Aku, Kau, dan Kue Gandum (2)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini 😀

“Maaf Bu, sebelah sini hanya untuk yang bayar tunai,” Kata Tika pada seorang ibu-ibu yang berbelanja cukup banyak di depannya. “Masa gak bisa sih mbak, kan tinggal gesek ke sebelah saja,” omelnya. Dia menunjuk ke papan petunjuk yang tergantung di atas kasirnya, “Maaf Bu, ini lorong cepat, khusus untuk yang bayar tunai dan tidak pakai troli. Kalau mau, ibu bisa antri di kasir sebelah.” Ibu-ibu tersebut mengomel dan akhirnya tidak jadi belanja kemudian ngeloyor pergi begitu saja. Tika tampak menghela nafas, “Mas Dennn,” panggilnya, “tolong ini, batal.” Kuperhatikan wajahnya, dia tidak terlihat sedih meskipun diomeli Ibu-ibu tadi, mungkin memang orangnya dasarnya ramah.

Setelah ibu-ibu itu pergi, aku maju dan membayar kue gandumku. Aku melihat sekeliling, mencari sesuatu. “Rina gak ada mas, dia shift pagi tadi,” kata Tika tiba-tiba sambil menyerahkan kue gandumku. “Oh iya, terima kasih,” jawabku kaget. Tika mengangguk, kemudian tersenyum, lesung pipitnya terlihat dengan jelas. Aku menuju tempat parkir, dan memacu motor kembali ke kantor. Sebenarnya aku masih lembur, tapi tadi izin sebentar pergi beli makan, ternyata yang kucari tidak ada.

Besok malamnya, aku melihat Rina ada di meja kasir yang tengah. Segera aku buka loose leaf, merobek selembar kertas kecil, dan menulis, “Libur hari apa?”. Sewaktu membayar, setelah dia menyerahkan kue gandumku, aku berikan kertas itu padanya. Aku memutar masuk kembali, kulihat dia membaca kertas itu dan menuliskan sesuatu. Setelah berkeliling sembari menikmati lagu Ebiet G Ade yang diputar, aku memutuskan membeli tissue kecil, sekedar formalitas untuk bisa ke meja kasir.

Saat menyerahkan belanjaanku, Rina juga menyerahkan kertas kecil itu. Aku tersenyum, dia juga. Aku duduk di emperan toko, di sebelah kakek-kakek penjual kerupuk yang tertidur, kubuka kertas dari Rina tadi. Di dalamnya ada nomor telepon dan sebuah pesan “sms atau telepon saja”, aku tertawa karena langsung teringat iklan parfum di tv yang menulis nomor telepon di atas roti.

Kira-kira jam 11 malam aku ambil handphoneku, kukirimkan sms ke Rina.
“Sibuk?”
Tak lama ada balasan, “Baru saja sampai rumah”
“Jadi, kapan kamu libur?”
“Kenapa?”, balasnya singkat. Aku jadi ragu-ragu mau mengirim pesan selanjutnya, jangan-jangan dia malas menanggapi, atau jangan-jangan dia sudah lelah. Akhirnya nekat sajalah kukirim.
“Mau ajak kamu keluar”. Dan benarlah, lama tidak ada balasan, akhirnya aku putuskan tidur saja dengan kecewa.

Besoknya, sewaktu makan siang, tiba-tiba handphoneku bergetar, rupanya ada sms. Waktu kubuka rupanya dari Rina.
“Maaf, kemarin sudah tidur.”
“Iya, tidak apa-apa,” balasku. Aku curiga dia berbohong, tapi untuk apa dibuktikan, tidak ada untungnya. Kalaupun benar tidak ada untungnya, kalau salah malah malu, seperti fanboy-fanboy capres di sosmed aja. Akhirnya aku memilih kembali SMS Rina.
“Jadi, kamu mau tak ajak keluar?”
“Keluar dimana?”
“Ya diluar, belum tahu sih ke mana,” kemudian lama lagi tidak ada jawaban.

Selepas sholat ashar, balasan dari Rina baru masuk.
“Shiftku nanti selesai jam 4.”
“Kalau jam 5 gimana? Aku baru lolos dari kantor jam 4 lebih dikit”, balasku
“Ya,” balasnya singkat. Senangnya hatiku hilang panas demamku menerima balasan terakhirnya. Tapi entah kenapa, rasanya ada yang mengganjal, hanya aku tidak tahu apa.

Jam 4 lebih 5 menit aku sudah cabut dari kantor. Tidak sampai 20 menit untuk tiba di supermarket. Di dalam, aku lihat Rina sedang berdiri di samping Esty, dia sudah memakai jaket dan membawa tas. Dia menoleh ke arahku, kemudian berjalan mendekat. “Sudah lama?” tanyaku. “Memang dari pagi kan di sini,” jawabnya, tersenyum. “Ya wis, yuk,” ajakku. Dia pamit ke Esty dan segera menyusulku berjalan ke luar. Mampus kau, aku benar-benar tidak ada rencana, aku tidak menyangka dia benar-benar mau diajak keluar.

“Mau ke mana jadinya?” Rina tiba-tiba bertanya. “Kamu bawa motor?” tanyaku. Dia menggeleng, ya iyalah, dia kan jalan kaki, pertanyaan macam apa itu Ariffff. “Eeee, sebenernya aku juga belum tahu mau ngajak ke mana, aku terus terang ndak menyangka kamu mau tak ajak keluar,” aku mengaku. Dia tertawa kecil, pertama kalinya aku melihat dia tertawa, “Ya sudah, ke dekat-dekat sini saja. Minum es campur di seberang jalan aja gimana?” Aku mengangguk, lalu kita berjalan ke tempat es campur tersebut. Setelah mendapat tempat duduk, dia memesan 2 porsi es campur untuk kita. Oke, kita sudah duduk, berdua, menunggu pesanan, now what?

“Bagaimana kabarmu hari ini?”, aku mulai bicara. Rina kembali tertawa kecil dengan tangan terangkat di depan mulutnya, aduhai makin terlihat cantik dia kalau tertawa lepas. “Aku kira mau tanya apa,” katanya, “Baik-baik saja kok, seperti biasanya.” Aku makin berpikir, mencari jawaban atas kebuntuan otak dan kram lidah ini. Saat-saat seperti ini aku sadar bahwa bisa kerja kerja dan kerja saja tidak cukup, komunikasi ternyata juga penting. Pergi berdua dengan cewek memang bukan hal asing bagiku. Tapi yang ini beda! Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Seandainya ini sinetron, akan dengan mudah semuanya selesai dengan kehadiran Deus ex Machina. Akhirnya kuputuskan untuk kembali nekat saja.

(Bersambung)

Advertisements
This entry was posted in Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Aku, Kau, dan Kue Gandum (2)

  1. Pingback: Aku, Kau, dan Kue Gandum (3) | emaerdei

  2. Pingback: Aku, Kau, dan Kue Gandum (1) | emaerdei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s