
Detik-detik jelang dimulainya tahun ajaran baru tahun 2025 ini akan terasa istimewa bagi sebagian masyarakat Indonesia. Babak baru ini juga akan ditandai dengan diresmikannya program terobosan Presiden RI yaitu Sekolah Rakyat. Pihak yang mendukung, pihak yang menentang, maupun para calon siswa dan orang tua tentunya akan sangat menantikan akan seperti apa sekolah ini nantinya. Mengingat 200 lokasi yang akan dibuka tahun ini adalah rintisan yang bersifat sementara, tentunya banyak serpihan-serpihan penasaran akan wujudnya yang terlontar ke permukaan.
Menjawab rasa penasaran tersebut, Kementerian Sosial pada 25 Juni 2025 mengajak para calon siswa dan orangtua datang langsung ke salah satu lokasi rintisan sekolah rakyat di area Margaguna. Selain berdialog, tampak betapa kagetnya para orangtua tersebut ketika diajak melihat-lihat. Sebagian mungkin tidak percaya bahwa fasilitas-fasilitas tersebut akan diterima anak-anak mereka, tanpa biaya tentunya. Bayangkan jika secara permanen sekolah dengan fasilitas sebagus ini dan tanpa biaya bisa diwujudkan di seluruh Kabupaten Kota di Indonesia.
Di luar implementasinya yang menunggu hitungan hari, yang tentunya juga harus diawasi agar tidak menyimpang dari keinginan luhur dan tujuan mulianya, sebenarnya ada banyak hikmah yang bisa kita petik meskipun tidak menjadi bagian dari peserta didik maupun penyelenggara sekolah tersebut. Sekolah Rakyat as a concept memang menawarkan banyak terobosan yang meskipun mungkin tidak baru-baru amat, tapi belum pernah ada yang mengeksekusinya secara masif seperti ini. Terobosan-terobosan inilah yang sebetulnya harus dipetik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang dunia pendidikan kita selama ini. Secara singkat, sekolah rakyat adalah sekolah yang akan mengembalikan anak ke habitatnya, sehingga diharapkan bisa menyelesaikan banyak permasalahan tentang anak, bukan hanya soal pendidikannya.
Hak Mendapat Pendidikan
Dulu, ketika sekolah negeri pun masih belum gratis, pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana mereka yang tidak mampu secara finansial bisa bersekolah. Memang ada beasiswa, tapi beasiswa didominasi untuk dianugerahkan pada mereka yang unggul secara akademik, alias mereka yang pintar. Akhirnya mereka yang tidak unggul secara finansial maupun intelektual akan selalu menambah akumulasi kaum yang termarginalkan secara pendidikan. Ketika angin penggratisan sekolah berhembus, produksi kaum marginal ini diharapkan akan menurun secara signifikan. Meskipun kenyataan kadang pahit, atas nama ketidakcukupan daya tampung, akhirnya tetap saja komposisi siswa sekolah masih didominasi oleh 2 kelompok besar tadi, yang unggul secara finansial, yang unggul secara intelektual, atau yang unggul dalam keduanya. Kemudian, come on, hari ini berapa banyak sekolah yang sebenar-benarnya gratis, yang tidak membebani para siswanya dengan hal-hal berujung biaya dengan berbagai bungkus seperti seragam, buku, ekstra kurikuler, tugas sekolah, project kelas, bahkan acara seperti pentas seni.
Jadi meskipun penggratisan sekolah sudah membantu, masih diperlukan terobosan lain untuk menampung mereka yang tidak unggul secara finansial dan tidak unggul secara intelektual. Di sinilah sekolah rakyat hadir mencoba menjawab hal tersebut. “Yang kami cari bukan yang paling pintar, tapi yang paling membutuhkan”, tegas Menteri Sosial, Saifullah Yusuf dalam satu kesempatan dialog dengan calon siswa dan orangtua di Jakarta. Di sekolah rakyat, jika sesuai dengan janjinya, tidak akan ada biaya serupiahpun akan dikeluarkan oleh siswa sampai mereka lulus nanti. Maka tidak heran ketika dunia pendidikan mulai diterpa aroma industrialisasi dan keglamoran hidup, ketegasan Presiden yang tercermin dari pernyataan Menteri Sosial itu terdengar seperti kabar gembira bagi mereka yang selama ini tersingkirkan dari hak dasar tersebut.
