Men sana in corpore sano
Kemajuan zaman memang memiliki residunya, salah satunya adalah pergeseran dalam lapangan pekerjaan. Seiring bergeraknya roda modernisasi, lapangan pekerjaan yang menuntut porsi kerja pikir dibanding kerja fisik semakin banyak. Hal ini tampak semakin nyata di daerah perkotaan, terurama kota-kota besar. Lucunya adalah, semakin maju, biasanya tingkat stresnya juga makin tinggi. Mungkin ini sejalan dengan slogan di atas, “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Salah satu efek samping dari berkurangnya porsi pekerjaan fisik adalah berkurangnya aktivitas fisik (yang benar) sehingga menimbulkan masalah-masalah kesehatan seperti obesitas, kebugaran yang menurun, dll. Di sisi lain, waktu dan tekanan kerja yang tinggi juga menyebabkan olahraga terpojokkan ke papan bawah klasemen aktivitas harian. Jika kita memang tidak bisa konsosten mengalokasikan waktu khusus secara rutin untuk olahraga, salah satu solusi alternatif untuk bisa tetap rutin berolahraga di tengah zaman serba statistik ini adalah dengan transportasi umum (transum).
1. Disiplin
Kenapa transportasi umum, setidaknya di kota-kota besar bisa jadi solusi? Karena naik transum akan memaksa kita untuk bergerak lebih banyak. Posisi dan rutenya yang tidak bisa sekehendak hati akan memaksa kita untuk bergerak ke titik kumpul atau halte-halte terdekat dari tempat tinggal dan tempat tujuan kita. Jika dilakukan dengan rutin, tentunya sedikit banyak akan ada nilai tambah untuk kebugaran tubuh. Namun agar tidak justru berdampak negatif bagi pekerjaan/sekolah bahkan kesehatan kita, tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Kunci pertama kalau ingin menjadikan transum sebagai bagian dari hidup adalah disiplin. Mereka dirancang untuk melayani masyarakat umum, bukan hanya kita. Jam keberangkatan dan halte tentunya sudah ditentukan dan sulit untuk berubah kecuali terdapat hal ikhwal keadaan yang memaksa. Kalau ingin me time di kamar mandi lebih lama? Ya bangun lebih pagi. Ingin bisa jalan lebih santai dan tidak terburu-buru, ya bangun lebih awal. Ingin layanan publik Pemerintah lebih bagus? Bantulah awasi dan laprkan kecurangan di SP4N Lapor. Gerah melihat bantuan sosial tidak tepat sasaran? Awasi dan bantu pemutakhiran DTSEN lewat Cekbansos. Ingin kesemrawutan lalu lintas berkurang? Berhentilah jadi bagian dari para pencuri yang melawan arus, apalagi saat jam macet. Disiplin adalah kunci paling sederhana dari banyak persoalan.
2. Pakai Masker dan Jaket
Berjalan menuju halte bukan tanpa risiko. Selain risiko kecelakaan, polusi juga menjadi ancaman yang bisa kontraprpduktif dengan niat ingin sehat. Belum lagi jika kita beruntung mendapatkan transum yang dilengkapi AC yang cukup dingin, maka jaket dan masker menjadi sebuah kebutuhan untuk mencegah kita justru tertular penyakit akibat kepenuhsesakan dari bermacam-macam kondisi penumpang di sana maupun dari udara yang mungkin kurang bisa ditolerir oleh tubuh kita.
3. Petakan dan pelajari
Sebelum naik, pastikan dan rencanakan terlebih dahulu halte tempat kita akan naik dan turun, perhitungkan juga waktu tempuh yang dibutuhkan, dan yang paling penting pastikan transum mana yang mau kita naiki, jangan sampai salah naik dan justru naik kereta menuju Hogwarts. Informasi tentang ini sangat mudah didapat, mulai dari publikasi resmi dari instansi terkait sampai dari internet. Rancanglah rute anda dengan jarak tempuh sekurang-kurangnya 15 menit berjalan kaki, kalau mau berangkat lebih awal bisa juga ambil dengan jarak tempuh 30 menit atau lebih supaya aktivitas jalan kaki bisa optimal dan terhitung sebagai olahraga yang benar.
Jika sudah siap berdisiplin, sudah punya perlengkapan dan informasi yang cukup, langsung saja dimulai untuk beralih ke transum. Tentunya ini semua dengan catatan jika tersedia. Jangan memaksakan diri juga jika ternyata beralih ke transum justru membuat waktu tempuh kita jadi bertambah 2 jam dari biasanya misalnya. Jika kita kebetulan bekerja di bidang yang berurusan dengan kebijakan atau teknis transportasi umum ini, justru sangat disarankan untuk menaikinya. Inilah saatnya kita memetik dan merasakan nikmatnya transportasi umum yang sudah kita rancang dan kerjakan dengan baik dan sepenuh hati. Toh jika kemudian ada masalah, justru adalah kesempatan berharga untuk mendapatkan bahan evaluasi dan feedback secara langsung bukan?
