Menghabiskan waktu libur dengan mengantar motor ke tempat servis. Sambil mengantre jadi memutar kenangan masa lalu, ini sudah kesekian kalinya menemui situasi yang serupa tapi tak sama. Kondisi yang sama, penuh ketelantaran, namun beda kendaraan saja. Dan rata-rata penyebabnya juga serupa. “Mental juragan” adalah salah satu penyebab utama banyaknya kendaraan milik kantor yang mengalami penelantaran. Apa itu mental juragan? Ya seperti namanya, mental merasa jadi juragan (bos). Akhirnya ya kendaraan asal dipakai saja, tidak mau ikut pusing merawat supaya kendaraannya sehat dan kuat serta bergizi cukup. Orang-orang begini ini ironisnya, sebagian justru dalam hidupnya belum berkesempatan jadi juragan sehingga mumpung yang dipegang barang milik kantor, berlakulah mereka seenak udel tetangga. Kendaraan pokoknya asal bawa, gas pol rem pol, klakson gak bunyi gak greget, pokoknya YOLO (You Only Live Once) dah!
“Kan sudah ada sendiri yang tugasnya nyervis”, kata mereka tanpa dosa bak seorang juragan sejati. Memang betul sih, ada juga orang yang tugasnya merawat kendaraan. Tapi kalau saya yang bikin aturan, juragan newbie model begini bakal saya denda kalau kendaraan harus servis sebelum waktunya gara-gara mereka. Tolok ukurnya sebetulnya sederhana. Anggap saja itu kendaraanmu, apakah kamu akan membawanya sengawur itu? Apakah kamu akan membiarkan bagian-bagian yang rusak terpelihara kerusakannya tanpa diperbaiki? Kalau tidak, mengapa justru itu kau lakukan ke kendaraan orang lain? Masih mending kalau sebaliknya π€Saya ingat betul, duluuu saya pernah meminjam kendaraan teman, dan karena kembali dalam keadaan lumayan kotor tanpa saya cuci, kesalahan itu dibahas teruuus sampai hampir 1 dekade. Apalagi kalau kerusakannya lebih dari kotoran. Harusnya lebih hati-hati memakai barang orang dibanding barang milik sendiri.
Orang-orang dengan mental juragan ini banyak, dan seharusnya bagi pemilik kendaraan bisa jadi catatan red flag. Bayangkan, memelihara barang kantor saja seribu satu malam alasannya, tapi giliran teriak-teriak minta kantor memelihara mereka volumenya udah seperti teriakan tanaman Mandrake di Harry Potter. Red flag berikutnya yang perlu diwaspadai adalah besarnya kadar keculasan dan perilaku berdagang yang tidak seimbang. Kalau kepentingan mereka, dalam hal ini kendaraan mereka sendiri, mereka memuliakannya lebih dari istri. Kalau barang orang lain diperlakukan seperti tisu basah yang tinggal dibuang setelah dipakai.
Kalau kita masih waras dan punya malu, perlakukanlah barang milik orang lain dengan baik. Tak mengeluarkan biaya bukan masalah (meskipun tidak dilarang juga π€), tapi janganlah berkontribusi merusakkannya di luar kewajaran. Kalau mobil sendiri dipacu 80km/h janganlah mobil orang dibejek 140km/h terus. Ingatlah juga, setidak maunya kita keluar biaya, janganlah juga jadi mokondo, kalau memang kotor karena kita pakai, ya cucilah. Jangan juga tinggalkan tangki bensin kosong, apalagi kalau bensin bisa di-reimburse. Dan jangan juga biarkan kerusakan tidak diketahui, apalagi jika bukan kita yang harus membayarnya. Intinya, sebagai manusia kita memang perlu mengasah kepedulian. Kepedulian terhadap barang orang lain yang kita pakai salah satunya. Berharap ada yang peduli sama kita kalau kita tidak peduli dengan orang lain itu seperti dapat takjil gratis. Patut disyukuri, tapi kalau diharapkan terus yaaaa….. gitu deh π
N.B perilaku begini tidak hanya berlaku buat kendaraan, barang apapun milik orang lain punya risiko yang sama, mulai laptop, baju, sampe harga diri π