Aku, Kau, dan Kue Gandum (6)

Disclaimer: ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, disclaimer di post tersebut berlaku sama di sini šŸ˜€

“Karena ini sudah tahun ke-4, perencanaan jangka menengah kita harus diperbarui sekarang,” kata Bu Kiara waktu memimpin rapat pagi ini. “Arif, kamu yang lead kali ini ya, waktumu 2 bulan,” tambahnya. Oke, ini sudah bukan seperti petir di siang bolong lagi, ini ibarat Ki Ageng Selo yang menangkap petir tapi gagal. Tahu apa aku soal perencanaan, jangankan jangka menengah, merencanakan apa yang harus kulakukan untuk membuat Rina membuka hatinya padaku saja masih gelap. “Les, kamu harus bantu aku ya, mampus aku kalau kamu gak bantuin,” pintaku ke Leles, si rising star dan aktor kunci dalam penyusunan perencanaan jangka menengah 4 tahun yang lalu.

Untung Leles ini selain wajahnya ganteng, hatinya juga tak kalah baik, dibalasnya permintaanku dengan anggukan dan senyumnya yang tidak jelas. “Sebetulnya tidak sulit Rif, yang penting ada 2 hal yang harus kamu amankan dulu,” urainya sambil kita makan lontong kupang di dekat rumah pompa. “Misalnya rumah pompa itu tuh, sebagai pemilik tentunya kamu tahu apakah rumah pompa ini perlu dipertahankan atau tidak, terhubung dengan rumah pompa atau saluran induk mana saja, dan lain-lain. Di sisi lain, sebagai pekerja di rumah pompa ini, tentunya kamu juga tahu kendala-kendala apa yang sehari-hari atau tempo tertentu dihadapi dan apa saja yang dibutuhkan untuk mengatasinya” cerocosnya lebih lanjut. Dijelaskannya panjang lebar bahwa perencanaan itu secara garis besar ada yang bersifat top-down dan bottom-up. Untuk mendapatkan masing-masing bagian itu tantangannya sama sulitnya. Kesulitan pertama adalah mengatur janji dengan manajemen untuk mendiskusikan dan menjaring kebijakan dari mereka selaku para penentu arah, sedangkan yang ke-dua adalah bagaimana membuat semua divisi mau berpartisipasi menyampaikan rencana, proyeksi program kerja, kendala, dan kebutuhan mereka lima tahun mendatang. Kalau dua hal itu berhasil didapatkan, Leles akan membantu drafting dokumennya termasuk segala kalimat pemanis dan pelengkap untuk menebalkan dokumen tersebut.

“Nanti jadi Mas? Ke sini jam berapa?” SMS dari Tika mengingatkan janji nonton konser nanti malam. “Jadi dong, tak jemput di toko jam 7an ya, semoga gak lembur :D.” “Ok, di es campur aja Mas, aku lepas shift jam 6, aku tunggu sana saja”. Kulirik jam kantor hadiah dari sekolah yang siswanya kapan hari magang di sini, masih ada 4 jam menuju jam 6 sore. Hari ini terasa produktif sekali, dalam 4 jam rasanya lebih banyak yang sudah terlaksana daripada 4 hari biasa. Time schedule ala-ala kurva s sudah tersusun, termasuk plot pembahasan arah kebijakan dengan manajemen yang masih tentatif tapi sudah dialokasikan spare dalam rentang 2 minggu. Semua kepala divisi sudah kudatangi, kujelaskan dengan hati-hati tentang kebutuhan untuk dokumen ini, dan mereka juga menyanggupi dalam tenggat waktu 2 minggu, mungkin mereka pada habis nonton film (bukan sinetron) Kiamat Sudah Dekat, makanya suka dengan tenggat 2 minggu. Kata pengantar, penutup, dan daftar isi juga sudah selesai disusun, tanpa isian halaman, hanya struktur kosong, seperti lubang dalam hati pengetiknya, lubang yang penambalannya tak pernah berhasil direncanakan.

