“Jin Botol”, kadang ditambah “O” yang banyak (Jin Botooooool, red), panggilan akrabku buat kawanku satu ini. Pertemuan kita pertama kali adalah di lapangan Voli. Melihat sosoknya, benak ini sempat memberi keremehan, “ah paling tidak akan bertahan lama anak ini”. Sebuah pra pengadilan pikiran yang terbukti salah besar. Dengan kepercayaan dirinya yang besar, ditambah emosi yang bergelombang, dan sejumlah drama, ternyata dia bertahan sampai akhir, bahkan cukup lama setelahnya. Itulah sosok Edwin Fajerial yang saya kenal, ramah, suka ngobrol, rasa ingin tahunya besar, percaya diri, (kadang terlalu) jujur, dan (kadang berlagak) polos. Rasa ingin tahunya yang besar itu terfasilitasi dengan sukses sesuai dengan pilihan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Sejumlah media besar pernah dia “mencloki”, dan terakhir di salah satu media online yang cukup besar, sampai akhir hayatnya.
Continue reading →