
“If it sounds too good to be true, it probably is”
Pernah dengar quote seperti di atas? Artinya kurang lebih, “Kalau kedengarannya terlalu muluk, biasanya sih memang begitu”. Meskipun terlihat sederhana, namun membawa diri menjauh dari hal begini terkadang sulit.Untuk yang sederhana mungkin kita bisa menjaga diri dengan baik. Misalnya kalau ada orang tiba-tiba mengaku ahli waris keluarga Mcleod ingin memberi anda investasi 20 Milyar untuk buka toko alat masak, anda akan dengan mudah menolak karena aroma tipu-tipunya kental sekali.Kadang hal seperti ini tidak langsung datang secara terang-terangan. Seringkali kita dipaksa merasakan manfaatnya dulu baru kemudian dicekik belakangan. Contoh paling mudah dari model begini adalah narkoba. Ada juga yang berada di tengah-tengahnya, tidak terang-terangan, tapi tidak juga gratis.
Produk yang dijual terlalu murah dibanding harga pasar produk sejenis misalnya. Bukan berarti produk yang murah pasti menjebak ya, namun itulah pentingnya waspada dan punya sedikit akal sehat. Kalau biaya produksi dan/atau operasionalnya jelas-jelas tidak sebanding dengan harga jualnya, harusnya kita perlu curiga. Produk atau layanan seperti itu umumnya bisa bertahan karena:
1. Itu produk dan/atau layanan penting untuk masyarakat yang disubsidi Pemerintah, misalnya transportasi umum
2. Produk/layanan tersebut sedang membakar uang untuk merebut dan penetrasi pasar (bukan penetrasi lain 🤭)
Kalau kita sudah tahu dan dengan sadar menjadi penggunanya sih ya tidak ada masalah. Tapi kita tentu tahu bahwa akan ada batas uang yang bisa dibakar. Dan jika uang yang bisa dibakar sudah habis, opsi apa yang tertinggal? Ya tentunya biaya produk dan/atau layanan akan bertahap/langsung menyesuaikan atau penurunan kualitas akan dilakukan. Bila kenaikan biaya atau penurunan kualitas itu terjadi, ya bagi orang yang sudah paham risiko ini sejak awal, tidak perlu lah seperti orang kebakaran jenggot ngomel sana-sini macam habis salah top up karena kebanyakan angka nol 🤪. Cukup ambil nafas, tersenyum, dan bilang “Oh, sudah waktunya ya”, atau “Oh, yang dibakar sudah habis ya”.
Bagaimana kalau ternyata produk atau layanan tersebut memang berdampak dan dibutuhkan masyarakat banyak dan jika terhambat berpotensi mendisrupsi (padahal istilah ini juga yang dulu dibangga-banggakan🤭) tata peri kehidupan masyarakat banyak? Ya, mau tidak mau, perlu ada deus ex machina alias pahlawan bertopeng. Misalnya, ada penjual beras yang menjual beras dengan sistem baru dengan harga sangat murah dan banyak bonus. Akhirnya semua penjual beras lain dipaksa bergabung jadi mitra atau gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Setelah “bulan madu” usai, berasnya jadi langka, harga naik luar biasa, dan penjual lain terlanjur tutup.
Ya mau tidak mau perlu ada upaya dari pihak lain untuk menyelesaikan masalah ini. Pihak lain ini bisa Pemerintah, bisa juga bukan. Pemerintah bisa turun tangan dari sisi regulasi, dengan mengatur bagaimana masalah ini bisa selesai untuk semua pihak, dan bagaimana kalau ada calon masalah serupa, tidak diglorifikasi seperti dulu. Pihak non pemerintah bisa apa? Ya bisa dengan mengumpulkan modal dan secara sporadis ataupun sistematis mulai membuka toko beras lagi di setiap daerah. Berikan contoh bagaimana usaha yang sehat dengan perbandingan biaya operasional/produksi dengan harga produk itu dibuat masuk akal sehat, bukan asal pelanggan senang.
Jadi, bagi kita yang masih hanya bisa jadi pengamat, setidaknya ada pelajaran penting yang bisa dipetik. Kalau lain kali ada yang menawarkan produk atau layanan yang begitu enak dan menguntungkan, konsultasilah pada akal sehatmu tiga kali. Kalau masih kurang, konsultasilah juga pada akal sehat orang lain yang punya 😁