Mimpi Tentang Integrasi

Image by freepik

Suatu hari di Madgar, mendadak Rafus Shanro, Wakil Direktur Utama Shanro mengadakan rapat direksi. Hampir seluruh tokoh penting perusahaan pembangkit listrik yang menguasai Madgar tersebut hadir, bahkan orang-orang yang hanya namanya yang pernah diketahui publik Seperti Lojo sang Direktur Riset, Metekker pemimpin Divisi Keamanan Publik, sampai Taseti si otak di balik rencana-rencana strategis Shanro. “Ayahku meminta kita semua berkumpul untuk sebuah agenda penting, yaitu pengintegrasian sistem kita”, sambut Rafus membuka rapat tersebut. Sontak seluruh direksi saling berpandangan mata mendengar kabar gembira tersebut, bukan karena kulit manggis kini ada ekstraknya, tetapi lebih terpancar aura kebingungan di antara mereka. Masing-masing dari mereka ternyata memiliki alasan kenapa mereka enggan bahkan cenderung takut melaksanakan integrasi tersebut.

Trust Issue Layanan

“Siapa yang nantinya akan mengelola sistem yang terintegrasi tersebut?”, Metekker membuka pertanyaan memecah keheningan rapat. “Divisi IT yang dikomandani Melrin tentunya”, sahut Rafus tegas. “Kami tidak masalah sih Bos, tapi Bos Rafus kan tahu, kami ini mengelola banyak sekali pasukan mulai kelas infanteri biasa sampai yang elit, salah satunya Saripoth si pahlawan perang, yang pernah menghancurkan markas dan batalion musuh sendirian hanya dengan pedang panjangnya”, urai Metekker. “Kalau memang pengelolaan sistem ini diambil alih, kami hanya ingin memastikan kalau perubahan dan penambahan fitur bisa tetap dilakukan secara cepat seperti waktu masih kami kelola sendiri”, lanjutnya. “Oke, saya akan pastikan Melrin memahami dan memiliki SDM yang memadai untuk itu”, janji Rafus pada Metekker. Calon pewaris perusahaan itu lega satu divisi sudah berhasil dirangkulnya.

Proses Bisnis yang Tidak Semestinya

“Anu Bos, kira-kira, seberapa jauh tim IT kami bisa ikut mengelola antarmuka dari sistem baru nanti?”, kali ini giliran Taseti bertanya. “Ya tentunya untuk antarmuka karena ini sudah diintegrasikan berarti akan dikelola sepenuhnya oleh Divisi IT”, jawab Rafus. Taseti langsung kebingungan, dia kembali diam sembari tangannya memainkan handphone membuka iklan lowongan pekerjaan. Rupanya Taseti dan divisinya selama ini dalam menyajikan data-data strategis pada pimpinan bukan diperoleh dari proses pengolahan data yang semestinya. Selama ini angka angka dan data hanya di-hard code saja alias angka tempelan. Kelemahan fatal itu ditutupnya dengan tampilan sistem yang begitu menarik dan terlihat seolah-olah cepat dan fast respond. Yang paling parah adalah, ternyata vendor yang dulu membangun sistem tersebut dibayar tanpa ada serah terima dokumen teknis maupun petunjuk pemakaiannya.

Data yang Disembunyikan

Melihat Taseti terdiam, Lojo lebih panik lagi, keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. akhirnya dia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya,  “Kalau soal data, seberapa jauh tim kami bisa melakukan pengolahan dan akses ke basis data dalam sistem baru tadi?”. Rafus yang memang sudah lama curiga menjawab sambil tersenyum tipis, “Tenang saja Lojo, tim kalian tentunya tetap memiliki hak akses ke basis data sesuai kewenangannya, tapi tentunya Divisi IT akan secara rutin melakukan audit sesuai standar pengelolaan dan jaminan mutu data, selama tidak ada manipulasi tidak perlu khawatir”. Lojo lemas, dia pun terdiam dan mengirim pesan ke Taseti, “Kalau udah dapat lowongan ajak gue ya”. Rupanya selama ini Lojo banyak sekali menyembunyikan data, terutama data-data risetnya yang gagal dan menggunakan metode-metode yang tidak manusiawi. Dia hanya melaporkan data untuk riset yang berhasil seperti yang dilakukannya terhadap Saripoth, yang kini menjadi andalan dan anak kesayangan Metekker.

Rafus tersenyum puas melihat tidak ada lagi perlawanan dari para direksi. Dia segera mengakhiri rapat dan bersiap melaporkan hasilnya pada sang ayah. Di lorong menuju kantor sang ayah, dia melihat Revaldi, pemimpin Divisi pengawasan. “Bagaimana?”, tanyanya singkat. Rafus tersenyum lebar dan membalas, “Tepat seperti dugaanmu, Taseti dan Lojo terlihat jelas kalau mereka panik”. Mereka pun melakukan toss dan Rafus kembali berjalan santai menuju kantor Shanro Melekedi, sang ayah dan pendiri Shanro.

This entry was posted in Celoteh, Cerita, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a comment