PENA, Menyemai Asa, Menuai Jati Diri

Pahlawan Ekonomi Nusantara

Kemiskinan adalah adalah permasalahan pelik yang selalu dihadapi khususnya oleh negara berkembang, bahkan negara maju sekalipun. Problema kesejahteraan sosial ini menjadi penting karena jika tidak ditangani dengan baik akan rentan membuka pintu untuk masalah-masalah sosial lainnya yang akan berujung pada pelanggaran hukum. Sejak berdirinya negara ini, memajukan kesejahteraan umum telah menjadi salah satu tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka mewujudkannya, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani dan mengentaskan Kemiskinan.

Kementerian Sosial Republik Indonesia, yang tugas utamanya adalah mengentaskan kemiskinan, selama ini dikenal dengan upayanya yaitu menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Dua jenis bantuan sosial yang paling besar anggarannya adalah Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako. Terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, kedua program ini dianggap cukup efektif sebagai jaring pengaman sosial yang bisa memperpanjang keberlangsungan hidup masyarakat miskin. Namun harus diakui, seberhasil apapun kedua program itu, mereka belumlah cukup untuk mengentaskan seseorang atau keluarga atau rumah tangga dari kemiskinan. Masih ada satu kepingan puzzle yang dibutuhkan saat seseorang sudah bisa dijaga keberlangsungan hidupnya agar kemudian dapat keluar dari jurang kemiskinan, yaitu kebutuhan untuk memfasilitasi para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) agar berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.

Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA), adalah program yang diluncurkan oleh Kementerian Sosial di paruh akhir 2022. Program ini digagas oleh Ibu Menteri Sosial Tri Rismaharini yang terinspirasi dari program Pahlawan Ekonomi saat dia menjadi Walikota Surabaya. PENA adalah program yang alih-alih memberikan ikan untuk dimakan, justru memberikan kail kepada para KPM. PENA menyemaikan asa kepada mereka yang sebelumnya berada di bawah garis kemiskinan untuk kemudian dapat berdaya dan mencukupi hidupnya sendiri, dan syukur-syukur justru bisa membagi kesejahteraannya kepada orang sekitarnya. Perbedaan mendasar PENA dengan bantuan sosial lainnya terletak pada keberlanjutannya, kunci keberhasilan ada pada pendampingan dan komunikasi yang konsisten. Beratnya beban dan tanggung jawab yang menuntut konsistensi inilah seringkali menjadi faktor penyebab program pemberdayaan dalam skala besar lebih jarang dipilih dibanding memberikan bantuan sosial.

KPM PENA, setelah terlebih dahulu dilakukan survey dan assesment, akan diberikan pendampingan untuk menjalankan usaha yang dianggap cocok baik itu usaha kuliner, jasa, kerajinan, pertanian, ataupun peternakan. Agar usaha yang akan dijalankan tidak berumur pendek, pendampingan juga dilakukan dalam penyusunan business plan sederhana untuk usaha yang dipilih. Mereka kemudian akan diberikan peningkatan keterampilan yang dibimbing langsung oleh praktisi-praktisi di bidangnya. Praktisi-praktisi ini juga tidak jarang merupakan alumni PENA sebelumnya yang telah sukses.

Setelah usaha mereka tumbuh dan memiliki produk yang layak jual, apabila dibutuhkan Kemensos juga akan memfasilitasi agar produk-produk tersebut bisa bertemu dengan pasarnya. KPM juga akan didampingi oleh para relawan dari mahasiswa jurusan desain untuk melakukan makeover terhadap kemasan atau tampilan produknya. Pengembangan desain ini diharapkan dapat mendongkrak nilai jual produknya yang awalnya murah menjadi lebih tinggi. Segmen pasar yang sebelumnya hanya pasar menengah ke bawah juga diharapkan dapat menembus ke segmen menengah ke atas. Sebut saja misal Garam Spa Kusamba (Bali) yang kini bisa didapatkan di salah satu pusat oleh-oleh terkenal di Bali.

Meskipun tidak semuanya berhasil, namun kisah sukses KPM PENA adalah fakta yang tidak terbantahkan adanya. Simak saja Gading, seorang bocah difabel asal Pekalongan, kini dia bisa tersenyum bahagia dengan omsetnya berjualan minuman keliling yang lumayan tinggi bahkan pernah mencapai Rp900.000,00 per hari. Atau simak rasa lega John Sinaga dari Tebing Tinggi, Sumatera Utara karena dia bisa menjalankan usaha Keripik Pisangnya dengan sukses setelah mendapatkan pemberdayaan. Sumadi, seorang KPM penerima bantuan sosial PKH dari Kota Batu, Jawa Timur juga puas dan melepaskan dirinya dari seorang penerima bantuan sosial menjadi pengusaha karena usaha berdagang marie wijennya berkembang pesat setelah mendapat pemberdayaan PENA dan perubahan desain kemasan. Pendapatannya meningkat 2 kali lipat, dan pasarnya juga meluas sampai ke kota-kota sekitar. Usahanya yang berbuah sukses tidak hanya dinikmati sendiri, bukan hal aneh jika kesuksesan KPM PENA juga ikut dirasakan oleh orang sekitar yang kemudian bekerja/dipekerjakan membantu mereka.

Sampai dengan Mei 2024, sudah 28.775 KPM PENA yang digraduasi (tidak lagi menjadi penerima bantuan sosial) oleh Kemensos. Sebagian pihak mungkin menganggap itu angka yang kecil, namun mengentaskan 28.775 keluarga akan jauh lebih berdampak dibandingkan membuat mereka selalu bergantung kepada bantuan dari Pemerintah. Mereka telah menuai jati diri mereka dengan membalik telapak tangan yang sebelumnya di bawah menjadi di atas. Jati diri tersebut didapatkan setelah berhasil mengubah nasib mereka dengan usahanya sendiri karena mau memupuk asa yang disemai serta tetap percaya dan yakin bahwa Tuhan itu adil, dan semua orang berhak untuk sukses.

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a comment