Cogito ergo sum
Descartes
Keresahan, adalah salah satu ibu yang banyak melahirkan pemikiran-pemikiran hebat, dan tidak jarang juga berujung pada tindakan dan/atau gerakan yang tidak kalah hebat. Kata Descartes, “Saya berpikir maka saya ada”, berpikir adalah suatu indikator bahwa seseorang itu masih manusia. Masalahnya, meskipun secara normal sistem tubuh manusia sudah dirancang dan dibekali front end dan akses API ke otak untuk berpikir, tidak semuanya menggunakan fasilitas itu dengan baik. Ibarat coding sebuah aplikasi, proses berpikir atau bernalar juga perlu diasah dan dioptimasi bahkan dilakukan penataan ulang (refactor) agar berfungsi maksimal.
Dulu, waktu masih bangga-bangganya memakai jaket almamater, ada senior cantik nan cerdas (yang akhirnya menikah dengan senior saya yang lain) yang pernah memberikan sebuah materi tentang manajemen organisasi. Satu tagline yang saya ingat betul dari lembar kertas mika berisi materinya adalah “Gagal merencanakan = Merencanakan gagal”. Tidak, bukan tagline itu yang ingin dibahas kali ini, tapi acara tersebut. Dalam acara tersebut, secara keseluruhan atau sebagian besar dijalankan dengan konsep “pengalaman terkendali”, konsep yang juga baru saya pahami saat estafet pelaksanaan kegiatan tersebut jatuh ke tangan angkatan Saya.
Pengalaman terkendali adalah sebuah proses yang dilaksanakan untuk membuat subjek atau para peserta merasakan sebuah pengalaman dalam batasan-batasan tertentu. Dalam istilah modern mungkin yang paling dekat adalah “simulasi”, meskipun sebenarnya istilah ini kurang tepat. Intinya, kita ingin mendekatkan seseorang atau sekelompok orang secara langsung kepada suatu permasalahan yang nyata. Ada banyak alasan kenapa metode ini dilakukan, mulai dari membuka wawasan sampai dengan tujuan lain yang lebih rumit, namun pada intinya tujuan utamanya adalah untuk menggugah keresahan sebagai pintu depan atau langkah awal dari proses berpikir yang mengikutinya.
Kenapa keresahan perlu digugah? Karena mereka yang tidak resah belum tentu merupakan orang-orang yang tidak peduli. Mungkin saja mereka memang tidak melihat hamparan pahitnya kenyataan di sekitar mereka. Seorang mahasiswa yang dituntut harus memenuhi 80 persen absensi dan nilai minimum untuk tidak Drop Out mungkin tidak akan sempat melihat bagaimana kakak-kakak alumni pendahulunya ternyata tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak hanya bermodal ijazah dan transkrip cum laude nya. Mereka juga mungkin tidak sempat melihat kenyataan bahwa banyak anak seusia mereka di sekitar kampus mereka ternyata justru tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi meskipun jaraknya hanya hitungan langkah atau meter.
Ada sejumlah metode yang dapat dilakukan untuk memberikan pengalaman terkendali ini. Yang pertama tentunya dengan membawa (secara fisik) ke dalam situasi tersebut. Dengan menjadwalkan secara rutin seorang mahasiswa untuk “nongkrong” di tempat pemuda-pemuda putus sekolah seusianya berkumpul, akan lambat laun memicu interaksi di antara mereka. Apabila pendekatan ini tidak dapat atau terlalu riskan dilakukan, cara lainnya tentunya adalah dengan menggiatkan diskusi-diskusi tentang hal ini sehingga dapat merangsang perhatian dan pemikiran tentang hal tersebut. Pemilihan metode tentunya tidak ada rumusan bakunya, metode yang dipilih tentu harus menyesuaikan tema, situasi lapangan, dan kondisi dari pihak yang terlibat.
Salah satu metode tertua yang sudah diterapkan sejak zaman kerajaan kuno adalah metode “ngenger”. Menurut KBBI ngenger adalah “orang yang menyerahkan jiwa dan raganya kepada majikannya” atau “menitip anak kepada para priyayi untuk dijadikan abdi, atau abdi dalam di kalangan kerajaan”. Di zaman modern ini, ngenger dilakukan dengan cara mengikuti atau mengabdikan diri pada seseorang yang dianggap sudah lebih dulu berhasil dalam bidang tertentu, bahasa kerennya adalah menjadi kader. Tidak perlu banyak teori, yang penting ikuti saja apapun kegiatan dari (sekelompok) orang yang diikuti. Tidak perlu kebanyakan teori, amati saja, coba pahami, dan jika perlu bertanyalah. Kalau dalam konteks organisasi atau kantor, ikuti saja dulu (para) pengurus yang sedang bekerja. Meskipun tidak bisa berkontribusi langsung, lama-lama keresahan akan muncul untuk ikut berpartisipasi. Keresahan ini awalnya bisa jadi hanya sekedar agar pekerjaan cepat selesai supaya segera pulang, namun cepat atau lambat, pemahaman dan (semoga) kesadaran akan mengikuti. Apakah efektif? Tentu tidak, karena investasi kesadaran tidak akan bisa diukur dengan nilai-nilai duniawi yang cenderung kapitalistik, dan memang bukan nilai-nilai itu yang dicari.
Kembali ke pertanyaan awal, kenapa keresahan perlu digugah? Apa sebetulnya hasil yang diharapkan dari orang yang tergugah keresahannya. Satu hal yang pasti, orang-orang yang bekerja dengan kesadaran untuk menuntaskan sebuah keresahan tentunya akan mengerahkan segenap kemampuannya, sementara mereka yang hanya menggugurkan kewajiban dan mengikuti perintah akan bekerja seperlunya saja karena tidak ingin mencapai tujuan yang tidak pernah ingin dia ketahui. Apakah efektif? Dalam jangka pendek tentu tidak. Membagi orang-orang tertentu untuk menyelesaikan tugas tertentu yang sudah diatur dengan jelas tentunya akan lebih efektif. Dengan cara ini para pekerja cukup fokus mengerjakan pekerjaannya tanpa perlu memikirkan hal-hal lain, berbeda dengan melibatkan lebih banyak orang untuk sama-sama berpartisipasi mengerjakan sesuatu yang sebetulnya cukup dikerjakan satu atau dua orang saja. Tapi dalam jangka menengah dan panjang, tim yang berjalan dengan kesadaran yang berasal dari keresahan bersama tentunya akan lebih bertahan lama. Mereka akan lebih tahan terhadap perubahan-perubahan eksternal maupun internal dan cepat menyesuaikan diri karena sudah memahami tujuan yang sama, cara boleh adaptif, tujuan yang diyakini dan disadari baik tetap harus tercapai.
Jadi, organisasi macam apakah yang ingin dibangun? Hanya sekedar organisasi sementara untuk mencapai tujuan sementara, ataukah organisasi yang berkelanjutan dengan tujuan bersama baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang? …….
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah
Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)