Tidak Perlu alasan

Di suatu sesetengah malam di sesepinggir jalan Ibukota, ketika sedang menikmati kesendirian sembari memandangi hal-hal yang memaksaku untuk merindukanmu, tiba-tiba hujan turun, tidak terlalu deras, namun tetaplah hujan. Di sela-sela hujan itu pengamen datang silih berganti, ada yang solo, berkelompok, modal suara doang sampai modal sound sistem. Dari sekian banyak pengamen itu tidak satupun yang menggugah hati untuk berpaling dari layar handphone yang berisi segala macam katalis kerinduan. Sampai ada satu orang yang membawa gitar, dia menyanyikan lagu yang entah kenapa tiba-tiba rasanya cocok saja dengan suasana hati saat itu. Akhirnya runtuh pula lah pertahanan dompet ini, dan keluarlah uang untuk diberikan pada pengamen tersebut. Setelahnya diri ini kembali disergap oleh rasa rindu sembari menunggu hujan reda.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya suara pengamen tersebut tidak bisa dibilang bagus juga. Permainan gitarnya juga nyaris tidak menggambarkan lagu yang dia nyanyikan sampai dia mulai membuka mulutnya dan bernyanyi. Tapi entah kenapa tiba-tiba rasanya ingin memberi saja karena mendengar lagu yang dia nyanyikan. Kecocokan lagu tersebut dengan suasana hati seolah mengabaikan semua perhitungan objektif lainnya, termasuk apakah uang yang diberikan itu sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar parkir 😀 .

Seringkali hidup memang begitu. Seringkali dalam memilih sesuatu kita tidak mencari yang terbaik, tapi yang sesuai alias pas. Dan seringkali pula sebetulnya yang pas itulah yang memang terbaik untuk kita. Entahlah itu memilih pekerjaan, memilih makanan, sampai memilih pasangan hidup. Memang pertimbangan-pertimbangan objektif tetap perlu diperhatikan, namun pada akhirnya ketika seluruh variabel itu tidak bisa memberikan keputusan, maka nilai rasa lah yang akhirnya kembali mengambil peran.

Sebaliknya juga sama, seringkali kita dalam memilih atau memutuskan sesuatu tidak berani mengikuti naluri dan/atau nilai rasa kita. Kita selalu berlindung di balik objektivitas. Kita lebih memilih diam meskipun diam kita itu menzalimi orang lain, padahal naluri dan nilai rasa kita sudah jelas-jelas menunjukkan apa yang harus kita pilih.

Kalau saja kita mau belajar pada sejarah dan cerita-cerita warisan nenek moyang baik yang fiksi, non fiksi, maupun non fiksi dengan bumbu penyedap, kita akan tahu bahwa banyak keputusan besar yang dibuat dengan mengikuti naluri, dan sebaliknya banyak juga keputusan besar yang tidak diambil karena tidak mau mengikuti naluri dan memilih berlindung di balik rasionalitas dan objektivitas. Kita lihat di kisah Mahabharata misalnya, bagaimana Yudistira tetap ngotot melanjutkan permainan dadu sampai mempertaruhkan keluarganya karena mengikuti tradisi meskipun banyak orang sudah menunjukkan kepadanya kalau itu hal yang jauh dari benar. Kita lihat juga bagaimana para pemuda kita ngotot menculik Bung Karno ke Rengasdengklok tanpa mengindahkan pertimbangan para tokoh-tokoh tua yang masih berusaha objektif dan kooperatif dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya mengedepankan objektivitas dan rasionalitas bukanlah sesuatu yang salah. Justru memang decision making berdasarkan data itu adalah sesuatu yang penting. Namun acapkali situasi mendesak kita untuk mengambil keputusan saat semua pertimbangan objektif itu tidak bisa diperoleh atau sangat sedikit tersedia. Jika berada dalam situasi seperti itu, apakah diam dan tidak menentukan pilihan adalah hal yang benar? Apakah tidak boleh kita mengambil keputusan dengan mengikuti data yang tersedia saja dan memadukannya dengan naluri? Tentu saja tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Tapi satu hal yang jelas, ketika diam kita itu justru menyakiti orang yang tidak bersalah, maka diam adalah pengkhianatan.

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari. Bookmark the permalink.

Leave a comment