
Pendidikan yang tinggi mungkin adalah cita-cita sebagian orang, saya salah satunya. Tapi cita-cita tinggallah cita-cita, kalau tidak diiringi usaha yang sepadan, tetaplah kita jadi pencita-cita kelas kakap. Sulit meraihnya, menjaga kepantasannya pun sama. Ketika kita sudah mengenyam pendidikan lebih tinggi, akan semakin besar ekspektasi pihak lain terhadap kita. Artinya, kesalahan yang mungkin dianggap biasa, akan menjadi luar biasa tatkala pelakunya berpendidikan lebih tinggi. Di dunia dan profesi lain pun sama saja. Misal, orang mungkin akan sinis memandang orang yang merokok, tapi kesinisan itu akan berlipat-lipat tatkala yang merokok itu dikenal atau memakai identitas seorang dokter.
Kembali ke pendidikan, ada salah satu perilaku dari sebagian mereka yang terdidik lebih tinggi yang akan sangat dibenci dan memantik reaksi kebencian yang tidak kalah kerasnya. Itu adalah perilaku atau mindset merasa jadi “orang terpilih” atau berbeda. Manifestasi rasa berbeda ini macam-macam, tidak selalu dengan ucapan, kadang juga muncul dalam aktivitas sehari-hari. Misal, pernah ada rekan kerja yang menolak melakukan pekerjaan fisik karena merasa dia seorang sarjana
Ya kita semua tahu, memang untuk meraih pendidikan itu ada investasi yang kita keluarkan, entah waktu, biaya, ataupun kebahagiaan. Namun tidak semestinya juga menuntut orang menghargai kita lebih karena investasi yang sudah kita lakukan. Ini prinsip dagang sederhana, orang akan mau membayar lebih untuk produk yang bagus. Artinya kalau kerjaan yang di-deliver memang bagus, ya orang tidak akan peduli kamu profesor atau bahkan tidak pernah sekolah. Jadi jika kita ingin dihargai lebih, ya berikan hasil yang terbaik, bukan pilih-pilih kerjaan apalagi meremehkan bahwa suatu pekerjaan itu adalah untuk mereka yang berpendidikan lebih rendah.
Kalaupun kita ingin menetapkan standar sendiri, tetap tidak semudah itu. Meskipun kita sebagai owner sekalipun, pelanggan kita tetap akan melihat apa yang kita berikan, bukan seberapa besar investasi kita untuk memberikan produk itu. Pada akhirnya, mengeluh dan menyalahkan semesta karena tidak menghargai pendidikan dan usaha kita meraihnya alih-alih menunjukkan kualitas yang membuat kita pantas dihargai hanya akan menambah rasa muak.
Namun itu baru satu dimensi saja. Di alternate universe lain juga ada kok situasi di mana ijazah dipuja-puja. Di mana orang dibayar lebih tinggi asal ijazahnya lebih tinggi tak peduli bisa bekerja atau tidak. Penilaian berbasis kinerja, apa itu? Bahkan, tidak jarang juga pendidikan menjadi prasyarat yang tidak semestinya. Lowongan pada posisi tertentu mensyaratkan tingkat pendidikan tertentu padahal tidak tercermin juga dalam job desc yang akan dikerjakan.
Jadi, daripada mengeluh dan mengutuk apalagi menyesal berkepanjangan, opsi pindah universe juga tersedia 😁. Tapi ya kembali lagi, yakinkah universe seperti itu yang kita inginkan?
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”,
-Tan Malaka-