“Duluan Les,” pamitku setelah sholat maghrib. “Wih, tumben kamu pulang jam segini, gak malu sama pintu rumah? Temeni aku dulu lah, kurang dikit lagi nih,” balasnya. Kulihat jam masih menunjukkan 18.17, ingin kabur saja tapi daripada nanti dia tidak mau bantu giliran aku yang lembur akhirnya kuiyakan saja. “Jam 18.45 aku cabut ya, ada perlu, penting.” Dia tersenyum gak jelas lagi, “Ciyeee, tumben ada perlu, pasti mau pergi sama cewek ini, oke oke tenang aja, kalau yang begituan sih aku ikut senang Rif.” “Cuma mau nonton konser kok, lagipula ….” “Lagipula apa Rif?” Tanyanya. “Eh endak kok, gakpapa,” jawabku. “Hoooo, yang penting kamu yakin aja Rif, ini bukan dokumen, gak usah kebanyakan rencana,” Pungkasnya sambil tertawa.

Kuintip layar si Leles, dia sedang sibuk utak atik tabel, sepintas judul kolomnya ada IKU dan IKK, kalau sekedar kepanjangannya Indikator Kinerja Utama dan Kunci sih banyak yang tahu, tapi kenapa sebetulnya harus memelihara dua istilah itu padahal substansinya mirip-mirip membuat gatal mata ini. “Apa sih Les bedanya Utama sama Kunci itu?” Akhirnya kutanyakan juga, daripada tidak ada bahan pembicaraan. Dia tertawa ringan, “Gimana ya Rif, sebetulnya sama saja sih, tapi kalau mau dicari bedanya juga bisa. Intinya yang satu itu superset dari yang lain, jadi yang utama itu pasti kunci, sedangkan yang kunci itu belum tentu utama meskipun secara langsung ataupun tidak langsung berhubungan”. “Misalnya nih, ibarat mobil, indikator utama kalau mobil ini berkinerja itu apa? Bisa nyala dan dijalankan dengan baik kan? Sedangkan kelengkapan fungsi elektrikal, kondisi body, kondisi mesin dan lain-lainnya itu juga indikator kunci kinerja mobil, tapi bukan yang utama,” Diterangkannya panjang lebar sambil mata dan jarinya tidak lepas dari mainannya di layar tersebut. “Intinya gitu Rif, mengejar cewek juga gitu, jangan terlalu ribet dengan yang kunci-kunci, kamu harus tahu mana yang utama,” simpulnya, kudengarkan saja petuah bijak dari orang yang sama jomblonya ini sambil manggut-manggut.

Motor sudah kuparkir di tempat es campur, kuarahkan senyum kemenangan ke tukang parkir toko di seberang jalan, lalu berjalan ke meja tempat duduk makhluk manis yang sedang melambaikan tangan sambil memamerkan lesung pipit di samping bibirnya. “Sudah lama?” Tanyaku basa basi. “Belum, tadi masih sempat bantu ceklist ceklist bentar, gantiin Rina, kan dia lagi ke Salatiga,” sahutnya dengan suara khasnya yang merdu itu. Aku duduk di depannya, dia keluarkan 2 kue gandum, disodorkannya sebungkus ke arahku. “Mau langsung berangkat?” Tanyanya. Kuperhatikan lagi dia baik-baik, dia masih memakai baju seragam tokonya, tapi ditutupi dengan jaket biru tua dengan corak putih dan hitam yang senada dengan jilbabnya, kemudian kumengangguk. Setelah menghabiskan kue gandum masing-masing kita segera berangkat ke Go Skate. Setelah masuk, ternyata konsep acaranya dibuat tanpa tempat duduk, dan di sisi kiri kanan serta ujung jauh depan panggung tersedia stan/gerai yang menjual makanan/jajanan/minuman. Akhirnya Tika mengajak duduk di lantai di samping salah satu gerai jajanan. Dari posisi duduk yang sedikit lebih tinggi ini kami tetap bisa melihat penampilan pengisi acara yang ada di panggung.