Saluran Energi yang Positif
Anak usia sekolah, apapun generasinya, mulai baby boomers sampai gen alfa, adalah insan-insan yang umumnya sedang banyak-banyaknya memiliki energi. Hasrat besar inilah yang ketika tidak tersalurkan kemudian berpotensi terselewengkan atau bahkan dengan sengaja diselewengkan ke arah yang negatif, bahkan terekskalasi menjadi kriminalitas. Di era sekarang, di mana sarana untuk berkolaborasi semakin mudah diakses, sarana kolaborasi untuk hal-hal negatif juga semakin mudah diakses dan sulit dikendalikan. Semakin teranglah kebutuhan akan wadah bagi mereka untuk menyalurkan energinya yang berlebih tersebut, energi yang tidak cukup dihabiskan di dalam ruang kelas, bahkan pembelajaran di ruang kelas tidak jarang justru menjadi alasan kebutuhan mereka untuk melepaskannya ke dalam aktivitas lain.
Habitat bagi anak adalah di sekolah dan di rumah, ketika habitat itu tidak bisa memberi kepuasan pada mereka, secara natural mereka akan mencarinya di tempat lain. Jika anak tidak bisa menyalurkan passion-nya di sekolah, ketika sekolah tidak memberi dukungan yang sama besar untuk aktivitas non akademik mereka sebesar kepedulian sekolah pada prestasi akademik, dan celakanya support system tersebut juga tidak didapat di rumah dengan berbagai alasan, maka tidak perlu heran ketika kemudian tempat lain akan menampung mereka. Dan seperti kita ketahui bersama, tidak semua “tempat lain” itu baik. Maka ketika anak-anak misalnya ingin bermain sepakbola sepulang sekolah justru kemudian diusir pulang, ketika mereka bermain gitar sambil bernyanyi-nyanyi di lorong sekolah kemudian diusir pulang, dan masih banyak lagi “penyaluran energi dan bakat” mereka yang justru kita bungkam, tidaklah perlu heran saat mereka tiba-tiba terlibat ikut dalam aktivitas-aktivitas yang negatif.
Situasi ini bisa lebih parah ketika ternyata rumah dan lingkungannya tidak berbeda dengan sekolahnya. Ketika mereka yang bermain musik di perkampungan diusir karena bikin ribut, jangan heran kalau mereka kemudian mengamen di jalanan. Ketika mereka yang bermain sepeda dimaki-maki karena dianggap mengganggu lancarnya perjalanan produk otomotif bermesin di jalan yang sama, jangan mengelus dada ketika kemudian mereka ikut balapan liar di jalanan.
Dengan sistem boarding school dan aktivitas yang padat penuh ragam dari bangun tidur sampai tidur lagi, diharapkan sekolah rakyat akan mampu menyerap semua energi berlebih itu dan menghasilkan dampak yang positif. Di sana, anak tidak akan dicetak hanya untuk mengikuti satu pakem tertentu, minat dan bakat mereka akan difasilitasi dengan semaksimal mungkin, sambil tetap diberikan selipan-selipan motivasi yang positif.
Sebenarnya, masih banyak lagi hikmah yang bisa dipetik, mulai dari persoalan kurikulum sampai metode belajar mengajar, tapi untuk saat ini 2 hal itu yang sepertinya sangat perlu mendapat perhatian kita semua. Dan yang paling penting, semoga dalam implementasinya, Sekolah Rakyat akan benar-benar mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut. Semoga cita-cita mulia ini tidak dirusak oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, dan semoga rakyat, sebagai pemilik sekolah rakyat, tidak lelah mengawasi dan memberikan masukan untuk terus menyempurnakan pendidikan kita.
Makan jeruji sambil main voli
Anak penuh energi, janganlah dikebiri