas balik ketika dulu kita wawancara saat melamar pekerjaan dan mungkin ada pertanyaan tentang kesiapan lembur maupun bekerja sewaktu-waktu jika dibutuhkan lalu kita menjawab dengan mantap “bersedia” karena berharap diterima. Kalau itu benar terjadi, bagian mana dari kata-kata itu yang bukan merupakan janji?.

Cobalah kita berpikir dan berempati pada orang lain. Bukan kita satu-satunya di dunia ini, atau dalam hal ini adalah kantor/perusahaan, yang memiliki keluarga. Pikirkanlah apabila kita mangkir melaksanakan tugas kemudian ada orang lain yang harus mengerjakan tugas yang kita mangkiri tersebut, apakah itu bukan perbuatan zalim? apakah orang lain yang menjadi korban kemangkiran kita itu tidak punya keluarga? Bayangkan kalau kita menjadi posisi yang dikorbankan itu, ketika tiba-tiba kita harus mengerjakan pekerjaan orang lain karena dia mangkir dengan alasan “liburan bersama keluarga” atau “tidak bisa masuk karena suami/istri ngambek dan melarang” kira-kira bagaimana perasaan kita?.

Intinya sederhana, kerjakan pekerjaan kita dengan baik. Kalau pekerjaan kita sudah beres, kita akan punya waktu untuk melakukan hal lain. Kalau memang tuntutan pekerjaan dirasa melebihi kemampuan dan merusak waktu kita untuk beribadah atau bersama keluarga, jadilah seorang yang jujur dan sampaikan dengan terus terang pada atasan untuk diberi pekerjaan lain atau dicarikan solusinya. Keluarga memang nomor satu, dan menelantarkan keluarga adalah sesuatu yang tidak benar, tapi kita juga tidak boleh lupa dengan kewajiban kita yang lain, terutama jika kewajiban itu juga berhubungan dengan orang lain. Apabila tidak ada titik temu, baik dengan pihak kantor maupun dengan keluarga, pilihan untuk mundur selalu ada. Jangan menyabotase kantor kita sendiri dengan bekerja seperlunya atau bahkan menyabotase keluarga orang lain karena terpaksa membereskan pekerjaan kita yang amburadul.

Ingat, kita sendiri yang memilih untuk melamar di posisi ini, kita sendiri yang menyatakan kesanggupan, jangan kambing hitamkan pihak lain atas pilihan yang kita ambil sendiri. Kalau merasa manajemen pekerjaan memang buruk silahkan protes, tegakkan kepala dan sampaikan protes, atau lakukan cara lain apapun yang bisa mengubah situasi menjadi lebih baik, bukan menjadi pengecut tukang sabotase yang selalu mengorbankan orang lain. Kalau merasa apa yang dikerjakan ini adalah sesuatu yang salah, silahkan ambil sikap, katakan terus terang bahwa kita mangkir karena alasan yang kuat, bukan mengkambinghitamkan keluarga. Jangan menjadi garda paling belakang saat bekerja namun terdepan saat menuntut upah yang terlambat 😛 .

Bagaimana jika memang ada keperluan yang tidak darurat namun kita sangat merasa perlu menunaikan? Ada mekanisme yang bernama meminta izin, namun tentunya ada konsekuensi yang mengikuti. Misal jika pekerjaan kita memang belum beres sesuai target tapi ada keperluan mendesak yang tidak darurat, maka kita harus mencari bantuan dari orang lain atau pengganti dalam melakukan pekerjaan kita. Yakinlah bahwa jika kemangkiran ini memang karena niat baik dan kita tidak punya reputasi jelek sebagai belut atau tukang ruwet kalau bekerja, maka akan ada rekan kerja lain yang dengan ikhlas membantu atau menggantikan. Semua akan berpulang pada niat baik dan investasi sosial yang telah kita tanam sendiri.

N.B. Tentunya kemangkiran ini tidak berlaku dalam situasi darurat seperti sakit, kecelakaan, melahirkan, dsb.

 

 

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s