“Kamu kenapa tidak ajak Rina ke sini Mas?” Tanyanya setelah sekian topik obrolan. “Kan dia ke Salatiga.” “Oh iya ya, berarti sebetulnya kamu mau ajak Rina ke sini ya?” “Lho malah Rina yang saranin ajak kamu,” Jawabku dengan polosnya. “Oh,” Ucapnya pelan, lesung pipit di pipinya sempat hilang sesaat, pesan yang jelas kutangkap kalau aku salah menjawab. “Jadi aku cuma ban serepnya Rina Mas?” Todongnya. Menyusun Indikator Kinerja Kunci 5 Divisi rasanya jauh lebih ringan daripada menyusun jawaban untuk pertanyaan seperti ini. “Lho ya bukan gitu, aku ngajak kamu ya karena kamu suka acara kayak gini kan? Bukan karena Rina yang minta,” Jawabku sehati-hati mungkin, menghadapi dinginnya sikap Rina beberapa waktu terakhir saja rasanya sudah tidak kuat, kalau Tika sampai ikutan diri ini bisa berubah jadi pinguin, ibarat pengajuan anggaran yang ditolak bagian keuangan dan bagian perencanaan bersamaan. Setelah diam sejenak, dia tersenyum lagi, “Ya sudah Mas, gak penting juga, yang penting kan kita nikmati saja momen ini.” Jawaban itu sebetulnya lebih melahirkan banyak pertanyaan, tapi satu hal yang pasti, senyumnya sudah kembali, jadi antrian pertanyaan itu bisa menunggu lain waktu. Obrolan kita pun berlanjut ke hal-hal lain yang lebih ringan sambil menikmati para penghibur di atas panggung. Setelah acara selesai, kita beranjak pulang, di perjalanan obrolan kita kembali berlanjut meski bersaing dengan raung kendaraan lain di jalanan.

“Kamu senang hari ini?” Tanyaku. “Senang lah, apalagi bintang tamunya, cocok banget.” “Sudah gak merasa jadi ban serep kan?” Pertanyaan bodoh itu keluar lagi tanpa direncanakan. Tika tertawa, “Endak kok, kamu masih mikirin pertanyaanku di sana tadi kah?” “Ya… kebetulan terlintas aja.” “Kamu sama Rina ini sebenernya gimana sih?” “Entahlah, aku juga bingung.” “Dia tidak cerita kenapa dia training di Salatiga?” “Tidak, cuma bilang ada training.” “Oh,” Lagi-lagi kalimat singkat itu yang keluar dari bibirnya. Giliran aku yang heran, makin hari rasanya makin banyak saja hal yang tidak kuketahui tentang Rina. Sebenarnya aku yang memang kurang peduli, atau memang dia yang tidak mau bicara, semuanya semakin tidak jelas, seperti obrolan panjang kita di taman kapan hari. Mungkin sudah waktunya aku mengejar jawaban, dengan segala risikonya tentunya. “Mas, itu gangnya terlewat,” Tegur Tika membuyarkan lamunanku. Setelah berbalik ke gang yang benar kemudian menurunkan Tika di depan rumahnya, dia menoleh dan tersenyum, “Mas, makasih ya, sudah lama sejak kerja di toko itu aku ndak ada hiburan, apalagi yang kayak gini.” Lalu dia melambaikan tangan dan berbalik berjalan masuk ke rumahnya. Sepanjang jalan pulang pikiranku berdiskusi panjang antara persoalan Rina, antrian pertanyaan tentang Tika tadi, Bagaimana menghadapi Bu Kiara besok saat ditanya progress, dan tetap fokus melihat jalanan demi menghindari bertemu dengan suster serta dokter di IGD.

(Bersambung)

This entry was posted in Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

1 Response to Aku, Kau, dan Kue Gandum (6)

  1. Pingback: Aku, Kau, dan Kue Gandum (5) | emaerdei

Leave a comment