Komitmen dan Keberhasilan

Sekolah Rakyat

Rapat koordinasi tiap minggu bersama Menteri bukan lagi mimpi.

Demikian status medsos seorang teman yang berprofesi sebagai seorang kepala sekolah di Sekolah Rakyat (SR), di mananya tidak perlu disebut rasanya. Membaca kalimat tersebut membuat memahami sederet prestasi siswa SR menjadi jauh lebih mudah. Memang apa istimewanya prestasi siswa SR? Bukankah ada begitu banyak sekolah lain yang juga punya sederet prestasi bergengsi?

Berprestasinya siswa SR merupakan sebuah prestasi tersendiri karena SR ini bahkan belum genap 1 tahun umurnya. Seluruh personil di sana mulai kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, sampai para siswa (mungkin) baru saja bertemu di sana untuk pertama kalinya. Sebagian besar kepala sekolah bukan guru yang pernah menjadi kepala sekolah, sebagian besar guru juga merupakan guru baru dan belum lama memiliki pengalaman mengajar. Segala situasi yang kurang menguntungkan ini membuat proses adaptasi dari semua pihak dituntut untuk berakselerasi secara signifikan. Hal inilah yang menyebabkan bahwa alih-alih tertatih-tatih berjalan, justru mencetak prestasi adalah sebuah prestasi tersendiri yang patut diakui dan diacungi 5 jempol.

Salah satu (bukan satu-satunya) key success factor (faktor keberhasilan kunci) tentunya adalah komitmen yang kuat, terutama dari para pimpinan/pemegang kebijakan sampai ke tingkat bawah secara menyeluruh. Status teman tadi adalah salah satu gambaran yang mengindikasikan adanya komitmen tersebut. Bayangkan bagaimana seorang menteri yang sibuk, namun masih terus mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk secara rutin rapat bersama kepala sekolah, yang secara struktur ada bertingkat-tingkat di bawahnya, bukan untuk seremonial, namun secara sungguh-sungguh berbelanja masalah dan berburu solusi. Betapa banyaknya masalah yang sebetulnya bisa diselesaikan atau program yang bisa dijalankan jauh lebih baik jika pimpinan-pimpinan di segala lini mau menunjukkan komitmen secadas ini.

Kenapa komitmen pimpinan sangat berpengaruh? Ada beberapa faktor yang membuat hal seperti ini bisa menjadi deal breaker atau faktor yang membuat perbedaan mencolok ketika sebuah program ditangani oleh orang yang berbeda, khususnya untuk sebuah program yang baru dan belum mapan. Sejumlah hal yang mungkin bisa dijadikan pembelajaran antara lain:

1. Terbangunnya hubungan emosional

Dengan secara langsung rutin berkoordinasi dengan pimpinan tinggi dalam hal ini Menteri, suka tidak suka, mau tidak mau, akan terbangun hubungan emosional antara para pelaksana dengan pimpinan. Jika hubungan yang terbangun baik, maka pelaksana sangat bisa diduga akan meningkat kinerjanya karena mereka merasakan secara langsung bahwa mereka diperhatikan, didukung, dan punya tempat mengadu. Dengan adanya 3 hal tersebut, lengkaplah sudah faktor pendorong bagi para pelaksana untuk mengabdikan dirinya dan memberikan kinerja terbaik, atau minimal di atas rata-rata. Meskipun demikian, jangan dilupakan pula hal sebaliknya juga bisa terjadi. Jika hubungan yang terbangun kurang baik, bukan tidak mungkin hal tersebut justru akan menjadi faktor kunci suksesnya kegagalan sebuah program.

2. Nirdistorsi Informasi

Komunikasi langsung dan rutin antara pimpinan tinggi dengan pelaksana tentunya unggul dari segi kejernihan pesan yang diterima. Karena dilakukan secara langsung maka distorsi informasi akan (nyaris) lenyap. 99 persen bisa dipastikan tidak akan ada kegagalan komunikasi primer karena semua pesan tersampaikan secara langsung. Meskipun demikian, tetap perlu dilakukan antisipasi kegagalan komunikasi sekunder alias salah menterjemahkan alias salah memahami dengan menambahkan proses monitoring dan konfirmasi dalam pertemuan-pertemuan tersebut.

3. Komitmen yang Menular

Suksesnya komunikasi primer antara pimpinan tinggi dan pelaksana akan membuat komitmen dari pimpinan tinggi menular. Para pejabat di bawah pimpinan tinggi tentunya tidak akan berani sembarangan ingkar, wanprestasi, atau bermalas-malasan karena mudahnya akses untuk sebuah masalah terlaporkan sampai ke atas. Memang sih, mungkin akan ada saja orang-orang oportunis alias orang yang terjangkit demam OPB (Orang Penting Baru) yang mungkin mencoba menjadikan pendeknya jalur komunikasi ini untuk petantang petenteng atau main ancam demi hasrat pribadi, tapi jika kinerja diberikan dengan pijakan yang kuat tentunya hal seperti ini juga bisa diatasi.

Situasi di mana terdapat ketiga hal di atas akan mudah dilahirkan jika terdapat komitmen kuat dari pimpinan tinggi. Namun bukan tidak mungkin dalam tingkat kerja yang lebih rendah situasi tersebut juga bisa direproduksi. Jika para pelaksana atau tingkat manajerial bawah dan tengah juga memiliki komitmen situasi kerja juga bisa dibuat jauh lebih efektif. Soal distorsi informasi misalnya, apabila middle management mau konsisten untuk tidak melakukan distorsi informasi dari pelaksana ke pimpinan tinggi maupun sebaliknya, tingkat efektifitas komunikasi yang tinggi akan tetap bisa dicapai. Namun tulisan ini bukan hendak membahas tentang team building, tulisan ini hanya ingin memberi lampu sorot bagaimana pentingnya dan berbedanya hasil sebuah program jika pimpinan tingginya mau meruntuhkan sekat-sekat kaku yang ada dan langsung mencurahkan perhatian dan pikirannya secara konsisten pada sebuah program yang memang menjadi prioritasnya. 😀

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a comment