Non Stop, Harga Gak Bisa Bohong

“Harga gak bisa bohong”, idiom yang sering kita dengar di dunia perjual belian. Kalau di dunia perfilman kira kira mungkin “aktor gak bisa bohong” lebih cocok. Kalau memang dasarnya aktornya sudah bagus, film yang biasa juga akan terasa bagus, seperti film Non Stop misalnya.

Ini hanya pendapat orang awam yang tidak mengerti seni. Jadi kalau anda tidak seperti saya yang entah kenapa tidak bisa menikmati film 12 years a slave yang katanya menang Oscar itu ya gakpapa. Sama juga seperti saya yang gak bisa memahami lucunya stand up comedy ala sang “maestro” stand up yang katanya perlu daya intelektual tinggi. Saya lebih bisa menikmati stand upnya mas Muslim yang lebih apa adanya.

Oh iya, kembali ke tablet, jadi film Non Stop ini sebetulnya ceritanya ya bukan hal baru, setting dalam pesawat sudah sering kita temui di film terdahulu. Plotnya dimana pelaku baru ketahuan di akhir dan ternyata adalah muka lama juga bukan hal baru. Kita juga tidak akan menemukan adegan baku hantam ala Jet Li atau penuh efek seperti Hercules, tapi tetap saja akting keren Liam Neeson yang membuat film ini terasa bagus.

Gimmick seperti pesan teks di ponsel yang muncul di layar lumayan memberikan sentuhan sehingga pemirsa bisa lebih mengikuti perkembangan cerita. Dan yang paling saya sukai adalah adegan terakhir saat pramugari dan pilot benar benar menunjukkan dedikasinya dengan keluar paling akhir. Dan satu lagi yang saya sukai, tokoh antagonisnya ada yang wajah dan gayanya mirip Will Smith :D.

Jadi kesimpulan saya sederhana, “aktor gak bisa bohong” tampaknya masih berlaku. Bukan berarti kalau film dengan aktor tidak terkenal pasti jelek, karena aktor terkenal juga akan mengawali karirnya dari bawah. Tapi kalau anda tidak mau berjudi dan kecewa (seperti saya waktu nonton 12 years a slave atau hercules), saran saya pilih film yang aktornya jelas 😀

Advertisements
This entry was posted in Review and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Non Stop, Harga Gak Bisa Bohong

  1. Film itu subjektif. Ga masalah kalau kita menyukai suatu film tapi tidak disukai oleh orang lain, bahkan jika orang itu sekelas Roger Ebert sekalipun. Aku ketiduran waktu nonton “Lost in Translation” yang katanya Penthol sangat-sangat bagus sekali. Tapi nonton “The Raid” bisa excited banget padahal Roger Ebert cuma ngasih 2 bintang (kalo ga salah). Critics are just like eunuchs in a harem. They know how it’s done, they’ve seen it done every day, but they’re unable to do it themselves.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s