Mulailah Bertanya, Berhenti Berasumsi

Asumsi Itu Membunuh

“Asumsi itu membunuh,” sebuah tulisan di dinding sebuah kantor startup yang saat itu sedang naik daun. Dulu saya hanya memahami tulisan itu sebagaimana yang tertulis, bahkan cenderung skeptis, apa iya asumsi bisa membunuh. Ternyata makin ke sini makin paham bahwa bukan hanya tersurat, makna tersirat dari tulisan itu memang nyata.

Asumsi seringkali memunculkan salah paham, dan tidak ada jurang yang memisahkan dua hati atau lebih dengan begitu dalam selain salah paham. Hal ini berlaku nyaris di mana saja, dalam organisasi, kantor, sekolah, bahkan rumah tangga. Banyak hal yang semestinya tidak menjadi masalah justru kemudian menjadi masalah karena satu atau lebih pihak memiliki asumsi dan memupuk asumsi tersebut sampai subur dan diyakini sebagai kebenaran.

Di sekolah misalnya, ada seorang anak yang setiap kali pulang sekolah tidak pernah mau diajak nongkrong dan selalu bergegas pulang. Akhirnya teman temannya berasumsi kalau dia tidak mau bergaul, lama-lama kemudian dia dicap sombong. Padahal sebenarnya anak tersebut bukan tidak mau bergaul, dia hanya bergegas pulang karena sepeda yang dipakainya harus segera dibawa pulang karena bergantian dengan kakaknya yang sekolah siang. Tapi apa daya asumsi dan tuduhan tersebut sudah terlanjur berkembang.

Di kantor juga begitu, ada orang yang tidak pernah mau diajak ngopi dan cenderung sibuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Akhirnya dia dianggap workaholic dan ingin cepat mengejar prestasi. Padahal alasannya tidak mau ngopi hanya karena dia memang tidak suka minum kopi dan dia merasa minder karena tidak punya banyak bahan obrolan kalau nongkrong. Kedua pihak yang sama sama memelihara asumsinya masing-masing pun akhirnya tidak pernah bertemu.

Contoh di atas hanya contoh kecil, prakteknya, seringkali asumsi yang dipelihara ini kemudian memicu konflik dan prasangka buruk. Padahal terkadang kenyataan dan kebenarannya justru jauh dari yang dikembangkan. Itulah pentingnya bertanya, jika tidak berani atau tidak mau bertanya, lebih baik jangan berasumsi sendiri. Terkadang motif orang untuk melakukan atau sesuatu atau mengambil sebuah sikap sangat sederhana. Bahkan seringkali motif tersebut akan dengan mudah terjawab dalam satu pertanyaan saja, seandainya kita mau bertanya.

Yang terpenting ketika bertanya adalah kesiapan untuk menerima jawaban. Kita harus siap menerima seandainya jawaban yang diberikan ternyata jauh dari dugaan kita. Kita harus bertanya dengan niat mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran. Ingat bahwa kita hendak mencari informasi, bukan sedang melakukan audit atau penyelidikan, jadi bertanyalah dengan santai, dan terimalah jawabannya dengan sama santainya.

Dalam pekerjaan lebih teknis sebetulnya hal ini juga berlaku. Misalnya dalam sebuah perencanaan, sah-sah saja kita menggunakan asumsi. Tapi menjadi keliru ketika kita berhenti sampai di sana. Segala asumsi yang dibuat tentunya juga harus didukung dengan data yang menguatkan asumsi tersebut. Dan jika ternyata data yang didapat mengatakan sebaliknya, kita harus legowo untuk mengkoreksi asumsi tersebut. Seringkali, ketidakmauan untuk mengakui kesalahan asumsi ini kemudian mendorong kita untuk melakukan rekayasa dan mencari pembenaran, hal yang justru akan membawa kita semakin jauh dari kebenaran itu sendiri.

Contoh lain ketika misalnya sebuah aplikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Acapkali kita mengembangkan asumsi yang bermacam-macam. Mulai dari jaringan yang dianggap bermasalah, server yang dituduh kurang mumpuni, database yang dikira keliru, sampai tuduhan personil yang tidak cakap. Sebetulnya sah-sah saja, asal kita mau mengeluarkan effort untuk mengkonfirmasi asumsi-asumsi tersebut. Jika tidak, maka asumsi-asumsi tersebut hanya akan jadi tuduhan liar yang mungkin bisa mengancam keselamatan pekerjaan orang lain. Di tahap inilah asumsi kemudian bisa benar-benar membunuh, meskipun tidak membunuh jiwa, namun membunuh karir seseorang atau sekelompok orang.

Jadi, sebelum berasumsi, tanyalah dulu pada diri kita sendiri, siapkah kita dengan kebenarannya? Jika tidak siap mencari kebenarannya, sebaiknya tidak perlu menyia nyiakan umur dengan memelihara asumsi yang bermacam macam. Dan jika asumsi liar itu kemudian menyebabkan kerugian pada orang lain, siap siap saja menanggung dosanya, kalau masih percaya.

This entry was posted in Celoteh, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a comment