Selera Humor dan Ruang Publik

“Heran, kenapa selera humor kita makin lama makin menipis ya?”
“Ya enggak, emang kayak gitu gak pantes dibuat guyonan!”

Itu cuma sepotong dialog dengan seseorang tadi siang. Tanpa perlu mengelaborazi konteks yang kami bahas, pada akhirnya Saya menyadari bahwa selalu ada pilihan ke-tiga, yaitu kami berdua sama-sama salah. Kami sama sekali tidak memahami hakikat struktur maupun syarat sahnya sebuah guyonan.

Sebuah guyonan, pada dasarnya terdiri dari 3 hal, pengguyon, pendengar/penerima guyonan, dan guyonan itu sendiri alias bahan/objek guyonannya. Bagian ini yakinlah bahwa nyaris semua orang sudah paham (atau faham, ah terserahlah). Yang sederhana namun makin banyak yang kurang paham adalah bagian berikutnya, yaitu syarat sahnya sebuah guyonan.

Pada prinsipnya, tidak ada hal yang baku mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dipakai bahan bercanda. Apa yang dianggap boleh di suatu komunitas bisa jadi dianggap tidak boleh bahkan tabu di kelompok lain. Bagi anda body shaming itu boleh, bagi orang lain belum tentu. Bagi anda menggunakan ilustrasi nama hewan itu boleh, bagi orang lain belum tentu, dan so on. Syarat suatu guyonan untuk menjadi sah sebenarnya sederhana saja, yaitu semua pihak yang menerima guyonan tersebut sama-sama menerima itu sebagai guyonan.

“Jangan sembarang bicara pada orang asing.” Nasihat orangtua saat kecil ini memang banyak benarnya. Hal ini juga berlaku dalam semesta percandaan. Kalau kita bercanda dengan orang yang sudah kita kenal baik, normalnya kita sudah paham akan SINA (SIstem Nilai dan Asumsi) yang dia miliki. Kita akan tahu bahan pembicaraan/candaan apa yang berpotensi menyinggungnya atau tidak (meski kadang ada saja orang usil yang mencuri dengar kemudian berusaha mengadu domba 😛 ). Hal ini tentunya bertolak samping dengan orang asing, karena itu memang sebaiknya jangan bercanda dengan orang asing kalau belum mengenalnya sama sekali.

Sederhana sekali kan? Tapi memang susah diamalkan, sampai sekarang pun Saya masih sangat kesulitan mengamalkannya 😛 . Lantas bagaimana kalau kita berada pada situasi dimana kita diminta bercanda? Ya itulah pentingnya sebuah persiapan, pentingnya mempelajari terlebih dahulu siapa saja yang harus kita candai, dan berdoa semoga perkiraan kita tentang selera humor bacalon audiens kita tepat. Kalau salah, segeralah minta maaf, kata-kata “cuma bercanda” itu jauh lebih elok bersanding dengan permintaan maaf daripada dengan pembelaan diri.

Lantas apa hubungannya antara bercanda dan ruang publik?. Banyak, di dan atas nama ruang publiklah sebuah candaan seringkali jadi masalah. Seiring kemajuan zaman, kecanggihan teknologi, meratanya akses internet, dan semakin terkebutuhan pokoknya bandwith internet berakibat sekat-sekat dan dinding informasi semakin terkikis. Sebuah diskusi atau obrolan yang semestinya hanya untuk kalangan terbatas, bisa direkam dan disiarkan ke banyak orang lain. Misal kalau ada seorang pelatih yang sedang membrifing tim sepakbolanya sebelum bertanding mengatakan, “hati-hati dengan si X nomor punggung Z tim lawan itu, dia sepertinya bukan manusia, tapi kerbau berkaki dua.” Kalimat ini tentunya maksudnya bercanda, sekaligus pujian bagi si X karena tenaganya yang begitu besar. Namun jika rekaman saat si pelatih ngomong begini di pinggir lapangan stadion yang notabene adalah ruang publik sampai ke tim lawan, bisa saja kata-kata “kerbau berkaki dua” ini kemudian menjadi masalah.

Merekam dan menyebarkan sesuatu memang bukan hal yang sulit. Semudah angkat ponsel, rekam, unggah, selesai. Dalam waktu singkat dan dengan sedikit pengantar yang tepat, semua itu akan tersebar dan ditonton/didengar banyak orang. Persetan dengan privasi, persetan dengan adab meminta izin sebelum merekam apalagi menyebarkan, semua itu tak berarti dengan pembenaran bahwa semua itu terjadi “di ruang publik”.

Kita sudah sering menyaksikan bagaimana sesuatu pembicaraan atau candaan yang pada saat disampaikan di lokasi tidak terdapat masalah tapi justru kemudian menjadi masalah ketka didengarkan atau ditonton oleh mereka yang tidak ada di sana. Lantas bagaimana seharusnya? Mungkin kita memang perlu sebuah aturan atau regulasi yang baku dan tegas tentang batas-batas definisi “ruang publik” dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Kalau hal ini ada, mungkin kegaduhan-kegaduhan akibat “salah forum” atau “salah konteks” bisa ditekan. Semoga saja harapan ini bisa terwujud, atau kalau memang sudah ada sudi kiranya berikan saya pencerahan 😀 .

This entry was posted in Celoteh, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.