Juru Cicip dan Penasihat Raja

Dalam suatu perjalanan rombongan raja dari antah berantah, tersebutlah sesosok juru cicip makanan kerajaan yang sedang berkontemplasi. Mulutnya bergumam sambil memandang sosok sang penasehat raja di atas tandunya. “Huh, enak sekali penasihat raja itu, kenapa dia mendapat perlakuan yang istimewa, padahal kita semua kan sama-sama abdi raja. Pekerjaanku juga tidak kalah penting dengannya, bayangkan saja kalau aku lalai atau berniat buruk, tentu raja akan tewas”. Entah karena terlalu konsentrasi atau terlalu menghayati, gumamannya tersebut terdengar ke telinga sang raja.

Pada tengah malam, sang raja membangunkan si juru cicip. “Ya Paduka, apa yang bisa hamba lakukan?” Tanya sang juru cicip. “Aku tidak bisa tidur karena ada suara berisik dari reruntuhan di pinggir sungai itu, tolong kau periksa darimana sumber suara berisik itu.”. Berangkatlah si juru cicip ke reruntuhan yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari perkemahan mereka. Tak lama kemudian dia kembali dan melapor kepada sang raja. “Suara berisik itu berasal dari anak-anak anjing di reruntuhan itu yang mulia,” Lapor sang juru cicip. “Ada berapa ekor anak anjing di sana kok bisa sampai seribut ini?”. Sang juru cicip pun kembali berangkat ke reruntuhan tersebut, tak lama dia kembali dan melapor, “Ada 6 ekor yang mulia.”. “Kenapa mereka ribut?”. Untuk ke-tiga kalinya sang juru cicip memeriksa dan kembali melapor. “Tampaknya mereka kelaparan paduka.”. Sang Raja mengangguk kemudian meminta dipanggilkan penasehatnya.

“Paduka memanggil hamba?” Tanya sang Penasehat. “Aku tidak bisa tidur karena suara berisik di reruntuhan itu, coba kamu periksa ke sana.”. Sang penasehat kemudian berangkat ke reruntuhan itu dan kembali tak lama kemudian. “Suara berisik itu berasal dari anak-anak anjing di sana yang Mulia.”. “Ada berapa ekor anak anjing di sana?”. “Enam ekor Paduka”. “Kenapa mereka ribut?”. “Tampaknya mereka kelaparan, rupanya induk mereka terjepit di reruntuhan tidak jauh dari lokasi mereka berkumpul, saya sudah bebaskan induknya, dan sekarang mereka tidak lagi membuat kegaduhan,” Urai sang penasehat. Sang raja tersenyum dan menoleh ke juru cicip, “Kini kau sudah mengerti kan?” Juru cicip tersebut hanya mengangguk sambil tertunduk malu.

Seringkali dalam hidup kita merasa orang lain mendapat perlakuan yang lebih istimewa, tapi seringkali kita lupa untuk mencari tahu lebih jauh ada apa di balik itu semua. Seringkali kita lupa untuk menilai dan membandingkan kualitas diri sendiri sehingga mendapat perlakuan yang berbeda. Memang tidak semua juru cicip seperti itu, tidak semua penasehat serajin itu, dan tidak semua raja sebijak itu. Banyak cerita di mana raja berlaku tidak adil, penasehat berniat jahat dan membodohi rajanya, juru cicip yang justru menjadi pahlawan atau bahkan juru cicip yang ketika sudah dibukakan kenyataan sejelas itupun masih tetap membenci sang penasehat dan menganggap raja tidak adil. Cerita ini hanyalah cerita, hanya contoh dan ilustrasi. Mudah-mudahan ada hikmahnya.

This entry was posted in Celoteh, Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s