Stop Victim Blaming

image

Ada orang yang suka memakai perhiasan dalam jumlah banyak sampai terlihat dengan jelas saat dia berjalan. Ketika kemudian ada oknum yang tergoda untuk merampoknya, tidak jarang orang justru mencibir “salahnya sendiri perhiasan dipamer-pamerkan”. Entahlah logika macam apa yang sekarang lagi tren, tapi menyalahkan korban itu jelas absurd, kecuali korban memang secara aktif memprovokasi duluan (misalnya sengaja melemparkan perhiasannya ke muka si perampok duluan, atau mengata-ngatai si perampok karena tidak punya perhiasan sebanyak dia) (itu pula yang membuat kekaguman saya pada Zinedine Zidane tidak pernah surut meski dia melakukan “sundulan” legendarisnya) . Tapi apakah dengan menimpakan segala kesalahan ke si perampok lantas semuanya happy ending?

Sering kita meributkan salah benar sampai hal-hal yang paling kecil sampai melupakan hal lain yang lebih penting. Ketika kasus perampokan mulai marak, banyak pihak menekan pemerintah agar bisa menyediakan rasa aman di jalan, memberikan hukuman setimpal, dan lain lain. Itu memang benar, sama sekali tidak salah. Tapi apabila itu belum bisa dilakukan, apa yang kita sebagai calon korban potensial ini bisa lakukan untuk menurunkan resiko?

Ketika ada yang menghimbau untuk menghindari lewat jalan tertentu di jam tertentu, untuk mempersenjatai diri dengan semprotan merica, bahkan belajar kungfu ke kwai cheng caine, janganlah direaksi dengan berlebihan. Himbauan itu hanya bentuk kepedulian. Kalau anda tidak bawa semprotan merica anda tidak salah, kalau anda tidak belajar kungfu ke Kwai Cheng Caine anda tetap tidak salah, dan bahkan ketika anda melewati jalan sepi yang terkenal banyak perampoknya dengan sederet perhiasan, anda tetap tidak salah. Tapi berada di posisi yang benar itu bukan berarti kita bebas dari resiko.

Anggaplah orang yang merampok itu orang mabuk, tidak bisa diajak bicara, atau you name it segala hal jelek lain. Ketika dia merampok, kalau ada petugas tentu petugas akan membantu anda mencegah perampokan. Pertanyaannya adalah ketika kebetulan tidak ada petugas, apakah kita akan rela begitu saja dirampok? Perlukah kita melakukan antisipasi-antisipasi?

Well, sekali lagi, itu pilihan, dan tidak ada pilihan yang salah. Sama seperti ketika anda berada di jalur yang lurus kemudian dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang mabuk melawan arus ke arah anda. Ketika terjadi kecelakaan, tentu anda tidak salah, tapi apakah anda berusaha menghindari kecelakaan itu atau tetap bersikukuh mempertahankan jalur anda karena posisi anda benar adalah pilihan.

Standar batas kebenaran yang worth to die for bagi setiap orang memang berbeda. Karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang atas pilihannya, pun begitu jangan salahkan orang ketika dia menghimbau atau memberi saran. Tapi ketika ada yang melakukan victim blaming, saya juga kurang paham isi kepala mereka yang melakukannya :D.

Sumber gambar : di sini

Advertisements
This entry was posted in Celoteh. Bookmark the permalink.

5 Responses to Stop Victim Blaming

  1. Asop says:

    Jadi, mari kita mencoba berpikir dengan kepala dingin sebelum menuduh atau menyalahkan salah satu dari kedua belah pihak yang berseteru. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s