Leiden is lijden
Haji Agus Salim
Di atas adalah kalimat singkat legendaris dari salah satu tokoh besar bangsa kita, Haji Agus Salim. Artinya kurang lebih adalah “Memimpin adalah menderita”. Prinsip tersebut bisa dijabarkan sampai panjang lebar, tapi tetap pada akhirnya kalimat tersebut telah menerjemahkan dirinya sendiri. Semanis apapun kita membungkusnya, sesungguhnya jika seorang pemimpin benar-benar menjalankan tugasnya, maka dia akan menderita, persoalan bagaimana dia menikmati atau mengutuk penderitaan tersebut tentunya adalah persoalan lain. Itulah sebabnya makin sulit menemukan seorang pemimpin, atau istilah keren masa kininya leader yang setaraf beliau di masa ini.
Coaching-coaching, seminar motivasi, leadership training, dan acara sejenisnya di era modern ini seringkali mengedepankan sebuah konsep yang disebut dengan transformational leadership atau kepemimpinan transformasional. Ini adalah konsep kepemimpinan yang berorientasi pada peran utama seorang pemimpin untuk membawa perubahan, dengan berbagai bentuknya. Konsep ini tentunya bagus, mengikuti perkembangan zaman yang selalu berubah, maka sejatinya sebuah organisasi juga harus bisa mengikuti perubahan tersebut. Proses-proses perubahan itu tentunya tidak lepas dari peran seorang pemimpin sebagai dirijen atau inspirator dalam perubahan itu.
Namun ada satu hal yang perlu dikritisi dari materi-materi atau slide-slide presentasi yang menjabarkan konsep ini. Banyak yang menterjemahkan kepemimpinan transformasional ini dengan lebih fokus kepada sosok seorang pemimpinnya dengan berbagai fitur atau sikap yang harus dimilikinya. Seorang pemimpin lebih dituntut untuk memiliki sikap-sikap yang humanis, baik, penuh keteladanan, dan sebagainya sehingga konsep perubahan yang dia tawarkan bisa diterima dengan baik oleh orang-orang yang dipimpinnya.
Memang konsep itu tidak salah, tapi perubahan yang dilatarbelakangi oleh kekaguman pada sosok pemimpin biasanya hanya akan bertahan selama pemimpin itu masih ada. Setelah pemimpin tersebut lenyap, maka perubahan-perubahan tersebut akan lenyap bersamanya. Sudah terlalu banyak organisasi/perusahaan di dunia ini yang bisa kita jadikan contoh bagaimana sebuah organisasi bisa runtuh seiring hilangnya pemimpin mereka. Mulai dari kerajaan jaman dahulu sampai tim sepakbola seringkali menunjukkan bagaimana sebuah kejayaan akan pudar seiring hilangnya sosok pemimpin di sana.
Lantas apakah menjadi pemimpin yang menginspirasi perubahan melalui kelebihan-kelebihan persona itu salah? Tentunya tidak. Yang salah adalah ketika itu menjadi tujuan utama yang kemudian diglorifikasi. Padahal sesungguhnya seorang pemimpin yang berhasil itu adalah pemimpin yang tidak dibutuhkan. Pemimpin yang hebat adalah ketika dia bisa membuat sebuah perubahan memiliki daya tahan yang lama bahkan setelah dia lenyap. Tentunya melakukan itu tidak cukup hanya dengan melakukan pendekatan personal ataupun memberikan teladan saja. Agar sebuah perubahan menjadi long lasting, tentunya yang perlu diubah adalah hal-hal yang lebih fundamental dan sistemik.
Perubahan-perubahan tersebut perlu juga untuk dilegal formalkan sehingga akan menjadi sebuah kebijakan yang mengikat. Mulai dari Visi misi organisasi, culture of service, standar punishment and reward, SOP, sampai dengan buku saku standar pelayanan harus diupayakan untuk mendukung arus perubahan yang baik. Sehingga boleh-boleh saja seorang pemimpin itu sosoknya dirindukan karena nilai tambah yang dirasakan dengan kehadirannya. Namun jauh lebih penting bagi seorang pemimpin untuk menaikkan standar kinerja seluruh organisasi dalam setiap ketidakhadirannya. Dengan begitu kerinduan orang-orang yang dipimpinnya dalam setiap ketidakhadirannya tidak akan berakibat buruk pada kinerja organisasi.
Kita bisa melihat pada organisasi-organisasi besar yang sudah bertahan sampai lebih dari satu abad. Apakah mungkin dalam kurun waktu selama itu mereka begitu beruntung mendapatkan sosok pemimpin dengan persona yang penuh dengan kelebihan secara terus menerus? Tentunya banyak hal lain yang membuat mereka tetap bertahan selain hanya faktor persona pemimpinnya. Hal-hal lain inilah yang seharusnya lebih menjadi fokus utama seorang pemimpin. Bagaimana meninggalkan sebuah legacy jauh lebih penting daripada bagaimana mencapai masa jaya di masa kepemimpinannya.
Memang risiko yang mengintai saat ingin meninggalkan legacy itu macam-macam mulai dari pekerjaan yang terasa jauh lebih berat, kurang mendapatkan spotlight di panggung, menderita, makan hati, dan belum tentu hasilnya bisa kita lihat secara langsung. Namun itu akan memiliki impact yang jauh lebih besar dan bertahan lama, tentunya dengan catatan apabila berhasil. Itulah juga mungkin banyak pemimpin yang tidak berani mengambil risiko untuk melakukan perubahan seperti ini, jauh lebih mudah untuk melakukan perubahan dengan menonjolkan kelebihan persona, kecakapan berkomunikasi, dan sikap yang simpatik dibandingkan menghabiskan daya dan upaya di belakang untuk membangun fondasi perubahan sambil tetap berada di depan menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.
Apakah mungkin seorang pemimpin bisa menjadi inspirator perubahan melalui kelebihan personanya sekaligus membangun fondasi perubahan yang sistemik? Ya bisa saja, hidup ini bukan melulu soal dua pilihan yang harus dipertentangkan. Kalau memang seseorang mau mengeluarkan effort yang lebih, bukan mustahil menjadi sosok pemimpin yang secara perilaku kerjanya dicintai dan menginspirasi perubahan, sambil di saat yang sama juga mencurahkan energi hawa murni paruh bangau dan kamehamehanya untuk membangun fondasi dan pagar-pagar untuk menjaga keberlangsungan perubahan-perubahan yang telah dilakukan.
You cannot shake hands with a clenched fist
Indira Gandhi